Keamanan

Tiongkok tembakkan roket aktif dalam latihan militer di dekat Taiwan, simulasikan blokade pulau

Pejabat Taiwan mengatakan Tiongkok ingin meyakinkan rakyatnya bahwa blokade yang direncanakannya berhasil, padahal manuver itu gagal mencapai tujuannya.

Kapal penjaga pantai Taiwan berada di Pelabuhan Keelung, 30 Desember, ketika Tiongkok mengadakan latihan tembak di dekat Taiwan dalam simulasi blokade. [Cheng Yu-chen/AFP]
Kapal penjaga pantai Taiwan berada di Pelabuhan Keelung, 30 Desember, ketika Tiongkok mengadakan latihan tembak di dekat Taiwan dalam simulasi blokade. [Cheng Yu-chen/AFP]

Oleh AFP dan Zarak Khan |

Pada 30 Desember, Tiongkok meluncurkan rudal dan mengerahkan puluhan pesawat tempur serta kapal perang di sekitar Taiwan dalam hari kedua latihan tembak untuk simulasi blokade pelabuhan-pelabuhan penting Taiwan serta serangan terhadap sasaran di laut.

Tiongkok menganggap Taiwan bagian wilayahnya dan mungkin merebutnya dengan kekuatan militer.

Pemerintah Taipei mengecam latihan perang dua hari itu sebagai “sangat provokatif dan ceroboh” dan menegaskan manuver tersebut tidak berhasil menerapkan blokade terhadap Tawain.

Otoritas Taiwan mencatat 27 roket ditembakkan oleh pasukan Tiongkok pada 30 Desember.

Seorang pria di Keelung, Taiwan, 30 Desember, menonton siaran televisi latihan militer PLA Tiongkok. Dalam latihan itu, Tiongkok menembakkan rudal serta mengerahkan pesawat dan kapal perang dalam latihan tembak yang menyimulasikan blokade terhadap Taiwan. [Cheng Yu-chen/AFP]
Seorang pria di Keelung, Taiwan, 30 Desember, menonton siaran televisi latihan militer PLA Tiongkok. Dalam latihan itu, Tiongkok menembakkan rudal serta mengerahkan pesawat dan kapal perang dalam latihan tembak yang menyimulasikan blokade terhadap Taiwan. [Cheng Yu-chen/AFP]
Tangkapan layar siaran televisi pemerintah Tiongkok, CCTV, memperlihatkan grafis PLA yang menunjukkan simulasi serangan terhadap HIMARS dalam latihan militer Tiongkok di sekitar Taiwan, 30 Desember.
Tangkapan layar siaran televisi pemerintah Tiongkok, CCTV, memperlihatkan grafis PLA yang menunjukkan simulasi serangan terhadap HIMARS dalam latihan militer Tiongkok di sekitar Taiwan, 30 Desember.

Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) mengatakan telah “melaksanakan latihan tembak jarak jauh di perairan utara Pulau Taiwan dan berhasil mencapai hasil yang diinginkan.”

Aksi unjuk kekuatan ini terjadi setelah penjualan senjata besar-besaran ke Taipei oleh AS yang merupakan pendukung utama keamanan Taiwan, serta pernyataan PM Jepang bahwa penggunaan kekuatan terhadap Taiwan bisa memicu respons militer dari Tokyo.

Diplomat senior Tiongkok Wang Yi mengatakan pada 30 Desember bahwa Beijing akan “menanggapi secara tegas” penjualan senjata besar-besaran AS ke Taiwan, dan menambahkan setiap upaya menghalangi penyatuan Tiongkok dengan pulau itu “pasti akan gagal.”

Menurut jubir Kemenlu Tiongkok, Lin Jian, latihan militer itu merupakan “respons hukuman terhadap kelompok separatis Taiwan dan langkah yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan negara.”

Presiden Taiwan, Lai Ching-te, “mengecam sangat keras” dan menuduh Beijing “secara sengaja merusak stabilitas regional melalui intimidasi militer.”

“Ini provokasi terang-terangan,” tulisnya di Facebook, seraya menegaskan Taipei tidak akan memperburuk ketegangan.

Latihan tembak amunisi aktif

Tiongkok menyatakan pada 30 Desember bahwa pihaknya mengerahkan kapal perusak, fregat, pesawat tempur, dan bomber “untuk melaksanakan latihan identifikasi dan verifikasi, peringatan dan pengusiran, simulasi serangan darat, serangan laut, serta operasi anti-udara dan anti-kapal selam.”

Pernyataan Komando Palagan Timur PLA menyebut latihan di perairan utara dan selatan Taiwan itu “menguji kemampuan koordinasi laut-udara serta blokade dan pengendalian terpadu.”

Menurut siaran televisi pemerintah Tiongkok, CCTV, latihan militer itu menekankan pada “blokade” pelabuhan-pelabuhan strategis Taiwan, seperti Keelung di utara dan Kaohsiung di selatan.

Namun, pejabat militer senior Taiwan Hsieh Jih-sheng mengatakan kepada wartawan bahwa blokade yang dimaksud “pada dasarnya tidak terjadi.”

“Alasan utama mereka adalah meyakinkan publik bahwa mereka berhasil meraih tujuan yang ingin dicapai,” ujarnya.

Otoritas Tiongkok mengeluarkan peta yang menunjukkan lima zona besar di sekitar Taiwan untuk latihan militer dan merilis rekaman peluncuran roket jarak jauh oleh PCH-191, saat Washington mengumumkan penjualan paket senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan yang mencakup High Mobility Artillery Rocket Systems (HIMARS).

Media Taiwan menyebut PCH-191 sebagai “HIMARS versi Tiongkok” karena keduanya menembakkan rudal. Shu Hsiaohuang, peneliti di lembaga kajian pertahanan Taiwan, mengatakan kepada media lokal bahwa roket itu “tidak seakurat rudal balistik,” tetapi lebih murah dan dapat dikerahkan dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan tekanan pada pertahanan udara Taiwan.

Menurut Taiwan, beberapa zona latihan militer berada dalam radius 12 mil laut dari pantainya, sehingga mengganggu rute pelayaran dan penerbangan internasional. Administrasi Penerbangan Sipil Taiwan menyebut ratusan penerbangan terpaksa dibatalkan atau ditunda.

Reaksi dingin

Kemenhan Taiwan pada 30 Desember menyatakan mendeteksi sedikitnya 130 pesawat militer Tiongkok dan lebih dari 50 kapal, termasuk 27 kapal perang. Penjaga pantai mengerahkan 14 kapal dengan “pendekatan pengawalan satu lawan satu” untuk menghadang kapal-kapal itu.

Menurut Kantor Berita Militer Taiwan, pasukan melaksanakan beberapa latihan untuk menanggapi latihan militer Tiongkok, salah satunya di area Taipei yang difokuskan pada penempatan rintangan sungai dan kesiapan respons cepat pasukan.

Sebagian besar warga Taiwan bereaksi dingin.

“Latihan seperti ini sudah sering terjadi selama bertahun-tahun, jadi kami sudah terbiasa,” ujar Chiang Sheng-ming, 24 tahun, pedagang ikan di pasar Taipei.

“Selama kita tetap tegar, tidak ada yang perlu ditakuti,” ujar pedagang buah Tseng Chang-chih, 80 tahun.

Hari kedua latihan mempertegas pola eskalasi yang lebih luas, bukan sekadar unjuk kekuatan sesaat, kata para analis keamanan.

Para analis menyoroti tren simulasi blokade

Beijing semakin memperkuat “upaya untuk mengisolasi Taiwan” dengan menargetkan mitra penting, “terutama Jepang dan AS,” kata Jack Burnham dari Foundation for Defense of Democracies.

Menurutnya, Tiongkok sedang bergerak menuju “blokade de facto” oleh Penjaga Pantai Tiongkok dengan dukungan militer. Ia menyarankan agar Amerika Serikat dan sekutu merespons “dengan ketegasan yang setara,” misalnya melalui pengiriman pasokan regional dan perencanaan konvoi.

Latihan militer itu menunjukkan PLA sedang menyempurnakan konsep blokade berlapis, bukan sekadar simbolisme, kata para analis regional.

Menurut Alessio Patalano kepada London Guardian pada 30 Desember, “tujuannya adalah menanamkan rasa takut dan kesan tak terelakkan di benak masyarakat Taiwan,” seraya memperingatkan “tindakan agresif terang-terangan bisa menjadi hal yang dianggap normal.”

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak khawatir terhadap latihan militer tersebut, tampak mengabaikan kemungkinan rekan sejawatnya, Xi Jinping, memerintahkan invasi ke Taiwan.

“Saya tidak percaya dia akan melakukannya,” kata Trump.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link