Kriminalitas & Keadilan

Penangkapan Maduro picu wacana serangan serupa terhadap pimpinan Taiwan

Analis menilai strategi Beijing di Taiwan masih mengandalkan tekanan, belum berani menargetkan pimpinannya.

Eks diktator Venezuela Nicolás Maduro tampak diborgol, mata ditutup, dan mengenakan headphone di atas kapal USS Iwo Jima setelah dia dan istrinya disergap dalam penggerebekan di Caracas pada 3 Januari. [Militer AS]
Eks diktator Venezuela Nicolás Maduro tampak diborgol, mata ditutup, dan mengenakan headphone di atas kapal USS Iwo Jima setelah dia dan istrinya disergap dalam penggerebekan di Caracas pada 3 Januari. [Militer AS]

Oleh Jia Feimao |

Serangan AS yang menangkap diktator Venezuela Nicolás Maduro memicu perdebatan di kalangan netizen berbahasa Tionghoa, termasuk seruan agar Beijing menangkap Presiden Taiwan Lai Ching-te. Tiongkok telah melatih skenario yang menargetkan pimpinan Taiwan, tetapi analis mengatakan kecil kemungkinan Beijing mengambil tindakan itu.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak pernah menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk menguasainya.

Setelah pasukan AS menangkap Maduro di Caracas pada 3 Januari, berita itu cepat menyebar di media sosial berbahasa Tionghoa. Di Weibo, beberapa akun berhaluan nasionalis mempertanyakan mengapa Beijing tidak bisa “melakukan hal yang sama” di Taiwan dan menangkap Lai.

Tiongkok telah membangun fasilitas latihan yang meniru jalan-jalan di sekitar kompleks Kantor Presiden Taiwan di Taipei dan menggunakannya untuk simulasi skenario “penggal kepala.” Media Taiwan baru-baru ini mengutip sumber militer yang menyebutkan PLA menggelar latihan terkait di pangkalan militer di Mongolia Dalam, termasuk latihan lapangan, simulasi serangan, dan operasi udara.

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, di Moskow pada 9 Mei dalam rangka peringatan 80 tahun kemenangan Uni Soviet atas Nazi dalam Perang Dunia II. [Zhang Ling/Xinhua via AFP]
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, di Moskow pada 9 Mei dalam rangka peringatan 80 tahun kemenangan Uni Soviet atas Nazi dalam Perang Dunia II. [Zhang Ling/Xinhua via AFP]

Menurut laporan Nikkei Asia pada Oktober 2025, ukuran area replika itu bertambah hampir tiga kali lipat sejak 2020 dan sengaja dipublikasikan untuk memberi tekanan psikologis kepada Taiwan.

Setelah penangkapan Maduro, tagar terkait menempati posisi nomor satu di daftar pencarian populer Weibo dan mencatat lebih dari 600 juta tayangan dalam 24 jam, menurut data platform yang dilaporkan The New York Times pada 6 Januari.

Di bawah sebuah postingan Xinhua yang dikelola negara, salah satu komentar populer menyebut operasi AS itu sebagai “pelajaran yang sangat penting — terutama bagi Taiwan.”

Seorang pengguna lain menulis: “Kalau AS bisa menangkap presiden negara lain, Tiongkok pasti bisa menangkap Lai Ching-te.”

Para pakar memberikan pandangannya

Menurut BBC, frasa “sekarang Venezuela, besok Taiwan?” dengan cepat menjadi pusat perdebatan daring. Namun, para pakar internasional menilai peluang Beijing melakukan operasi serupa sangat rendah.

Ryan Hass, peneliti senior di Brookings Institution, menulis di Twitter bahwa "Beijing selama ini menahan diri dari melakukan tindakan langsung terhadap Taiwan bukan karena ingin mematuhi hukum dan norma internasional. Namun, Tiongkok lebih memilih menempuh strategi pemaksaan tanpa kekerasan.

Bonnie Glaser, direktur pelaksana program Indo-Pasifik di German Marshall Fund, menulis di Twitter bahwa "Operasi di Venezuela bukanlah cetak biru bagi Tiongkok untuk menguasai Taiwan, dan menangkap Presiden Lai Ching-te kemungkinan besar tidak bermanfaat bagi reunifikasi Beijing."

“Penguasaan Taiwan bergantung pada kemampuan Tiongkok—yang berkembang, tetapi belum memadai—bukan yang dilakukan Trump di belahan dunia lain,” kata Shi Yinhong, profesor hubungan internasional di Renmin University of China di Beijing, menurut Kantor Berita Pusat Taiwan.

Reaksi di Taiwan

Perdebatan daring di Taiwan terpecah tajam. Sebagian berpendapat peristiwa itu akan memperkuat klaim kedaulatan Beijing atas Taiwan. Sementara yang lain menyatakan serbuan AS mampu menembus pertahanan yang dibangun oleh Tiongkok dan Rusia di Venezuela, dan hal itu bisa meningkatkan keyakinan terhadap pertahanan Taiwan mengingat ketergantungannya pada penjualan persenjataan AS.

United Daily News Taiwan melaporkan pada 4 Januari, Jenderal purnawirawan Wu Sz-huai menyatakan serangan “penggal kepala” kemungkinan dikombinasikan dengan operasi besar seperti invasi atau blokade, sementara serangan tunggal tidak bisa menggantikan kampanye lintas-domain.

Liberty Times pada 6 Januari mengutip sumber militer Taiwan yang menyatakan militer telah membangun perlindungan berlapis di sekitar kompleks Istana Presiden dan pusat komando lainnya, serta menyesuaikan penempatan pasukan di Wilayah Metropolitan Taipei.

Sumber tersebut mengatakan penempatan pasukan itu mencakup rudal pertahanan udara jarak menengah dan pendek, artileri, sistem anti-drone, serta pasukan garnisun Taipei yang terdiri dari marinir dan polisi militer reaksi cepat.

Sementara itu, beberapa netizen Tiongkok menyiasati sensor dengan berulang kali menyebut judul lagu pop Fish Leong 2005, “Sayang Bukan Kamu,” sebagai kode untuk mengekspresikan penyesalan bahwa operasi itu tidak menyergap Presiden Xi Jinping.

Media Taiwan melaporkan sensor Tiongkok telah menarik lagu itu dari peredaran.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link