Oleh Liz Lagniton |
Tiongkok telah menarik platform penelitian terapungnya dari Karang Scarborough setelah Filipina memprotes kehadirannya di atol sengketa tersebut, tetapi penempatan singkat tersebut telah memicu kekhawatiran Beijing sedang menguji cara baru untuk memperkuat kehadirannya di salah satu kawasan paling diperebutkan di Laut Tiongkok Selatan.
Karang Scarborough terletak sekitar 220 km dari Luzon dan diklaim oleh kedua negara, Filipina dan Tiongkok.
Pihak berwenang Filipina mengonfirmasi pada 17 Juni bahwa platform tersebut, yang pertama kali terdeteksi di dalam laguna pada akhir Mei, telah dipindahkan.
Fasilitas tersebut telah digunakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok untuk penelitian di seluruh atol sejak akhir Mei dan dibongkar setelah menyelesaikan misinya, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
![Citra satelit yang dirilis oleh SeaLight memperlihatkan sebuah benda kecil yang memantulkan cahaya di dekat pintu masuk selatan laguna Karang Scarborough. Direktur SeaLight, Ray Powell, mengatakan benda tersebut ‘dapat dikenali dengan jelas’ di dataran terumbu karang dekat pintu masuk laguna. [X/SeaLight]](/gc9/images/2026/06/29/56800-img_2784-370_237.webp)
![Sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok, dengan nomor lambung 5304, beroperasi di dekat Luzon, Filipina, selama patroli PCG pada 21 Juni, di tengah ketegangan yang terus berlanjut di sekitar Karang Scarborough. [PCG]](/gc9/images/2026/06/29/56801-3-370_237.webp)
Juru bicara Lin Jian mengatakan tindakan tersebut “sepenuhnya berada dalam lingkup hak kedaulatan Tiongkok” dan bahwa “tidak satu pun negara berhak mencampuri urusan tersebut.”
Platform tersebut, yang digambarkan oleh pihak berwenang Filipina sebagai struktur apung yang dapat dipindahkan, mendorong Manila untuk mengajukan protes diplomatik setelah para pejabat menyatakan platform itu beroperasi di dalam Zona Ekonomi Eksklusif negara tersebut.
Namun, bagi para pejabat Filipina, yang menjadi perhatian utama bukanlah platform terapung itu sendiri.
Sebaliknya, mereka mempertanyakan apakah platform tersebut merupakan bagian dari pola yang lebih luas yang dilakukan Tiongkok untuk memperluas kehadirannya di sekitar Karang Scarborough, sejak Beijing mengambil alih kendali efektif atas wilayah tersebut pasca-konfrontasi dengan Filipina pada tahun 2012. Manila menyebut karang tersebut sebagai Bajo de Masinloc, sementara Tiongkok menyebutnya Huangyan Dao.
“Jika hal ini merupakan langkah awal menuju kehadiran yang lebih permanen, atau langkah awal menuju aktivitas jahat lainnya, maka hal itu patut dikhawatirkan,” kata Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. kepada Wall Street Journal.
Kementerian Luar Negeri Manila menyatakan platform tersebut melanggar kedaulatan dan yurisdiksi Filipina serta bertentangan dengan hukum internasional. Atas dasar itu, Manila mengajukan protes diplomatik dan beberapa nota diplomatik (demarche) kepada Beijing.
Tiongkok membela aktivitasnya di karang tersebut dengan alasan aktivitas itu merupakan penelitian ilmiah.
Di balik platform
Para analis maritim mengatakan makna dari platform tersebut tidak terletak pada keberadaan fisiknya, melainkan pada apa yang mungkin disimbolkan olehnya.
Foto struktur tersebut mengingatkan pada kegiatan awal Tiongkok di Mischief Reef, di mana fasilitas sederhana pada akhirnya berkembang menjadi salah satu pos terdepan pulau buatan terbesar milik Beijing di Laut Tiongkok Selatan, kata Jay Batongbacal, pakar hukum maritim dari University of the Philippines.
Dia menggambarkan bangunan tersebut sebagai bagian dari “upaya Tiongkok untuk secara bertahap mengubah keadaan di lapangan.”
Para analis lainnya juga telah menarik kesimpulan serupa.
“Apa yang tampaknya sedang dilakukan Tiongkok di sini adalah menerapkan strategi ‘salami-slicing’ sebagai langkah menuju pemukiman di masa depan,” kata Ray Powell, direktur eksekutif SeaLight Foundation—yang memantau apa yang disebut sebagai “aktivitas zona abu-abu” di Laut Tiongkok Selatan—kepada Wall Street Journal.
Istilah “zona abu-abu” merujuk pada berbagai kegiatan yang belum sampai pada tingkat perang, tetapi tetap membebani pasukan keamanan pihak lawan.
Kekhawatiran tersebut sebagian besar berasal dari upaya pembangunan pulau yang pernah dilakukan Tiongkok sebelumnya.
Sejak tahun 2013, Beijing telah mengubah beberapa terumbu karang di Kepulauan Spratly menjadi pulau buatan yang dilengkapi dengan infrastruktur militer, sehingga memicu kekhawatiran atas meningkatnya militerisasi di perairan sengketa tersebut.
Menurut pejabat Filipina, tidak ada proyek konstruksi serupa yang sedang berlangsung di Karang Scarborough, tetapi mereka terus memantau kawasan tersebut untuk mencegah agar tempat itu tidak berubah menjadi pulau buatan lainnya, demikian disampaikan Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad, juru bicara Angkatan Laut Filipina untuk Laut Filipina Barat.
Titik panas baru
Beberapa hari setelah kontroversi seputar platform tersebut, insiden lain kembali menegaskan semakin pentingnya posisi strategis Karang Scarborough.
Pada 20 Juni, kapal BRP Diego Silang milik Angkatan Laut Filipina berhadapan dengan empat kapal perang Tiongkok saat sedang melakukan patroli di dekat Karang Scarborough, menurut rekaman televisi Filipina yang dikutip oleh South China Morning Post. Pertemuan tersebut terjadi saat latihan multinasional Salaknib 2026 berakhir.
Kedua kapal saling bertukar pesan radio sebelum pertemuan tersebut berakhir tanpa insiden. Selama patroli yang sama, sebuah helikopter Angkatan Laut Filipina memastikan platform terapung tersebut telah dipindahkan.
Pengerahan empat kapal perang Tiongkok untuk menghadapi satu kapal angkatan laut Filipina menandai pergeseran dari kebiasaan Beijing yang biasanya mengandalkan kapal penjaga pantai dan milisi maritim di sekitar karang tersebut, demikian disampaikan analis keamanan maritim yang berbasis di Singapura, Collin Koh, kepada South China Morning Post.
“Eskalasi terbaru ini — empat kapal Tiongkok berhadapan dengan satu kapal Angkatan Laut Filipina — berkaitan dengan ketegangan yang terus berlanjut di Karang Scarborough sejak titik panas utama berpindah dari Karang Second Thomas,” kata Koh. Pernyataan itu mencerminkan pandangan yang kian umum bahwa Karang Scarborough semakin penting secara strategis.
Hari peringatan mendatang
Episode ini terjadi menjelang peringatan 12 Juli terkait Putusan Arbitrase 2016, yang menolak klaim Tiongkok atas lebih dari 80% wilayah Laut Tiongkok Selatan. Namun demikian, putusan tersebut gagal menghentikan konfrontasi di Laut Tiongkok Selatan.
“Fakta bahwa kita terus melihat berbagai hal baru bermunculan di Scarborough — pelampung baru, pola perilaku kapal yang baru, dan kini hal ini — menurut saya menunjukkan fase baru kreativitas yang telah kita saksikan dari Beijing dalam setahun terakhir,” kata Harrison Prétat, seorang pakar masalah maritim Asia di Center for Strategic and International Studies di Washington.
Penelitian tersebut memang mungkin berfokus pada konservasi terumbu karang, tetapi juga dapat mendukung kegiatan pengerukan atau pembangunan di masa depan, tambah Prétat, seperti dilansir Wall Street Journal.
Perkembangan terkini menunjukkan Beijing terus memperkuat posisinya di sekitar atol sengketa tersebut melalui serangkaian aktivitas zona abu-abu yang dilakukan secara bertahap.
![Sebuah kapal yang diidentifikasi oleh Penjaga Pantai Filipina (PCG) sebagai kapal penelitian Tiongkok terlihat sedang menarik sebuah struktur apung di Karang Scarborough di Laut Tiongkok Selatan yang menjadi sengketa pada 15 Juni. [Jam Sta Rosa/AFP]](/gc9/images/2026/06/29/56799-afp__20260615__b73w8xr__v1__highres__philippineschinamaritime-370_237.webp)