Oleh Ha Er-rui |
Peneliti Tiongkok telah merilis atlas geokimia sedimen dasar laut pertama di perairan timur negara tersebut. Langkah ini, menurut analis, menandakan meningkatnya fokus Beijing pada mineral kritis, klaim maritim, dan kemampuan strategis bawah laut.
Atlas yang diterbitkan pada bulan April oleh Badan Survei Geologi Tiongkok ini mencakup Laut Bohai, Laut Kuning, dan Laut Tiongkok Timur, serta didasarkan pada data sedimen permukaan yang terukur dan data pembelajaran mesin dari lebih dari 20.000 stasiun, menurut Xinhua. Peneliti menggunakan data tersebut untuk memetakan distribusi berbagai unsur di dasar laut.
Peneliti memetakan distribusi dan konsentrasi puluhan unsur, termasuk besi, mangan, tembaga, dan logam tanah jarang. Peneliti menyebut atlas itu “peta navigasi” untuk pengembangan kelautan dan perlindungan lingkungan di wilayah tersebut.
Namun atlas tersebut tidak mencakup Laut Tiongkok Selatan.
![Tangkapan layar CCTV memperlihatkan sistem robot bawah air yang diluncurkan dari kapal penelitian Tiongkok Hai Yang Di Zhi Jiu Hao saat misi eksplorasi laut dalam. [CCTV]](/gc9/images/2026/05/28/56334-2-370_237.webp)
Pemetaan dasar laut
Atlas ini “dapat memfasilitasi penargetan sumber daya mineral dasar laut yang lebih tepat, sehingga mengurangi eksplorasi yang membabi buta", kata Dou Yanguang, peneliti di Institut Geologi Kelautan Qingdao di bawah Badan Survei Geologi Tiongkok dan salah satu penyusun studi itu. Laporan itu menyatakan bahwa atlas ini menyediakan “data presisi untuk mendukung perencanaan tata ruang regional, perlindungan ekologi, dan eksplorasi sumber daya.”
Namun, dominasi Tiongkok atas rantai pasokan logam tanah jarang dan mineral kritis telah memicu kekhawatiran terkait nilai strategis data tersebut, terutama karena Beijing telah berulang kali menggunakan pembatasan ekspor sebagai alat kebijakan.
Pemetaan dasar laut semacam ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan ilmiah maupun militer, terutama dengan meningkatkan pemahaman Tiongkok mengenai topografi dan kondisi di bawah laut, demikian disampaikan Bruce Jones, pakar urusan angkatan laut dan kebijakan luar negeri dari Brookings Institution, kepada The New York Times pada bulan April.
Ambisi militer
“Pemetaan semacam ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan ilmiah, dan juga untuk keperluan militer,” kata Jones. “Ini proyek eksplorasi logam tanah jarang, proyek ilmiah, sekaligus proyek strategis.”
“Tiongkok berinvestasi besar-besaran untuk menjadi kekuatan kelautan terkemuka, mengejar Amerika Serikat sekaligus mengembangkan kemampuan militernya dan membangun pengetahuan yang diperlukan untuk perang bawah laut,” kata Jones.
Tiongkok menggunakan kegiatan ilmiah dan konservasi untuk memperkuat klaimnya atas perairan sengketa, kata Sun Yun, peneliti di Stimson Center yang berbasis di Washington.
Dengan merilis atlas tersebut ke publik, katanya, “Tiongkok menyatakan bahwa mereka menguasai wilayah maritim ini.”
Tiongkok telah mengajukan usulan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperluas klaim landas kontinennya melampaui batas standar dengan menggunakan bukti geologis, sebuah langkah yang menurut Jepang melanggar Zona Ekonomi Eksklusifnya.
Klaim semacam itu memberi dorongan besar bagi upaya eksplorasi laut, kata Larry Mayer, direktur Pusat Pemetaan Pesisir dan Laut di Universitas New Hampshire, kepada The New York Times.
Kapal eksplorasi laut dalam Tiongkok terlihat di dekat Kepulauan Aleutian, Alaska, sementara Beijing dilaporkan menguji peralatan penambangan dasar laut di laut yang diklaim oleh Filipina dan Taiwan.
Sengaja tidak menyertakan Laut Tiongkok Selatan
Cakupan geografis atlas tersebut mungkin memiliki makna hukum dan geopolitik, demikian menurut beberapa analis.
Pengecualian Laut Tiongkok Selatan dalam atlas tersebut mungkin dilakukan dengan sengaja, demikian ditulis oleh Wang Zhe-ren, asisten peneliti di INDSR Taiwan, dan Hung Ming-te, peneliti di INDSR, di situs lembaga tersebut.
Mereka mengutip putusan arbitrase Laut Tiongkok Selatan tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Mahkamah Arbitrase Den Haag, yang menolak klaim “garis sembilan putus-putus” Beijing. Putusan tersebut mendorong Tiongkok untuk mengalihkan fokusnya ke Laut Tiongkok Timur dan Laut Kuning, yang belum ada putusan dari mahkamah internasional, kata mereka.
Perebutan sumber daya
Menurut IEA, Tiongkok menyumbang hampir dua pertiga dari produksi penambangan logam tanah jarang global dan 92% dari produksi olahan global. Jepang dan Amerika Serikat sedang gencar mengembangkan sumber daya laut dalam untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan Tiongkok, dengan saling mendukung upaya penambangan dasar laut negara lainnya.
Jepang mengumumkan terobosan besar dalam pengembangan logam tanah jarang di laut dalam awal tahun ini, dengan mengekstraksi lumpur kaya logam tanah jarang dari kedalaman yang melampaui 6.000 meter—yang disebut Tokyo sebagai yang pertama di dunia.
Pemerintah AS juga menjadikan penambangan dasar laut sebagai prioritas. AS berupaya menerbitkan izin penambangan di beberapa wilayah dekat teritori Pasifik, termasuk Samoa Amerika. Tindakan ini menegaskan semakin sengitnya persaingan geopolitik terkait mineral kritis di laut dalam.
![Tangkapan layar dari China Central Television (CCTV) memperlihatkan kapal penelitian Tiongkok Hai Yang Di Zhi Jiu Hao (Marine Geology No. 9) sedang menarik meriam udara seismik bertekanan tinggi saat survei geologi kelautan. Kapal itu membawa perlengkapan survei dasar laut, pengambilan sampel geologi, dan penelitian sumber daya laut dalam. [CCTV]](/gc9/images/2026/05/28/56333-research_vessel-370_237.webp)