Oleh Wu Qiaoxi |
Jepang sedang mengembangkan wahana bawah air otonom baru yang akan dioperasikan pada tahun fiskal 2028, untuk meningkatkan efisiensi survei laut dalam dan mendukung kegiatan ekstraksi komersial di masa depan.
Program ini dibangun berdasarkan keberhasilan Jepang baru-baru ini mengambil sedimen yang mengandung logam tanah jarang dari kedalaman sekitar 6.000 meter di bawah permukaan.
Tokyo menargetkan untuk memulai penambangan komersial lumpur logam tanah jarang dari dasar laut di dekat Pulau Minami-Torishima sekitar tahun 2030. Pada bulan Februari, kapal penelitian Badan Sains dan Teknologi Kelautan-Kebumian Jepang (JAMSTEC) Chikyu mengambil sedimen kaya logam tanah jarang dari dasar laut dengan kedalaman sekitar 6.000 meter di dekat pulau itu, sekaligus mencetak rekor dunia untuk pengambilan logam tanah jarang dari dasar laut terdalam.
JAMSTEC sedang mengembangkan wahana laut dalam nirawak baru yang mampu melakukan survei kecepatan tinggi sekaligus stasioner di kedalaman laut, demikian dilaporkan Sankei Shimbun Jepang. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi survei sumber daya secara signifikan.
![Alat berat digunakan selama sesi pelatihan di Sekolah Mineral dan Perminyakan Greenland di Sisimiut, Greenland, pada 2 Februari. Jepang berencana mengirim delegasi ke Greenland untuk menilai potensi penambangan logam tanah jarang di pulau tersebut. [Ina Fassbender/AFP]](/gc9/images/2026/06/18/56674-afp__20260202__94vh9cq__v1__highres__greenlanddenmarkusnatopoliticsminerals-370_237.webp)
Wahana ini mampu menyelam dengan kemiringan sekitar 60 derajat, dan mencapai kedalaman operasional 6.000 meter hanya dalam waktu 1,5 jam. Pemerintah Tokyo telah mengalokasikan anggaran lima tahun sekitar ¥8 miliar ($49,8 juta) untuk pengembangan wahana tersebut.
Tekanan dari Tiongkok
Kekhawatiran Jepang terkait gangguan pasokan logam tanah jarang semakin meningkat sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi menyampaikan pernyataan terkait “skenario darurat Taiwan” pada November lalu. Sebagai balasan, Beijing memperketat pembatasan ekspor logam tanah jarang mulai Januari. Data perdagangan menunjukkan bahwa ekspor logam tanah jarang Tiongkok ke Jepang turun lebih dari 80% (yoy) baik pada bulan Maret maupun April. Tiongkok memproduksi sekitar 70% dari total logam tanah jarang dunia dan menguasai sekitar 90% kapasitas pengolahan dan pemurnian global.
Produsen utama magnet Jepang, Shin-Etsu Chemical, berhenti menerima pesanan baru untuk magnet yang mengandung disprosium, menurut seorang pelanggan dari Barat yang enggan disebutkan namanya. Perusahaan itu menolak memberikan komentar. Reuters melaporkan bahwa perusahaan itu berencana membangun pabrik pengolahan baru untuk memperkuat stabilitas pasokan, dengan investasi yang diperkirakan melebihi ¥35 miliar ($217,5 juta) dan sekitar separuhnya ditanggung oleh subsidi pemerintah.
Gangguan pasokan tidak terbatas pada logam tanah jarang. Ekspor tungsten Tiongkok ke Jepang turun hingga mendekati nol antara Februari dan April, demikian dilaporkan Kyodo News. Tungsten banyak digunakan dalam industri otomotif dan manufaktur presisi, sehingga perusahaan Jepang terpaksa mencari pemasok alternatif karena harganya melonjak hingga lebih dari tiga kali lipat dari level sebelumnya.
Guncangan pasokan
Jepang menghadapi krisis pasokan logam tanah jarang serupa pada 2010 setelah terjadi tabrakan antara beberapa kapal Tiongkok dan Jepang di dekat Kepulauan Senkaku. Tiongkok menghentikan ekspor logam tanah jarang ke Jepang, sehingga mengganggu rantai pasokan di sektor teknologi canggih dan otomotif.
Jepang telah mengurangi kerentanannya sejak krisis logam tanah jarang tahun 2010 dengan memadukan diversifikasi pasokan, penelitian material pengganti, dan “tindakan efektif berdasarkan aturan perdagangan internasional,” tulis Kunihiko Shinoda, profesor di Institut Pascasarjana Nasional untuk Studi Kebijakan Jepang, dalam jurnal East Asian Quarterly edisi Maret. Pangsa impor logam tanah jarang Jepang dari Tiongkok turun dari sekitar 90% pada 2010 menjadi di bawah 60% pada 2020.
Shinoda mencatat bahwa Undang-Undang Promosi Keamanan Ekonomi Jepang tahun 2022 menetapkan mineral kritis sebagai “barang kritis yang ditetapkan” dan menetapkan target kuantitatif hingga tahun 2030 untuk litium, nikel, kobalt, grafit, dan logam tanah jarang, dengan hasil konkret yang mulai terlihat.
Upaya Jepang untuk menambang logam tanah jarang di dekat Minami-Torishima mencerminkan kekhawatiran atas meningkatnya persaingan geo-ekonomi di Indo-Pasifik serta kebutuhan untuk membangun cadangan strategis, kata Takahiro Kamisuna, pakar Jepang di International Institute for Strategic Studies yang berbasis di London.
Cadangan tersebut dapat memperkuat ketahanan ekonomi Jepang dan mengurangi kemampuan Tiongkok untuk “menyalahgunakan kendalinya atas pengolahan logam tanah jarang,” katanya.
Jadi, proyek ini harus dipandang sebagai “strategi diplomasi dan ekonomi” daripada sekadar rencana pertambangan komersial konvensional, kata Kamisuna.
Upaya diversifikasi
Jepang sedang menjajaki kemitraan di luar negeri untuk mendiversifikasi sumber pasokan. Tokyo berencana mengirimkan delegasi ke Greenland pada musim panas ini untuk menilai potensi penambangan logam tanah jarang, demikian dilaporkan Nikkei.
Greenland diperkirakan memiliki cadangan logam tanah jarang sebesar 1,5 juta ton, yang merupakan cadangan terbesar kedelapan di dunia, sehingga menjadikannya sumber alternatif potensial di tengah upaya Jepang untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan Tiongkok. Belum ada penambangan logam tanah jarang yang dilakukan di pulau tersebut.
Masalah ini telah masuk ke dalam agenda G7. Para pemimpin sepakat pada 17 Juni untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok logam tanah jarang dan magnet permanen non-G7 hingga di bawah 60% pada 2030. Blok tersebut berkomitmen untuk mengoordinasikan cadangan dan pemantauan rantai pasokan guna mengurangi gangguan di masa depan.
![Pulau Minami-Torishima, lokasi yang direncanakan Jepang untuk penambangan logam tanah jarang di dasar laut, terlihat dalam citra satelit Airbus yang diambil pada 23 April 2023. [Google Earth]](/gc9/images/2026/06/18/56673-islandjapan-370_237.webp)