Kapabilitas

Penjaga Pantai AS kerahkan kembali skuadron kapal patrolinya sebagai ‘tantangan’ bagi Tiongkok

Enam kapal patroli respons cepat kelas Sentinel kini beroperasi dari Singapura dan Filipina, menempatkan pasukan Penjaga Pantai AS dalam posisi untuk melindungi titik-titik rawan di Laut Tiongkok Selatan.

Kapal patroli Penjaga Pantai AS Charles Moulthrope dan John Scheuerman, yang terlihat di Selat Hormuz bersama sebuah kapal permukaan nirawak pada 19 April 2023, termasuk di antara enam kapal yang kini ditugaskan ke Skuadron Kapal Patroli Ekspedisioner di Pasifik barat. [Vincent Aguirre/Penjaga Pantai AS]
Kapal patroli Penjaga Pantai AS Charles Moulthrope dan John Scheuerman, yang terlihat di Selat Hormuz bersama sebuah kapal permukaan nirawak pada 19 April 2023, termasuk di antara enam kapal yang kini ditugaskan ke Skuadron Kapal Patroli Ekspedisioner di Pasifik barat. [Vincent Aguirre/Penjaga Pantai AS]

Oleh Chelsea Robin |

Penjaga Pantai AS (U.S. Coast Guard/USCG) telah memindahkan Skuadron Kapal Patroli Ekspedisionernya ke Indo-Pasifik untuk membantu mencegah patroli agresif Tiongkok di perairan sengketa di Laut Tiongkok Selatan.

Langkah ini dilakukan “sebagai tanggapan terhadap kebutuhan keamanan nasional,” kata USCG pada 15 Juli. Pemindahan tersebut mengakhiri misi penempatan garis depan skuadron itu selama lebih dari 20 tahun di Timur Tengah.

“Pasukan Penjaga Pantai selalu beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan nasional yang mendesak,” jelas Komandan USCG Laksamana Kevin Lunday. “Skuadron Kapal Patroli Ekspedisioner memperkuat kemampuan Penjaga Pantai untuk mengerahkan pasukan kami guna mendukung para Komandan Komando Tempur dan sasaran keamanan nasional.”

Sebelumnya ditempatkan di Bahrain di bawah Pasukan Patroli Asia Barat Daya USCG (Patrol Forces Southwest Asia/PATFORSWA), skuadron tersebut kini beroperasi untuk mendukung Komando Pasifik AS, yang mencerminkan pergeseran fokus regional Washington.

Bahrain, yang merupakan pangkalan bagi Komando Pusat Angkatan Laut AS dan Armada Kelima, telah berulang kali menghadapi ancaman rudal dan drone dari Iran selama Operasi Epic Fury. Pihak berwenang setempat bahkan baru-baru ini memperingatkan warga untuk berlindung.

Skuadron itu kini beroperasi dari pos-pos depan di Singapura dan Filipina “untuk melindungi tanah air dan jalur-jalur maritim, termasuk Guam dan Kepulauan Pasifik,” kata juru bicara USCG kepada Janes.

“Kapal-kapal patroli tersebut diizinkan beroperasi dari Singapura dan Subic Bay di Filipina hingga September [2026]. Komando dan dukungan logistik akan dikelola dari Singapura, sementara kapal-kapal tersebut akan berotasi melalui Subic Bay,” kata juru bicara tersebut.

“Semua operasi ini mencerminkan komitmen jangka panjang terhadap kawasan Pasifik yang bebas dan terbuka serta mendukung kawasan tempat semua negara, baik besar maupun kecil, dapat beroperasi secara bebas, aman, dan sesuai hukum di laut,” kata juru bicara tersebut.

“Operasi keamanan maritim dan kegiatan maritim kooperatif” sedang berlangsung di seluruh kawasan, kata juru bicara USCG Komandan Steve Roth dalam pernyataan yang dikirim melalui email kepada Stars and Stripes pada 18 Juli.

PATFORSWA terdiri atas enam kapal patroli respons cepat kelas Sentinel: Charles Moulthrope, Robert Goldman, Glen Harris, Emlen Tunnell, John Scheuerman, dan Clarence Sutphin Jr.

Menurut pelacak kapal sumber terbuka WarshipCam, keenam kapal tersebut terlihat melintasi Selat Singapura pada akhir Maret.

Kapal patroli USCG memiliki panjang sedikitnya 19,8 meter dan dilengkapi akomodasi tempat tinggal permanen di dalam kapal, sehingga semakin mendukung operasi yang berlangsung dalam waktu lama.

Menantang Tiongkok

Meskipun Amerika Serikat sebelumnya telah mengerahkan kapal patroli USCG yang lebih besar ke Subic Bay — bekas pangkalan militer AS di Pulau Luzon yang menghadap Laut Tiongkok Selatan — pengerahan ini menandai penggunaan operasional pertama kapal patroli respons cepat dari lokasi tersebut dan menekankan postur strategis yang baru.

USCG memang mengoperasikan kapal patroli cepat dari Guam dan Hawaii, tetapi penempatan Skuadron Kapal Patroli Ekspedisioner di Singapura dan Filipina membuat pasukan tersebut lebih dekat dengan titik-titik rawan di Laut Tiongkok Selatan -- sebuah langkah yang disebut Beijing sebagai “tindakan berlebihan.”

“Namun, ‘ekspedisi’ yang diatur dengan susah payah ini tidak akan mengubah tekad kuat Beijing maupun kemampuannya untuk melindungi hak-hak kedaulatannya di perairan wilayahnya sendiri,” tulis Global Times yang berafiliasi dengan Partai Komunis Tiongkok dalam sebuah artikel opini.

Sebuah laporan Wall Street Journal menggambarkan pengerahan tersebut sebagai langkah yang membantu “menantang klaim kekuasaan Tiongkok di Pasifik.”

“Pengerahan Penjaga Pantai tersebut merupakan langkah terbaru Washington untuk mencegah Beijing mengambil tindakan terhadap Taiwan atau wilayah-wilayah di Laut Tiongkok Selatan yang juga diklaim oleh negara-negara lain, termasuk Filipina dan Vietnam,” lapor surat kabar tersebut.

USCG “bekerja sama dengan mitra-mitra regional untuk memperkuat keamanan dan stabilitas maritim serta mendorong kepatuhan terhadap hukum internasional. Kami tidak akan mengomentari atau menilai tindakan maupun niat negara-negara lain,” kata juru bicara USCG yang tidak disebutkan namanya kepada Janes.

Memperkuat kemitraan regional

Kapal-kapal patroli PATFORSWA telah terlibat dalam pelatihan dan latihan bersama sekutu serta mitra regional, yang menunjukkan dampak praktis dari penempatan kembali skuadron tersebut.

Sebagai contoh, Charles Moulthrope dan Emlen Tunnell berpartisipasi dalam Kegiatan Kerja Sama Maritim pada tanggal 27–28 Juni bersama Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Filipina.

AFP mengerahkan kapal patroli Penjaga Pantai Filipina BRP Melchora Aquino dan BRP Capones serta fregat Angkatan Laut Filipina BRP Antonio Luna untuk berpartisipasi bersama USCG, menurut siaran pers Armada Ketujuh AS.

USCG dan AFP berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan interoperabilitas selama latihan dua hari tersebut, termasuk latihan pencarian dan penyelamatan, kegiatan kesadaran domain maritim, dan taktik divisi, demikian disebutkan dalam siaran tersebut.

“Kami selalu menghargai kesempatan untuk belajar dari mitra kami,” kata Letnan Ethan Goldcamp, komandan Emlen Tunnell. “Ketika bekerja sama, kami dapat memperoleh jauh lebih banyak pengetahuan dan keahlian, dan setiap kegiatan ini semakin memperkuat interoperabilitas kami.”

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link