Oleh AFP dan Focus |
TOKYO -- Jumlah wisatawan ke Jepang pada 2025 mencapai rekor tertinggi, tetapi penurunan tajam wisatawan Tiongkok bulan Desember lalu menyoroti dampak ketegangan hubungan dengan Beijing.
Menurut Kementerian Perhubungan Jepang, 42,7 juta kedatangan tahun lalu melampaui rekor 37 juta pada 2024. Nilai tukar yen yang lemah meningkatkan daya tarik dari destinasi "daftar impian".
Namun, jumlah wisatawan Tiongkok bulan lalu turun sekitar 45% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar 330.000.
Pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada bulan November bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika Taiwan diserang memicu reaksi diplomatik sengit dari Tiongkok, yang mengimbau warganya untuk tidak mengunjungi Jepang.
![Wisatawan asing ke Jepang per negara asal, 2013–2025. Jumlah kunjungan meningkat hingga membuat rekor pada 2025, meskipun wisatawan Tiongkok menurun di akhir tahun. [Data dari Japan National Tourism Organization/Focus]](/gc9/images/2026/01/22/53598-tourism-370_237.webp)
Pengumuman 20 Januari menunjukkan bahwa peringatan itu berdampak pada jumlah wisatawan.
Tiongkok biasanya merupakan sumber wisatawan terbesar untuk Jepang, tetapi posisi itu kini bergeser di tengah ketegangan diplomatik.
Korsel menjadi pengunjung terbanyak, dengan 9,46 juta kedatangan pada 2025, diikuti Tiongkok daratan -- tidak termasuk Hong Kong -- dengan 9,1 juta, dan Taiwan dengan 6,76 juta, menurut Japan National Tourism Organization.
Terpikat oleh pelemahan yen, wisatawan Tiongkok menghabiskan uang sekitar 3,7 miliar dolar AS pada kuartal ketiga.
Setelah adanya peringatan perjalanan Beijing, Li Benjing, karyawan agen perjalanan kecil di Tokyo yang membidik wisatawan Tiongkok, mengatakan kepada AFP bahwa penjualan perusahaan itu turun 90%.
"Dampaknya terhadap bisnis kami sangat besar," katanya.
Menteri Perhubungan Yasushi Kaneko mengatakan bahwa jumlah pengunjung total yang melampaui 40 juta untuk pertama kalinya merupakan "pencapaian signifikan".
"Meskipun jumlah wisatawan Tiongkok menurun bulan Desember lalu, kami berhasil menarik banyak orang dari berbagai negara untuk mengimbangi hal itu," katanya, menambahkan bahwa terjadi peningkatan "tajam" jumlah wisatawan dari Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.
"Kami juga berharap dan berusaha agar wisatawan Tiongkok kembali berkunjung ke Jepang sesegera mungkin," tambahnya.
Peningkatan itu sebagian karena kebijakan pemerintah mempromosikan objek wisata, mulai dari Gunung Fuji yang agung hingga kuil dan bar sushi di daerah terpencil di negara kepulauan itu.
Pemerintah menetapkan target ambisius 60 juta wisatawan per tahun pada 2030.
Terlalu banyak wisatawan
JTB, agen perjalanan terbesar di Jepang, memperkirakan jumlah wisatawan total tahun ini "sedikit lebih rendah" dibandingkan tahun 2025 karena penurunan permintaan dari Tiongkok dan Hong Kong.
Meskipun demikian, pendapatan pariwisata diperkirakan tumbuh karena kenaikan tarif penginapan dan belanja pengunjung.
Menurut JTB, karena meningkatnya jumlah pengunjung berulang, tempat wisata bergeser dari wilayah perkotaan ke daerah pedesaan.
Pemerintah ingin menyebarkan wisatawan secara lebih merata ke seluruh Jepang, karena banyak keluhan soal padatnya tempat wisata populer seperti Kyoto.
Sebagaimana di destinasi wisata global lainnya seperti Venesia di Italia, telah terjadi peningkatan penolakan dari warga ibu kota kuno itu.
Kota sarat tradisi ini, hanya berjarak beberapa jam dari Tokyo dengan kereta cepat, terkenal dengan geisha berkimono dan kuil Buddha yang semakin padat pengunjung.
Warga setempat mengeluhkan perilaku tidak sopan wisatawan yang ingin berfoto dengan geisha, membuang sampah sembarangan, dan memacetkan lalu lintas.
Di tempat lain, pejabat yang kesal mengambil langkah dengan membuat kebijakan baru, termasuk mengenakan karcis masuk dan batasan harian jumlah pendaki Gunung Fuji.
Pada 2024, para pekerja sempat memasang penghalang di luar toko swalayan untuk mencegah wisatawan berdiri di jalan saat memotret pemandangan gunung bersalju.
![Wisatawan memakai kimono saat berfoto di luar kuil di Kyoto, Jepang, pada 11 Desember. [Alberto Pezzali/NurPhoto via AFP]](/gc9/images/2026/01/22/53594-afp__20251227__pezzali-notitle251211_nplii__v1__highres__dailylifeinkyoto-370_237.webp)