Oleh Focus |
Demi keamanan regional di Indo-Pasifik, pasukan AS berencana memperluas cakupan operasi dengan menempatkan Korea Selatan di pusat strategi itu, menurut pejabat militer.
Jenderal Xavier T. Brunson, komandan Pasukan Gabungan (CFC) Korea-AS, Pasukan AS di Korea (USFK), dan Komando PBB (UNC), telah berulang kali menekankan pentingnya posisi strategis Seoul.
Korsel ditempati "satu-satunya pasukan AS yang ditugaskan di benua Asia di rantai pulau terdepan," kata Brunson saat berpidato di Forum Pertahanan Honolulu pada 12-13 Januari.
Rantai pulau terdepan termasuk Jepang, Taiwan, dan Filipina.
![Jenderal Angkatan Darat AS Xavier T. Brunson di Forum Pertahanan Honolulu pada 12-13 Januari menyoroti peran semenanjung Korea dalam operasi militer di Indo-Pasifik. [USFK]](/gc9/images/2026/01/20/53565-brunson-370_237.webp)
Sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan di Korea Selatan, menurut Pentagon.
Brunson menyoroti "potensi situasi tersebut, dengan dukungan pasukan sekutu yang bertugas bersama setiap harinya."
Penangkalan "dimulai dari level taktis," katanya menambahkan bahwa sekitar 500.000 pasukan aktif Korsel yang bermitra dengan pasukan AS di semenanjung memberikan potensi yang "luar biasa".
Menanggapi pertanyaan soal biasanya komando militer di Korsel tidak melibatkan diri dalam permasalahan keamanan regional lainnya, Brunson menyatakan ada perubahan cara berpikir.
"Saya rasa sekarang ada pengakuan akan pentingnya Korea dan semenanjung ini," katanya.
Pergeseran strategi
Perkataan di atas mencerminkan pergeseran strategi USFK, kata analis dengan menunjukkan pernyataan serupa oleh Brunson beberapa bulan terakhir.
Dalam ceramah pada 10 Desember di National Defense University di Washington, DC, Brunson menggambarkan semenanjung Korea sebagai "engsel antara benua Asia dan Pasifik."
Dia mendorong para mahasiswa untuk menempatkan "Korea di tengah-tengah gambaran mental Indo-Pasifik dan berpikir dalam hal kemampuan, jaringan, dan irisan dilema dengan pihak lawan."
Media Korsel menyebut Washington telah lama menggambarkan aliansi AS-Korsel sebagai " pilar penting," tetapi penggunaan "pilar sentral" oleh Brunson mengisyaratkan kerangka kerja yang lebih luas bagi USFK dalam pendekatan Indo-Pasifik, dilaporkan Chosun Daily pada 15 Desember.
Brunson membuat pernyataan serupa dalam Forum Kebijakan Gabungan ROK-AS ke-2 di Seoul pada 29 Desember. ROK adalah singkatan untuk Republik Korea, nama resmi Korea Selatan.
"Korea tidak hanya menghadapi ancaman terhadap semenanjung," ucap Brunson dalam pidatonya. "Korea berada di persimpangan dinamika regional yang lebih luas yang menentukan keseimbangan kekuatan di seluruh Asia Timur Laut."
Dia mengutip versi terbaru Strategi Keamanan Nasional AS, terbit November lalu, yang menyoroti "fokus yang kuat dan berkelanjutan pada penangkalan guna mencegah perang di Indo-Pasifik."
Dokumen itu mencerminkan semakin pentingnya Korea Selatan dalam menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik, kata Brunson, menurut laporan Korea Times.
"Peran Korea sangat sentral," katanya. "Kemampuan, letak geografi, dan kesiapan Korea menjadikannya jangkar utama dari setiap upaya untuk menjaga perdamaian di Asia Timur Laut."
Pergeseran sudut pandang
Brunson mengemukakan argumen itu dalam artikel 16 November yang memperkenalkan "Peta Timur di Atas". Dengan mengubah orientasi standar, "terlihat peran Korea sebagai sumbu strategis alami."
Dalam pernyataan yang dimuat Chosun Daily November lalu, Brunson menggambarkan Korsel berada di persimpangan poros persaingan -- Korut di utara, Tiongkok di barat, dan Rusia di timur laut -- serta mengatakan bahwa postur multidireksional akan memperkuat penangkalan.
"Menempati posisi yang dapat menimbulkan kerugian bagi lawan dari arah mana pun akan memperkuat garis pertahanan terdepan Semenanjung Korea," ujarnya.
Brunson menyebut hal ini " fleksibilitas strategis" yang bertujuan memperkuat penangkalan semenanjung sambil mengantisipasi kemungkinan lain di dekat rantai pulau terdepan. Pendekatan ini "tidak mengalihkan fokus dari Semenanjung Korea, tetapi mengakui bahwa penangkalan di lokasi ini membentang keluar guna menjaga perdamaian di seluruh Indo-Pasifik," katanya.
Latihan militer
Militer AS rutin mengadakan latihan bilateral dan multilateral dengan para sekutu di Indo-Pasifik, termasuk Korea Selatan, Jepang, dan Filipina.
Korea Selatan dan Amerika Serikat mengadakan dua latihan militer berskala besar setiap tahun -- Freedom Shield pada musim semi dan Ulchi Freedom Shield pada musim panas.
"Latihan adalah urat nadi militer," kata Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back dalam wawancara yang disiarkan Yonhap News TV pada 6 Januari.
"Saat ini, kami berencana untuk melakukan latihan gabungan sesuai jadwal," ucapnya.
Jamie Choi, jubir USFK, CFC, dan UNC, memastikan pasukan AS ikut serta dalam latihan Freedom Shield mendatang yang berfokus pada pertahanan, dilaporkan Stars and Stripes pada 8 Januari.
Latihan itu dirancang untuk memperkuat aliansi AS-Korsel, meningkatkan postur pertahanan gabungan, dan meningkatkan kesiapan bersama, kata Choi melalui email.
!["Peta Timur di Atas” versi Komandan USFK Jenderal Xavier T. Brunson memutar peta Asia Timur 90 derajat, menempatkan Korea Selatan di tengah. Diterbitkan 16 November. [USFK]](/gc9/images/2026/01/20/53564-east_up_map-370_237.webp)