Oleh Ha Er-rui |
Penemuan perangkat pemantauan bawah laut Tiongkok di selat strategis Indonesia kembali memicu perhatian terhadap upaya Beijing dalam membangun jaringan sensor. Para analis menilai jaringan ini dapat membantu Tiongkok melacak kapal selam di sejumlah jalur maritim strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Seorang nelayan Indonesia menemukan objek berbentuk torpedo sepanjang 3,7 meter tersebut di perairan dekat Selat Lombok pada April lalu, lapor Australian Broadcasting Corp. (ABC). Pada badan objek tersebut terdapat tulisan aksara Mandarin sederhana dan tanda “CSIC” dari China Shipbuilding Industry Corp.
ABC melaporkan bahwa analis pertahanan maritim, HI Sutton, mengidentifikasi perangkat tersebut sebagai Sistem Tambat Transmisi Data Waktu Nyata Laut Dalam, yang dilengkapi sensor untuk mengumpulkan data dari lingkungan sekitarnya.
Temuan itu kemungkinan merupakan bagian dari Program Laut Transparan Tiongkok, sebuah sistem yang kerap dijuluki sebagai “Tembok Besar Bawah Laut” Tiongkok.
![Perangkat berbentuk torpedo yang ditemukan di dekat Selat Lombok pada 6 April lalu kini sedang diselidiki oleh otoritas Indonesia. Sejumlah analis menilai perangkat tersebut kemungkinan terkait dengan jaringan pemantauan bawah laut Tiongkok. [AFP]](/gc9/images/2026/06/05/56455-device-370_237.webp)
![Peta tahun 2019 yang dirilis oleh Universitas Kelautan Tiongkok menunjukkan lokasi pemantauan dalam jaringan “Dua Samudra dan Satu Laut,” yang mencakup Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan Laut Tiongkok Selatan. Sejumlah lokasi berada di dekat Selat Luzon antara Taiwan dan Filipina. [Universitas Kelautan Tiongkok]](/gc9/images/2026/06/05/56456-2-370_237.webp)
Memetakan laut dalam
Oseanografer Tiongkok, Wu Lixin, memaparkan program tersebut pada tahun 2014, menurut ABC. Ia mengusulkan pembangunan sistem observasi tiga dimensi waktu nyata yang mencakup Pasifik Barat, Samudra Hindia, dan Laut Tiongkok Selatan. Para peneliti Tiongkok menyebut kawasan luas tersebut sebagai “dua samudra dan satu laut.”
Wu mengusulkan jaringan empat lapisan yang ambisius, yang akan terhubung dengan platform kecerdasan buatan bernama "Deep Blue Brain" untuk memproses data yang dikumpulkan.
Dalam pembaruan laporan pada tahun 2020, Wu dan rekan-rekannya menyatakan program tersebut telah menghasilkan berbagai terobosan penelitian. Saat itu, Tiongkok telah menempatkan lebih dari 100 pelampung di laut dan sistem tambat bawah laut di seluruh kawasan “dua samudra dan satu laut,” katanya.
Data penggunaan ganda
Sistem-sistem tersebut memiliki kegunaan ilmiah sipil, tetapi kebijakan “gabungan militer-sipil” Tiongkok dapat mengarahkan data yang diperoleh untuk kepentingan militer, kata Ryan Martinson dari U.S. Naval War College kepada ABC News.
Tulisan dan pidato Wu menunjukkan “proyek ini didorong, setidaknya sebagian besar, oleh keinginan untuk menerapkan pemahaman mengenai dinamika lautan ke dalam operasi angkatan laut, khususnya peperangan kapal selam dan anti-kapal selam,” ujarnya. Martinson menegaskan pandangan tersebut merupakan pendapat pribadinya dan bukan sikap resmi pemerintah AS.
Program itu juga mendukung kepentingan Beijing dalam mengeksploitasi sumber daya laut dalam, terutama mineral dasar laut di perairan internasional, katanya.
Beijing memandang kemampuan peperangan bawah laut Amerika Serikat, khususnya kapal selam dan kemampuannya mendeteksi kapal selam Tiongkok, sebagai kelemahan strategis yang harus diatasi, kata Jennifer Parker, seorang profesor madya di University of Western Australia dan mantan perwira Angkatan Laut Australia.
“Tiongkok telah berupaya meningkatkan kesadaran domain bawah laut mereka, yakni kemampuan untuk memahami apa yang terjadi di kolom air dan juga mendeteksi kapal selam,” ujarnya kepada ABC.
Variabel seperti suhu dan salinitas air “memberikan indikasi seberapa efektif sonar Anda dan seberapa jauh suara dapat merambat,” kata Parker.
Beijing menepis kekhawatiran tersebut pada bulan April. “Bukan hal yang aneh jika peralatan penelitian laut hanyut ke perairan teritorial negara lain akibat kerusakan atau alasan lainnya,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok kepada ABC.
Jalur maritim strategis Indo-Pasifik
Selat Lombok, yang terletak di antara Pulau Lombok dan Bali, lebih dalam dan lebih lebar dibandingkan Selat Malaka. Selat ini merupakan salah satu dari sedikit jalur yang cukup dalam bagi kapal selam untuk melintas antara perairan Australia dan Laut Tiongkok Selatan tanpa harus muncul ke permukaan.
Tiongkok telah menggunakan puluhan kapal riset dan ratusan sensor, dengan kedok penelitian perikanan dan eksplorasi mineral, untuk memetakan jalur-jalur perairan penting di sekitar Guam, Hawaii, Filipina, dan Selat Malaka, lapor Reuters pada bulan Maret, mengutip para analis keamanan dan data pelacakan kapal.
Laporan tersebut menggambarkan upaya itu sebagai “pemetaan dasar laut dalam persiapan menghadapi peperangan kapal selam dengan Amerika Serikat.”
"Rantai pulau pertama" -- busur wilayah yang membentang dari Jepang melalui Taiwan dan Filipina hingga Laut Tiongkok Selatan — secara luas dipandang sebagai garis pertahanan utama bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Reuters mengutip presiden Australian Naval Institute, Peter Leavy, yang mengatakan Tiongkok “paranoid terhadap kemungkinan terjebak di dalam Rantai Pulau Pertama” dan jelas memiliki “keinginan untuk memahami domain maritim agar dapat menembusnya.”
Marcus Hellyer, kepala penelitian Strategic Analysis Australia, mengatakan kepada ABC bahwa upaya pengintaian Tiongkok bermula di perairan dekat pantainya sebagai bagian dari strategi anti-akses dan penyangkalan area (A2/AD) yang bertujuan mendeteksi kapal selam AS dan sekutunya dalam potensi konflik terkait Taiwan. Namun, seiring berkembangnya armada laut lepas Tiongkok, negara itu membutuhkan kesadaran domain bawah laut yang jauh dari wilayah asalnya.
Mengikis kemampuan siluman kapal selam
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sedang membangun “jaring tak terlihat” di seluruh Pasifik Barat melalui Program Laut Transparan — sebuah arsitektur sensor lima lapis yang dirancang untuk menghadapi kemampuan kapal selam AS dan sekutunya dalam bermanuver dan bersembunyi, menurut analisis Defense One tahun lalu.
Menurut analisis itu, peningkatan jaringan sensor akan mempersempit ruang gerak kapal selam sekutu untuk bersembunyi dari deteksi.
Meski demikian, para pemimpin Angkatan Laut AS menilai keunggulan bawah laut Amerika masih tetap bertahan. Kapal selam AS tetap menjadi aset penting bagi sekutu karena “dapat tetap tersembunyi dan beroperasi dalam waktu lama di perairan yang sangat diperebutkan,” menurut ringkasan opini Wakil Laksamana Richard Seif, komandan pasukan kapal selam Angkatan Laut AS, yang dilansir Straight Arrow News pada bulan Maret.
Menurut Seif, dampak yang paling mungkin terjadi dari upaya Tiongkok ini adalah berkurangnya margin keunggulan siluman AS “di sejumlah jalur pendekatan dan jalur maritim strategis tertentu.” Namun, ia menilai kecil kemungkinannya Tiongkok akan berhasil menciptakan transparansi penuh di bawah laut.
![Polisi Indonesia mengevakuasi perangkat berbentuk torpedo yang ditemukan di dekat Selat Lombok pada 6 April (kiri). Foto jarak dekat (kanan) memperlihatkan tanda “CSIC” milik China Shipbuilding Industry Corp. serta tulisan berbahasa Mandarin yang mengidentifikasi sebuah unit penelitian. [Polres Lombok Utara/AFP]](/gc9/images/2026/06/05/56457-1-1-370_237.webp)