Kapabilitas

India incar armada kapal selam Jerman untuk perkuat daya tangkal di Samudra Hindia

Armada yang diusulkan ini akan memodernisasi kekuatan kapal selam India yang kian menua, seiring respons New Delhi terhadap perluasan aktivitas maritim Tiongkok dan Pakistan.

Kapal patroli lepas pantai Angkatan Laut India INS Sunayna kembali ke Kochi pada 20 Mei, setelah penugasan selama tujuh bulan di kawasan Samudra Hindia. Misi tersebut mencerminkan meningkatnya fokus India terhadap keamanan maritim regional. [X/Angkatan Laut India]
Kapal patroli lepas pantai Angkatan Laut India INS Sunayna kembali ke Kochi pada 20 Mei, setelah penugasan selama tujuh bulan di kawasan Samudra Hindia. Misi tersebut mencerminkan meningkatnya fokus India terhadap keamanan maritim regional. [X/Angkatan Laut India]

OIeh Zarak Khan |

India tengah bersiap untuk menandatangani perjanjian senilai sekitar US$8 miliar untuk membangun armada baru kapal selam Type-214 rancangan Jerman di dalam negeri. Program ini menjadi salah satu upaya modernisasi angkatan laut terbesar yang dilakukan negara itu dalam beberapa dekade terakhir.

Proyek tersebut, yang diperkirakan akan dilaksanakan melalui Project-75 India (P-75I), adalah program modernisasi militer jangka panjang India. Berdasarkan keterangan pejabat industri pertahanan, kapal-kapal selam konvensional berteknologi canggih akan diproduksi di India melalui kerja sama antara produsen pertahanan Jerman ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) dan perusahaan galangan kapal milik negara Mazagon Dock Shipbuilders Ltd.

Pada bulan April lalu, Menteri Pertahanan India Rajnath Singh bersama Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengunjungi fasilitas pembuatan kapal milik TKMS di Kiel. Kunjungan tersebut menegaskan semakin eratnya kerja sama pertahanan kedua negara sekaligus pentingnya proyek kapal selam tersebut secara strategis.

Kesepakatan itu diperkirakan akan ditandatangani pada musim panas tahun ini, demikian dilaporkan stasiun penyiaran Jerman Deutsche Welle (DW) pada 13 Juni, mengutip keterangan Pistorius.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius (ketiga dari kiri) dan Menteri Pertahanan India Rajnath Singh (kedua dari kanan) mengunjungi galangan kapal ThyssenKrupp Marine Systems di Kiel, Jerman, pada bulan April. Program kapal selam Type-214 yang diusulkan ini akan menjadi salah satu proyek modernisasi angkatan laut terbesar bagi India. [X/Rajnath Singh]
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius (ketiga dari kiri) dan Menteri Pertahanan India Rajnath Singh (kedua dari kanan) mengunjungi galangan kapal ThyssenKrupp Marine Systems di Kiel, Jerman, pada bulan April. Program kapal selam Type-214 yang diusulkan ini akan menjadi salah satu proyek modernisasi angkatan laut terbesar bagi India. [X/Rajnath Singh]

Membangun kapabilitas

Kesepakatan tersebut akan menjadi salah satu kemitraan industri pertahanan terbesar antara India dan Jerman, serta memberikan dorongan besar bagi upaya New Delhi memperkuat industri pertahanan dalam negeri sembari mengadopsi teknologi angkatan laut mutakhir.

Inti dari kesepakatan itu adalah alih teknologi (Transfer of Technology/ToT) terkait sistem Air Independent Propulsion (AIP) untuk kapal selam Type-214, menurut analisis bulan Februari oleh lembaga pemikir Observer Research Foundation (ORF) yang berbasis di New Delhi.

"Kapal selam yang dilengkapi sistem AIP berbasis teknologi sel bahan bakar (fuel cell) dapat tetap berada di bawah permukaan laut dalam waktu yang jauh lebih lama tanpa mengorbankan kecepatan maupun kemampuan siluman," menurut ORF. Kemampuan tersebut memberikan keunggulan penting dalam lingkungan maritim yang sarat persaingan.

Teknologi tersebut diperkirakan akan secara signifikan meningkatkan kemampuan peperangan bawah laut Angkatan Laut India.

Menurut TKMS, kapal selam Type-214 dilengkapi sistem AIP generasi keempat berbasis sel bahan bakar dan dirancang untuk menjalankan "misi pengawasan dan pengintaian di wilayah pesisir, operasi penyusupan secara rahasia, serta penolakan akses di titik-titik sempit jalur laut yang strategis."

Dengan garis pantai lebih dari 11.000 kilometer dan lebih dari 90 persen volume perdagangan yang diangkut melalui laut, India memiliki kepentingan besar untuk mengamankan jalur maritim utama serta titik-titik sempit strategis di Samudra Hindia.

Faktor Tiongkok

Pejabat India secara terbuka menggambarkan proyek tersebut sebagai bagian dari upaya modernisasi angkatan laut yang lebih luas sekaligus komponen penting dalam kebijakan pemerintah untuk memperluas produksi industri pertahanan domestik.

Namun, para analis menilai kesepakatan itu juga mencerminkan kekhawatiran New Delhi atas meningkatnya ekspansi pengaruh maritim Tiongkok di Samudra Hindia maupun kawasan Indo-Pasifik.

Selama satu dekade terakhir, Tiongkok terus meningkatkan pengerahan kekuatan angkatan lautnya di Samudra Hindia, termasuk kapal selam, kapal pengumpul intelijen, kapal riset, dan kapal tempur permukaan.

Para pembuat kebijakan India semakin memandang aktivitas tersebut sebagai bagian dari upaya luas Beijing untuk mengamankan jalur maritim strategis yang menjadi lintasan bagi bagian besar perdagangan dan pasokan energi dunia.

Kekhawatiran New Delhi kian meningkat seiring semakin eratnya kerja sama militer antara dua rival strategis utamanya, yakni Tiongkok dan Pakistan.

Akuisisi teknologi AIP melalui program Project-75I yang telah lama tertunda ini dimaksudkan untuk "mengatasi masalah penuaan armada kapal selam konvensional India," lapor The Times of India pada bulan Januari.

Program ini diharapkan dapat "meningkatkan kemampuan bawah air Angkatan Laut India dan memperkuat daya tangkal maritim di Indo-Pasifik pada saat Tiongkok dan Pakistan sama-sama meningkatkan kehadiran mereka di kawasan Samudra Hindia," tulis surat kabar tersebut.

India berfokus pada upaya "mengamankan kawasan Samudra Hindia dari ancaman kedua negara tetangganya tersebut, sekaligus menangani berbagai tantangan keamanan maritim non-tradisional," menurut penilaian tahun 2026 dari International Institute for Strategic Studies, sebuah lembaga pemikir global.

Pergeseran strategi Jerman ke Indo-Pasifik

Bagi Jerman, rencana kesepakatan kapal selam ini tidak hanya memiliki nilai komersial yang besar, tetapi juga bobot strategis yang semakin penting, seiring upaya Berlin meningkatkan keterlibatannya di kawasan Indo-Pasifik.

"Kesepakatan ini penting secara komersial bagi Jerman. Namun, kerangka utamanya jelas bersifat geopolitik," kata Nina Haase, kepala koresponden politik Deutsche Welle, kepada stasiun penyiaran tersebut.

Para pembuat kebijakan Jerman semakin memandang kawasan Indo-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global, persaingan teknologi, dan rivalitas strategis.

Salah satu tujuan utama strategi Indo-Pasifik Berlin adalah melakukan diversifikasi kemitraan di seluruh kawasan tersebut, guna mengurangi ketergantungan ekonomi yang berlebihan terhadap Tiongkok, menurut Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP), salah satu lembaga kajian kebijakan luar negeri terkemuka di Jerman.

"Konsep Indo-Pasifik juga merupakan respons terhadap kebangkitan Tiongkok dan meningkatnya klaim kekuasaan Beijing di kawasan tersebut," kata lembaga pemikir itu dalam analisisnya pada tahun 2024.

Pergeseran strategi Jerman ke Indo-Pasifik semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Haase juga mengatakan dukungan terhadap kemampuan angkatan laut India sejalan dengan "kepentingan Jerman yang lebih luas dalam menjaga kebebasan navigasi, keamanan jalur pelayaran, dan tatanan internasional berbasis aturan."

Setelah jeda selama hampir dua dekade, Berlin melanjutkan kembali pengerahan angkatan lautnya ke kawasan tersebut pada tahun 2021, dengan mengirimkan kapal fregat Bayern dalam misi tujuh bulan yang berfokus pada diplomasi, latihan angkatan laut, serta penguatan kemitraan di kawasan Indo-Pasifik.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link