Oleh Zarak Khan |
Ketidakmampuan pasukan Venezuela menggagalkan penangkapan Nicolás Maduro oleh pasukan AS mendorong para analis mempertanyakan efektivitas persenjataan Rusia dan Tiongkok.
Sebuah tim operasi khusus AS berhasil menembus sistem keamanan Venezuela, menewaskan para pengawal Nicolás Maduro, lalu menerbangkan Maduro beserta istrinya ke Amerika Serikat untuk menghadapi proses peradilan.
Penggerebekan di Caracas pada 3 Januari menjadi tamparan memalukan yang membuka kelemahan serius arsitektur pertahanan udara terintegrasi Venezuela, yang bergantung pada sensor buatan Tiongkok dan rudal Rusia, menurut para analis pertahanan.
Dukungan Tiongkok terhadap Venezuela
Upaya Tiongkok untuk menjalin hubungan militer di Amerika Latin, khususnya dengan Venezuela, mencakup penjualan senjata, program pelatihan, dan diskusi terkait pertahanan.
![Cuplikan gambar dari Flightradar24 menunjukkan wilayah udara Venezuela yang kosong ketika ledakan mengguncang ibu kota Caracas pada 3 Januari. [Flightradar24/AFP]](/gc9/images/2026/01/08/53419-airspace-370_237.webp)
Melalui dana pinjaman, proyek infrastruktur, dan dukungan diplomatik, Beijing membantu rezim Maduro bertahan dari sanksi Amerika Serikat.
Kemitraan tersebut ditingkatkan pada tahun 2023, ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Maduro mendeklarasikan “kemitraan strategis sepanjang waktu.” Retorika ini menegaskan ambisi Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya di Amerika Latin.
Menurut laporan Dewan Hubungan Luar Negeri (Council on Foreign Relations) pada Juni lalu, Venezuela menjadi pembeli terbesar perangkat keras militer buatan Beijing di Amerika Latin setelah Amerika Serikat melarang seluruh penjualan senjata komersial ke Caracas sejak tahun 2006.
Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington, Venezuela berkontribusi sekitar 85,8% dari total penjualan senjata Tiongkok di Amerika Utara dan Selatan sepanjang periode 2010–2020.
Tampaknya dana tersebut terbuang sia-sia.
Persenjataan AS lebih unggul
Penggerebekan terhadap Maduro, menurut Newsweek pada 6 Januari, menyoroti tidak hanya kuatnya kemampuan intelijen AS di Caracas, tetapi juga keterbatasan—atau setidaknya efektivitas operasional—radar buatan Tiongkok yang ditempatkan di Venezuela.
“Ketika pesawat tempur AS mendekati pantai Venezuela, Amerika Serikat mulai mengombinasikan berbagai informasi yang disediakan oleh SPACECOM [Komando Antariksa AS], CYBERCOM [Komando Siber AS], serta unsur lain dalam gugus tugas antar-lembaga untuk membuka jalur operasi di udara,” ujar Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, dalam konferensi pers pada 3 Januari di Florida.
Langkah-langkah tersebut berhasil melumpuhkan pertahanan udara Venezuela, yang mencakup radar JY-27A buatan badan usaha milik negara China Electronics Technology Group Corp serta sistem Rusia seperti rudal S-300VM yang dirancang untuk melindungi lokasi-lokasi penting, termasuk Caracas.
Beijing memasarkan radar-radar tersebut sebagai sistem yang mampu mendeteksi pesawat siluman AS. Venezuela mulai menggunakan sistem tersebut pada bulan September.
Pada Oktober lalu, Menteri Pertahanan Venezuela Jenderal Vladimir Padrino López mengklaim jaringan tersebut berhasil mendeteksi pesawat tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat pada jarak 75 kilometer dari garis pantai Venezuela.
Jaringan yang lumpuh
Kegagalan sistem impor mahal Venezuela untuk “mendeteksi atau mencegat pasukan AS” pada 3 Januari memunculkan pertanyaan tentang efektivitas teknologi militer Tiongkok, kata David Wurmser, mantan penasihat pemerintah AS.
“Seluruh pertahanan udara benar-benar lumpuh,” kata Wurmser kepada Nikkei Asia, seraya membandingkannya dengan pertahanan udara Iran yang tidak efektif selama serangan Israel dan Amerika Serikat tahun lalu.
“Ini sekali lagi memperlihatkan kelemahan senjata Tiongkok/Rusia/Iran,” tambahnya.
Para analis militer menilai insiden Caracas sebagai kemunduran bagi industri pertahanan Tiongkok, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menghadapi resistensi dari para pelanggan. Data industri persenjataan yang dihimpun oleh Stockholm International Peace Research Institute menunjukkan ekspor senjata Tiongkok mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir.
Buruknya penjualan tersebut terjadi setelah negara-negara klien berulang kali menyampaikan keluhan, mulai dari persoalan pemeliharaan hingga buruknya integrasi dengan sistem terdahulu.
Setidaknya 23 negara, termasuk Venezuela dan Pakistan, telah mengakuisisi radar pertahanan udara buatan Tiongkok, menurut Eric Hundman, seorang analis Tiongkok.
“Laporan berkala tentang masalah kemampuan dan keandalan” menunjukkan produsen Tiongkok kesulitan bersaing secara efektif di sektor ini, tulis Hundman dalam laporan untuk China Aerospace Studies Institute yang berafiliasi dengan Angkatan Udara AS pada Maret lalu.
Keraguan terhadap keandalan perangkat keras Tiongkok kian diperparah oleh gejolak di dalam institusi militernya sendiri, termasuk pembersihan besar-besaran terhadap perwira senior Tentara Pembebasan Rakyat yang menangani pengadaan dan persenjataan rudal—yang oleh para pengamat dipandang sebagai indikasi kelemahan institusional yang lebih dalam.
'Tidak beroperasi'
Meski demikian, pemeliharaan yang buruk dapat merusak bahkan sistem pertahanan terbaik sekalipun.
Sebuah laporan bulan Juni oleh Miami Strategic Intelligence Institute (MSI²) menyebut adanya “kemerosotan operasional dan manipulasi” dalam sistem pertahanan udara Venezuela dan memperingatkan kondisinya telah mencapai "tahap kritis.”
Lebih dari 50% radar jarak jauh JYL-1 dan JY-11B buatan Tiongkok dilaporkan “tidak beroperasi karena kekurangan suku cadang,” menurut laporan tersebut.
Laporan tersebut juga menyebutkan penerbangan jet tempur Su-30MK2 buatan Rusia “sangat dibatasi,” sementara armada K-8W Karakorum buatan Tiongkok beroperasi dengan tingkat ketersediaan di bawah 30% dan “tidak dilengkapi radar udara-ke-udara.”
![Sistem radar pengawasan udara jarak jauh JY-27A buatan Tiongkok ditampilkan dalam gambar tanpa tanggal ini. Sistem tersebut merupakan bagian dari portofolio ekspor militer Beijing. [Lembaga Pertahanan Tiongkok]](/gc9/images/2026/01/08/53418-_jy-27a_-370_237.webp)