Oleh Zarak Khan |
India tengah mempercepat perombakan strategis senilai US$9 miliar di Pulau Great Nicobar yang terpencil. Langkah ini bertujuan untuk mengubah wilayah paling selatan negara itu menjadi pos militer dan ekonomi permanen guna membendung ekspansi pengaruh Tiongkok di Samudra Hindia.
Proyek tersebut mencakup pelabuhan transshipment besar dan bandara sipil-militer dwifungsi, yang akan menempatkan pasukan India sekitar 150 km dari Selat Malaka. Selat itu merupakan salah satu jalur perdagangan maritim tersibuk di dunia.
Menurut The Times of India, selat tersebut menjadi rute pelayaran terpendek antara Samudra Hindia dan Pasifik serta merupakan jalur vital bagi distribusi barang manufaktur dari Asia Timur dan Asia Tenggara.
Pemerintah India menyatakan tujuannya untuk mengubah Great Nicobar menjadi “pusat maritim dan ekonomi strategis” dengan memanfaatkan kedekatannya — sekitar 40 mil laut — dengan koridor pelayaran internasional Timur-Barat. Langkah ini sekaligus mengurangi ketergantungan pada pelabuhan transshipment asing untuk perdagangan dan logistik.
![Warga dan aktivis masyarakat sipil mengikuti kampanye Hari Pembersihan Pesisir Internasional di sepanjang garis pantai Andaman dan Nicobar pada September tahun lalu. [X/Komando Andaman dan Nicobar]](/gc9/images/2026/05/13/56103-outpost_photo_2-370_237.webp)
Menurut pernyataan pemerintah pada 1 Mei, rencana tersebut mencakup terminal transshipment peti kemas internasional berkapasitas 14,2 juta unit ekuivalen dua puluh kaki (TEU), bandara internasional baru, pembangkit listrik berbasis gas dan tenaga surya berkapasitas 450 MVA, serta kawasan permukiman baru.
New Delhi menyatakan pembangunan itu akan “secara signifikan memperkuat kehadiran India di Laut Andaman dan Asia Tenggara, meningkatkan kemampuan maritim dan pertahanan, serta mengintegrasikan pulau tersebut dengan jaringan perdagangan dan logistik global.”
Dilema Selat Malaka bagi Tiongkok
Beijing sejak lama memandang Selat Malaka sebagai titik kerentanan strategis karena perannya yang sangat penting dalam rantai pasok perdagangan dan energi Tiongkok.
Menurut The Times of India, kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut mengangkut barang manufaktur dari Asia Timur dan Asia Tenggara — terutama dari Tiongkok — menuju Eropa dan Asia Barat.
Selat itu juga sangat penting bagi keamanan energi Tiongkok. Diperkirakan 75% hingga 80% impor energi Tiongkok melewati jalur sempit tersebut, tambah laporan itu.
Perluasan peran pertahanan
Para analis strategis menilai proyek Great Nicobar berkaitan erat dengan ambisi India untuk memosisikan diri sebagai “penyedia keamanan bersih” di kawasan Samudra Hindia.
Dalam proyek tersebut, pemerintah India meningkatkan landasan pacu yang dioperasikan oleh Komando Andaman dan Nicobar (ANC) — satu-satunya komando militer gabungan tiga matra India yang bermarkas di Sri Vijaya Puram — untuk “aktivasi fungsi ganda (sipil-militer)”, menurut laporan Khmer Times pada 4 Mei.
Transformasi bertahap wilayah yurisdiksi ANC menjadi pos strategis terdepan akan “memperkuat citra India sebagai mitra keamanan pilihan bagi negara-negara pesisir Samudra Hindia”, kata laporan itu.
Pada bulan Juni, menteri India dan Jepang yang membidangi jalur air dan infrastruktur bertemu di sela-sela konferensi di Oslo. Mereka membahas teknologi berkelanjutan, infrastruktur tangguh bencana, dan proyek konektivitas yang bertujuan mengembangkan Kepulauan Andaman dan Nicobar serta Kepulauan Lakshadweep di India menjadi “pulau pintar.”
“Pengaruh Angkatan Laut Tiongkok kemungkinan besar akan terus meningkat dari sekarang untuk memastikan jalur laut tidak terganggu,” kata Brigjen (Purn.) Arun Sahgal, direktur eksekutif Forum for Strategic Initiative di New Delhi, kepada Defense News pada 8 Mei.
Ia menegaskan India wajib “menjamin kebebasan navigasi jika ingin mempertahankan pengaruhnya di kawasan ini.”
Membendung jangkauan Tiongkok
Proyek Pulau Great Nicobar merupakan bagian dari upaya strategis India yang lebih luas untuk menghadapi meningkatnya pengaruh Tiongkok di kawasan Samudra Hindia.
Selama dua dekade terakhir, Beijing telah menjalankan strategi yang dikenal sebagai “rantai mutiara”, dengan membangun jaringan pelabuhan komersial dan fasilitas maritim yang terkait militer di seluruh Samudra Hindia.
Menurut Letjen (Purn.) Rajeev Chaudhry, mantan direktur jenderal Organisasi Jalan Perbatasan India, Tiongkok telah memperoleh akses strategis ke Pelabuhan Gwadar di Pakistan, Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka, dan Pelabuhan Kyaukpyu di Myanmar melalui strategi tersebut.
Kehadiran maritim regional Tiongkok akan “diimbangi oleh pusat strategis dan ekonomi yang kuat di Campbell Bay dan Galathea Bay” di Pulau Great Nicobar, kata Chaudhry kepada The Times of India pada 3 Mei.
Menurutnya, Tiongkok “mewaspadai proyek di Great Nicobar karena akan meningkatkan kemampuan India dalam memantau perdagangan maritim dan pergerakan militer di kawasan itu.”
Srikanth Kondapalli, profesor studi Tiongkok di Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, mengatakan Tiongkok setiap tahun mengerahkan kapal selam dan mengirim lebih dari sembilan kapal pengintai ke kawasan tersebut.
Ia menambahkan Beijing memantau peluncuran antariksa India dari Pulau Great Coco di Myanmar, melakukan kegiatan pemetaan di Teluk Benggala, serta memperluas aktivitas perikanannya di Samudra Hindia sambil memperketat kendali atas Laut Tiongkok Selatan.
“Infrastruktur yang dibangun memang berlatar belakang ekonomi, tetapi dapat digunakan untuk kepentingan militer tergantung pada tingkat ancaman yang ada,” kata Kondapalli kepada penyiar Jerman, DW.
![Personel Komando Andaman dan Nicobar (ANC) India, satu-satunya komando militer gabungan tiga matra di negara itu, mengikuti latihan di Kepulauan Nicobar pada 24–29 Maret. [X/Komando Andaman dan Nicobar]](/gc9/images/2026/05/13/56102-outpost_photo_1-370_237.webp)