Kapabilitas

AS dan Filipina inspeksi pangkalan Batanes baru di Selat Luzon

Penguasaan wilayah Filipina utara menjadi kunci untuk menghalangi invasi Tiongkok ke Taiwan.

Tentara Filipina mengikuti upacara pengibaran bendera pada 29 Juni 2023, di Pulau Mavulis, Batanes, Filipina. [Ezra Acatab/Pool/AFP]
Tentara Filipina mengikuti upacara pengibaran bendera pada 29 Juni 2023, di Pulau Mavulis, Batanes, Filipina. [Ezra Acatab/Pool/AFP]

Oleh Shirin Bhandari |

Komandan AS dan Filipina menginspeksi pangkalan operasi garis depan yang baru dibuka di Selat Luzon, bukti eratnya koordinasi di tengah upaya Manila memperkuat pertahanan di koridor strategis antara Laut Tiongkok Selatan dan Pasifik barat.

Desember lalu, delegasi gabungan Komando Luzon Utara Letjen Aristotle Gonzalez dan Atase Angkatan Udara AS Kolonel William Herbert meninjau fasilitas Mahatao di Pulau Batan. Komando Luzon Utara mengatakan negara sekutu meninjau medan dan infrastruktur untuk menilai kelayakan operasional dan strategis guna mendukung interoperabilitas di masa mendatang, dilaporkan Naval News.

Filipina meresmikan Mahatao bulan Agustus lalu. Militer Filipina menyebutnya platform pemantauan domain maritim serta bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, yang dijaga sedikit tentara tetapi dengan kesiagaan tinggi.

Pembangunannya mencakup dermaga, rampa peluncuran perahu, dan area helipad, demikian dilaporkan Naval News, mengutip analisis citra satelit dan foto darat dari 2023 hingga peresmian pangkalan itu. Rampanya mendukung kapal patroli kecil dan mungkin kapal tanpa awak, memperluas opsi operasi di pulau-pulau paling utara, tambah Naval News.

Rute penting bagi angkatan laut Tiongkok

Pangkalan itu penting karena letak geografisnya. Pejabat AS memandang Selat Luzon dan Kanal Bashi di dekatnya sebagai jalur utama yang mungkin direbut AL Tiongkok jika ingin merangsek ke Samudra Pasifik jika terjadi krisis, dilaporkan Newsweek edisi Desember.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan telah berulang kali mengancam untuk merebutnya. Filipina dan Taiwan berjarak 112 km pada titik terdekatnya.

Jalur laut ini sangat penting bagi posisi regional Tiongkok, kata Jaime Ocon, rekan peneliti di Taiwan Security Monitor, kepada Naval News. "Menutup jalur laut ini sangat penting bagi doktrin Anti-Akses/Penangkalan Wilayah (A2/AD) Tiongkok," katanya.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Filipina menggunakan Batanes dalam latihan besar. Militer AS mengerahkan Misil Serangan Laut Korps Marinir AS ke provinsi itu saat latihan Balikatan 2025, unjuk kemampuan persenjataan anti-kapal berbasis pantai yang dapat menenggelamkan kapal musuh yang melintasi selat itu. Marinir Filipina berencana mengerahkan baterai misil pertahanan pantai BrahMos sebagai bagian dari postur Luzon Utara, dilaporkan Naval News bulan Desember.

Bagi Manila, skenario Taiwan membawa pertaruhan domestik. Keterlibatan Filipina mungkin sulit dihindari mengingat letak geografis dan keberadaan pekerja Filipina di Taiwan, kata Presiden Ferdinand Marcos Jr.

Mencegah Tiongkok menguasai Kanal Bashi

AS mengerahkan pasukan dan peluncur misil anti-kapal ke Filipina utara saat latihan gabungan yang rutin dilakukan, sebagai upaya mencegah kapal perang Tiongkok menguasai Kanal Bashi dalam skenario Taiwan, dilaporkan Reuters bulan Oktober.

Serangan Tiongkok terhadap Taiwan akan jauh lebih sulit dilakukan jika Tiongkok tidak menguasai Filipina utara, kata Jenderal (purn.) Emmanuel Bautista, mantan kepala staf Angkatan Bersenjata Filipina, kepada Reuters.

Tiongkok telah memperingatkan Filipina agar tidak memasang sistem pencegat kapal laut NMESIS dan sistem misil AS lainnya, menyebut hal itu "mengundang kehancuran sendiri". Pasukan AS menggunakan Batanes untuk latihan NMESIS dengan mitra Filipina, menandai penempatan pertama sistem itu di Filipina untuk latihan kering, dilaporkan Newsweek edisi Desember.

"Saat ini, saya rasa hal itu [kerja sama pertahanan AS-Filipina] berpengaruh langsung terhadap rencana Taiwan milik Beijing dengan menunjukkan peningkatan kehadiran AS di garis depan, memberi sinyal bahwa serangan Beijing akan memicu tanggapan koalisi yang lebih besar, dan dengan demikian meningkatkan ketidakpastian politik dan militer Tiongkok," kata peneliti Ocon kepada Naval News.

Perluasan akses AS akan meningkatkan intelijen, pengawasan, dan pengintaian, yang otomatis meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh dan anti-kapal gabungan, katanya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link