Oleh Zarak Khan |
Kenaikan status India menjadi “kekuatan besar” dalam Asia Power Index 2025 telah semakin memperjelas dinamika geopolitik kawasan, sekaligus mengirimkan pesan strategis yang tegas kepada Beijing di tengah ketegangan perbatasan yang terus berlangsung dan persaingan pengaruh yang semakin meluas.
Edisi terbaru indeks yang berpengaruh tersebut, yang diterbitkan pada bulan November oleh Lowy Institute—lembaga pemikir yang berbasis di Sydney—menempatkan India sebagai negara terkuat ketiga di kawasan Asia-Pasifik, hanya di bawah Amerika Serikat dan Tiongkok.
Posisi ini menandai pergeseran signifikan dari klasifikasi India sebelumnya sebagai “kekuatan menengah” pada tahun 2024.
Menurut para analis, penilaian ulang ini mencerminkan meningkatnya kemampuan militer dan ekonomi India, serta lingkungan kawasan yang semakin dipengaruhi oleh sikap asertif Tiongkok.
![Pasukan Angkatan Darat India melakukan latihan militer di Jaisalmer, negara bagian Rajasthan, pada bulan November. [Kementerian Pertahanan India/X]](/gc9/images/2025/12/31/53335-india_2-370_237.webp)
Peningkatan kemampuan militer
Kemampuan militer India menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan Lowy menempatkannya di peringkat keempat dunia.
Peningkatan ini terjadi di tengah ketegangan yang terus membara dengan Tiongkok, menurut para pengamat di New Delhi.
Kedua negara masih terlibat dalam kebuntuan berkepanjangan di sepanjang Line of Actual Control (LAC), sebuah garis batas de facto yang telah menjadi lokasi konfrontasi berulang sejak tahun 2020.
Bentrokan pada bulan Juni 2022, yang menewaskan 20 tentara India dan empat tentara Tiongkok, menjadi insiden mematikan pertama di perbatasan Himalaya dalam hampir setengah abad terakhir.
Sejak insiden tersebut, Beijing telah memperluas pembangunan jalan, jaringan kereta api, serta infrastruktur militer dwiguna di wilayahnya yang berbatasan dengan India.
India merespons dengan memperkuat infrastruktur perbatasan, memperluas jaringan jalan segala cuaca guna mempercepat pengerahan pasukan, serta mengembangkan program rudal baru—termasuk Agni-P—sebagai bagian dari apa yang oleh analis disebut sebagai sinyal strategis terukur kepada Beijing.
“Persaingan dengan Tiongkok telah mendorong India untuk mempertajam fokus pertahanan, militer, dan ekonominya,” kata Amar Malhotra, akademisi di New Delhi yang mengkhususkan diri pada urusan strategis India.
"Setiap peningkatan besar berlangsung dalam konteks persaingan dengan Beijing," ujarnya kepada Focus.
World Directory of Modern Military Aircraft juga baru-baru ini menempatkan India sebagai kekuatan udara peringkat ketiga dunia, di atas Tiongkok dan hanya di bawah Amerika Serikat serta Rusia.
Dalam analisis bulan Oktober, Newsweek menyebut perkembangan ini sebagai “pergeseran mengejutkan dalam kekuatan militer global,” di mana “India telah melompati Tiongkok untuk mengklaim gelar Angkatan Udara terkuat ketiga di dunia.”
“Meski Amerika Serikat tetap memimpin, diikuti Rusia, kebangkitan India menandai perubahan dramatis dalam keseimbangan strategis Asia,” tambah laporan itu.
Lonjakan kemampuan ekonomi
Laporan Lowy Institute juga menyoroti meningkatnya profil ekonomi India.
India menempati peringkat ketiga dalam kapabilitas ekonomi dan sumber daya di masa depan, untuk pertama kalinya melampaui Jepang dalam kapabilitas ekonomi sejak indeks ini dibuat pada tahun 2018.
India telah menyalip Tiongkok sebagai tujuan investasi masuk paling menarik kedua di dunia, hanya berada di belakang Amerika Serikat.
Peringkat ini, yang didasarkan pada arus kumulatif penanaman modal asing (FDI) selama 10 tahun, menantang narasi ekonomi Tiongkok yang telah lama berlaku.
“Perubahan ini merupakan hasil dari faktor geopolitik, di mana perusahaan berupaya mendiversifikasi rantai pasok, serta meningkatnya daya tarik India sebagai tujuan investasi,” tambah laporan tersebut.
Kelemahan dalam jejaring pertahanan
India masih tertinggal dalam jejaring pertahanan, yang menjadi area terlemahnya.
Indeks Lowy menempatkan India di peringkat ke-11 dalam kategori ini, di belakang Filipina dan Thailand, yang keduanya telah secara signifikan memperluas kemitraan pertahanan sebagai respons terhadap meningkatnya postur militer Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan.
Keengganan India untuk memformalkan aliansi militer dinilai membatasi kemampuannya dalam memperkuat interoperabilitas pertahanan regional, menurut para analis.
Jepang, yang turun ke peringkat keempat secara keseluruhan, tetap menjadi salah satu negara paling berpengaruh di kawasan.
Lowy Institute menggambarkan Tokyo sebagai contoh klasik “smart power”. Lembaga itu mencatat Power Gap yang sangat positif—yakni kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang terbatas secara efisien guna menghasilkan pengaruh diplomatik, ekonomi, dan budaya yang luas di kawasan.
![Personel Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara India mengikuti operasi amfibi gabungan, latihan pertahanan pesisir, serta latihan respons terpadu udara–darat–laut terhadap ancaman maritim yang berkembang di negara bagian Gujarat pada bulan November. [Kementerian Pertahanan India/X]](/gc9/images/2025/12/31/53334-focus_photo_1-370_237.webp)