Oleh Focus dan AFP |
TOKYO -- Jika diplomasi sama bergantungnya pada suasana hati seperti halnya kebijakan, Korea Selatan dan Jepang memberikan pelajaran berharga yang tidak terduga. Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Presiden Lee Jae Myung berduet menabuh drum seusai perundingan.
Kedua pemimpin, dengan seragam kaus olahraga biru yang menyandang nama masing-masing, mengunggah gambar bermain musik di X setelah pertemuan di kampung halaman Takaichi, Nara.
Lee mengunggah video peristiwa itu di X pada 13 Januari, dan menulis, "Awalnya canggung, tetapi lama-kelamaan, suara drum kami berpadu menjadi satu."
"Sebagaimana kami saling menghormati perbedaan dan menemukan ritme bersama, saya berharap Korea dan Jepang juga dapat memperdalam kerja sama dan menjadi lebih dekat," tambahnya.
![PM Jepang Sanae Takaichi (ka) dan Presiden Korsel Lee Jae Myung bermain drum setelah rapat puncak 13 Januari di Nara, Jepang. [Kantor Urusan Publik Kabinet Jepang]](/gc9/images/2026/01/15/53514-1-370_237.webp)
![PM Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Korsel Lee Jae Myung mengunjungi Kuil Horyu-ji di prefektur Nara, Jepang, pada 14 Januari. [Kantor Perdana Menteri Jepang]](/gc9/images/2026/01/15/53516-000190019-370_237.webp)
Juru bicara kepresidenan Korea Selatan, Kim Nam-joon, mengatakan bahwa kegiatan menabuh drum bersama itu berlangsung setelah pembicaraan resmi dan bahwa pihak Jepang menyiapkan sesi musik informal itu sebagai "acara kejutan".
Takaichi, yang saat kuliah menjadi pemain drum di band heavy metal, mengatakan mereka memainkan dua lagu K-pop: "Golden" dari film animasi pemenang Golden Globe "KPop Demon Hunters" dan "Dynamite" dari BTS.
Klip yang diunggah Takaichi di X memperlihatkan dia bermain drum penuh semangat, dengan senyum semringah.
"Hari ini saya mewujudkan impian saya," kata Lee, yang memberi tahu Takaichi pada Konferensi Tingkat Tinggi APEC tahun lalu bahwa mimpinya adalah bermain drum.
Setelah penampilan, mereka menandatangani dan bertukar stik drum.
Simbolisme halus, agenda praktis
Simbolisme halus itu seiring dengan agenda praktis kedua belah pihak. Kedua pemimpin sepakat untuk bekerja lebih erat dalam bidang ketahanan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta masalah sosial bersama, kata kantor kepresidenan Korea Selatan.
Mereka juga sepakat untuk meningkatkan upaya memerangi kejahatan transnasional, termasuk penipuan.
Rapat puncak itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional, perselisihan diplomatik panas antara Jepang dan Tiongkok, yang dipicu oleh ucapan Takaichi bulan November lalu bahwa Jepang dapat melakukan intervensi militer jika Tiongkok menyerang Taiwan.
Lee, kendati menekankan koordinasi dengan AS, mendukung diplomasi trilateral dengan Tiongkok, dilaporkan Nikkei Asia. Sarannya menunjukkan perbedaan nuansa saat kedua sekutu AS itu berupaya menjaga posisinya di kawasan yang berubah cepat.
Secara bilateral, kenangan pahit pendudukan kejam Jepang di semenanjung Korea dari tahun 1910 hingga 1945 membayangi hubungan Tokyo-Seoul. Kedua pemimpin membahas langkah penyembuhan luka sejarah itu, kata Seoul.
Mereka sepakat untuk melakukan tes DNA guna mengidentifikasi penambang batu bara yang meninggal dalam banjir 1942 di tambang Chosei di Jepang barat. Korbannya termasuk 136 romusa Korea.
LSM Jepang menemukan jenazah mereka bulan Agustus lalu, dilaporkan Korea.net saat itu.
Perbedaan aliran politik
Perbedaan latar politik Takaichi dan Lee (sayap kanan dan kiri) membuat kebersamaan mereka menjadi hal yang tidak terduga dan lebih mungkin bertahan lama, kata Ayumi Teraoka, lektor ilmu politik di Brandeis University di Massachusetts, dikutip Nikkei Asia.
Meskipun Lee beraliran kiri, dia mendukung hubungan erat dengan Jepang, yang membuatnya sejalan dengan kubu konservatif pro-bisnis di Korea Selatan, kata Teraoka.
Lee dan Takaichi berfokus pada kesamaan kedua negara, kata Leif-Eric Easley, profesor studi internasional di Ewha Womans University di Seoul, kepada Nikkei Asia. "Secara politik, Lee yang progresif dan Takaichi yang konservatif mungkin bukan sekutu alami, tetapi mereka berdua politisi yang berfokus pada kepentingan nasional," ujar Easley.
"Korea Selatan dan Jepang memiliki banyak kesamaan dalam hal ekonomi dan keamanan, mulai dari keselamatan maritim hingga tantangan demografis dan kerja sama lingkungan," tambahnya.
Saat kedua pemerintah terus mengisyaratkan kemitraan yang "berorientasi masa depan", Nikkei Asia menuliskan logika strategis di balik koreografi diplomatik ini. "Jepang dan Korea membutuhkan keterlibatan AS di kawasan ini, dan menekankan pentingnya hubungan trilateral itu sendiri merupakan pesan strategis yang sangat penting," kata Rintaro Nishimura, salah satu pendiri US-ROK-Japan Next Generation Study Group.