Kapabilitas

Australia perkuat pengawasan maritim seiring meningkatnya aktivitas AL Tiongkok di Indo-Pasifik

Australia telah merampungkan armada P-8A Poseidonnya dan menandatangani kontrak pengawasan udara baru.

Pesawat P-8A Poseidon ke-14 dan terakhir Australia disambut penghormatan meriam air oleh petugas pemadam kebakaran penerbangan saat tiba di Pangkalan RAAF Edinburgh di Australia. Pesawat ini melengkapi armada patroli maritim AU Australia. [Kemenhan Australia]
Pesawat P-8A Poseidon ke-14 dan terakhir Australia disambut penghormatan meriam air oleh petugas pemadam kebakaran penerbangan saat tiba di Pangkalan RAAF Edinburgh di Australia. Pesawat ini melengkapi armada patroli maritim AU Australia. [Kemenhan Australia]

Oleh Zarak Khan |

Australia memperkuat kemampuan anti-kapal selam dan pengawasan maritimnya seiring meningkatnya kehadiran angkatan laut dan aktivitas kapal selam Tiongkok di Indo-Pasifik.

Pesawat Boeing P-8A Poseidon ke-14 dan yang terakhir tiba pada 27 Mei, lima hari setelah Australia mengumumkan kontrak pengawasan udara baru dengan perusahaan kontraktor pertahanan AS untuk memperkuat pengintaian maritim dan keamanan perbatasan.

Inisiatif ini menegaskan upaya yang lebih luas untuk meningkatkan daya tangkal dan keawasan matra laut seiring perluasan jangkauan operasional AL Tiongkok (PLAN) di Indo-Pasifik, termasuk di perairan yang penting bagi keamanan Australia.

Lebih banyak patroli anti-kapal selam

AU Australia telah menerima pesawat patroli maritim P-8A Poseidon buatan Boeing yang ke-14 dan terakhir.

Personel Angkatan Udara Australia dan Jepang melaksanakan operasi pertukaran informasi yang melibatkan pesawat P-8A Poseidon milik Australia dan pesawat Kawasaki RC-2 milik Jepang di Samudra Pasifik pada 30 Mei. [X/RAAF]
Personel Angkatan Udara Australia dan Jepang melaksanakan operasi pertukaran informasi yang melibatkan pesawat P-8A Poseidon milik Australia dan pesawat Kawasaki RC-2 milik Jepang di Samudra Pasifik pada 30 Mei. [X/RAAF]

Canberra menyatakan bahwa armada yang telah lengkap itu akan memperkuat kemampuannya memantau dan menjaga jalur maritim di tengah meningkatnya persaingan strategis di Indo-Pasifik.

Pesawat P-8A Poseidon banyak digunakan oleh sekutu dan mitra Amerika Serikat, termasuk Australia, untuk patroli maritim jarak jauh, operasi perang anti-kapal selam, dan misi pengumpulan intelijen di wilayah maritim yang diperebutkan.

Kementerian Pertahanan Australia, dalam pernyataan tanggal 27 Mei, mengatakan bahwa pesawat tersebut akan memperkuat kemampuan Australia “melaksanakan operasi perang anti-kapal selam, serangan maritim, serta misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian."

“Armada P-8A Poseidon merupakan komponen penting yang mendukung kemampuan kami memantau wilayah maritim, serta meningkatkan kapasitas Australia untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman di perairan sekitarnya,” kata Marsekal Stephen Chappell, Kepala RAAF.

“Dengan mengintegrasikan sensor canggih, sistem komunikasi, dan kemampuan serangan, P-8A Poseidon memainkan peran penting dalam mendukung strategi pencegahan-melalui-rintangan Australia,” tambahnya.

Para analis pertahanan mengatakan bahwa penambahan armada ini dilakukan Australia untuk memperkuat kemampuan pengawasan maritim dan anti-kapal selamnya sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas AL Tiongkok di Indo-Pasifik.

Peningkatan kekuatan angkatan laut Tiongkok

Tiongkok secara signifikan meningkatkan kemampuan angkatan lautnya selama dekade terakhir, dengan mengoperasikan armada kapal selam yang lebih besar dan lebih canggih, sekaligus memperluas jangkauan operasionalnya melampaui wilayah Pasifik Barat.

“Di tengah meningkatnya aktivitas kapal selam Tiongkok di Indo-Pasifik, Australia berupaya mengerahkan platform yang mampu mencegah penyusupan ke perairan teritorialnya,” kata Harpreet Sidhu, analis kedirgantaraan dan pertahanan di GlobalData, firma konsultan yang berbasis di London.

Sidhu menyebut P-8A sebagai pesawat anti-kapal selam yang sangat mumpuni. Pesawat ini tidak hanya mampu mendeteksi dan melacak kapal selam, tetapi juga dapat menyerang dengan torpedo yang dibawanya, ujarnya.

“Fakta bahwa Australia mengoperasikan armada lengkap P-8A sudah menjadi daya tangkal, yang membuat komandan kapal selam AL Tiongkok berpikir dua kali sebelum memasuki perairan Australia,” tambahnya.

Untuk menunjukkan jangkauan operasional ini, personel RAAF baru-baru ini memperkuat kerja sama udara di kawasan.

Pada 5 Juni, RAAF mengumumkan bahwa pasukannya melaksanakan operasi pertukaran informasi bersama dengan Pasukan Bela Diri Udara Jepang (JASDF) dengan menggunakan pesawat P-8A Poseidon milik Australia dan pesawat Kawasaki RC-2 milik Jepang di Samudra Pasifik.

Memperluas pengawasan maritim

Australia telah menandatangani perjanjian pengawasan udara dengan kontraktor pertahanan yang bermarkas di Washington, Metrea, untuk memperkuat pengawasan maritim sipil dan perlindungan perbatasan di tengah persaingan strategis regional.

Berdasarkan kesepakatan itu, Metrea akan bekerja sama dengan Departemen Dalam Negeri dan Pasukan Perbatasan Australia (ABF) untuk “menyediakan kemampuan pengawasan yang ditingkatkan guna mendukung tugas penting menjaga perbatasan Australia,” demikian pengumuman perusahaan itu pada 22 Mei.

Perjanjian itu mulai berlaku pada 1 Januari 2028, untuk armada dengan 11 pesawat yang menurut ABF akan menyediakan “pengawasan udara jarak pendek dan jarak jauh dengan cakupan nasional yang lebih luas, beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun.”

Langkah ini akan “semakin memperkuat pengawasan maritim sipil dan perlindungan perbatasan Australia, memastikan keberlanjutan kemampuan, serta membawa perubahan signifikan dalam hal kinerja, cakupan, dan teknologi pengawasan,” kata ABF dalam sebuah pernyataan.

Strategi Indo-Pasifik yang lebih luas

Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi Indo-Pasifik Australia yang lebih luas, yang melengkapi patroli bersama dan upaya pengembangan kapasitas di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap aktivitas bawah laut Tiongkok.

Melalui inisiatif Transparent Ocean, Beijing melakukan pemetaan dan pemantauan bawah laut secara ekstensif di Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan Samudra Arktik.

Analis angkatan laut mengatakan bahwa data ini dapat meningkatkan operasi kapal selam Tiongkok di masa depan serta kemampuannya menghadapi pasukan angkatan laut sekutu di perairan strategis.

Sebagai respons, Amerika Serikat dan sekutunya seperti Australia mempercepat upaya untuk memindahkan produksi pertahanan ke wilayah Indo-Pasifik yang rawan konflik guna mempertahankan kesiapan militer dalam menghadapi kemampuan Tiongkok yang berkembang pesat.

Pada bulan Mei, Australia bergabung dengan Amerika Serikat dan Inggris, dalam kemitraan keamanan AUKUS, untuk mengembangkan muatan wahana bawah laut nirawak canggih yang dirancang untuk melindungi infrastruktur bawah laut penting, seperti kabel komunikasi yang rentan.

Pada bulan Maret, pejabat dari 16 negara, termasuk Australia, mengadakan pertemuan virtual dalam rangka Kemitraan untuk Ketahanan Industri Indo-Pasifik yang dipimpin AS, yang mendukung banyak inisiatif pertahanan baru termasuk produksi rudal, pengembangan drone, serta pembuatan amunisi.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link