Oleh Shirin Bhandari |
Angkatan Darat AS telah membangun kehadiran rotasi berkelanjutan di Filipina, beralih dari pengerahan jangka pendek sebelumnya. Langkah ini dilakukan seiring Washington memperluas kerja sama antar angkatan darat dengan Manila dan memperkuat kemampuan sekutu di sepanjang “rantai pulau pertama."
Rantai strategis tersebut mencakup Jepang, Taiwan, dan Filipina. Washington memberikan perhatian besar terhadap kawasan ini seiring perluasan postur kekuatan di garis depan dan interoperabilitas dengan sekutu serta mitra.
Pentagon membentuk Pasukan Rotasi Angkatan Darat-Filipina (ARF-P) pada Juli lalu. Satuan ini terdiri atas sekitar 50 personel Angkatan Darat AS Pasifik yang beroperasi dalam koordinasi dengan Satuan Tugas (Satgas) Filipina.
Satgas Filipina, yang diumumkan Washington dan Manila pada Oktober tahun lalu, “dirancang untuk menangkal tekanan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan dan meningkatkan kerja sama pertahanan aliansi,” lapor USNI News saat itu. Satuan ini terdiri dari sekitar 60 personel.
![Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi M142 (High Mobility Artillery Rocket System/HIMARS) Angkatan Darat AS dari Satuan Tugas Multi-Domain ke-1 menembakkan roket dalam Latihan Balikatan 25 di Palawan, Filipina, pada 28 April lalu. [Sersan Austin Peinado/Angkatan Darat AS]](/gc9/images/2026/02/20/54718-9006509-370_237.webp)
Satgas tersebut "tidak melibatkan pasukan tempur baru atau operasi ofensif, pengerahan sepihak, maupun pangkalan militer permanen," ungkap Armada Pasifik AS saat peluncurannya.
Baru diungkap pada Januari
Keberadaan pasukan rotasi tersebut baru diketahui publik setelah unggahan militer AS pada 29 Januari yang menampilkan personel Marinir dan Angkatan Darat AS dalam pertemuan pemimpin utama di Manila pada 12 Januari.
Misi pasukan rotasi ini "berfokus pada penguatan kemitraan antar-angkatan darat yang berkelanjutan sembari meningkatkan infrastruktur untuk melindungi keamanan, kebebasan, dan kemakmuran bagi AS, sekutu, serta mitra kami," ujar juru bicara Angkatan Darat AS Pasifik, Kolonel Isaac Taylor, dalam sebuah pernyataan pada bulan Februari sebagaimana dikutip Task & Purpose.
Taylor menyatakan pasukan tersebut tidak ditempatkan secara permanen dan mencerminkan “pergeseran menuju kehadiran rotasi yang lebih berkelanjutan, memungkinkan kolaborasi yang lebih dalam dan konsisten dengan mitra Angkatan Darat Filipina.”
Pasukan ini dirancang untuk memperluas koordinasi harian antara militer AS dan Filipina, termasuk perencanaan bersama, dukungan pelatihan, serta pembangunan infrastruktur yang memungkinkan keterlibatan lebih konsisten dibanding penempatan jangka pendek sebelumnya.
Pasukan rotasi tersebut beroperasi di tengah kerja sama Washington dan Manila untuk menggagalkan ambisi Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan.
Tiongkok mengklaim lebih dari 80 persen wilayah laut tersebut, meskipun Mahkamah Arbitrase Internasional menolak klaim itu pada tahun 2016.
Pendekatan Angkatan Darat AS di kawasan Indo-Pasifik menekankan latihan multinasional, penempatan rotasi, dan menjaga pasukan AS “siap ditempatkan di garis depan” untuk menghadapi kemungkinan darurat, menurut Angkatan Darat AS Pasifik dan seperti dilaporkan Philippine Daily Inquirer.
Kekhawatiran terhadap "penyebaran konflik"
Pasukan darat AS semakin memprioritaskan operasi pertahanan darat di Luzon utara, mengingat situasi darurat dapat mencakup invasi Tiongkok ke Taiwan dan penyebaran konflik. Di saat yang sama, pasukan tetap tersebar di seluruh Filipina untuk mendukung keamanan internal maupun eksternal, lapor USNI News pada bulan Februari.
Sejak tahun 2022, Angkatan Darat AS telah memperluas penempatan dan latihan di Filipina, menggunakan sistem persenjataan seperti HIMARS, unit pertahanan udara Patriot bersifat ekspedisi, serta sistem rudal jarak menengah yang juga dikenal sebagai Typhon.
Menurut analis geopolitik Don McLain Gill, seperti dikutip Philippine Daily Inquirer, pasukan rotasi tersebut “mengisi celah fungsional yang sebelumnya tidak ada dan membuat koordinasi menjadi lebih mulus.”
Ia menambahkan, langkah ini akan membantu melembagakan kehadiran militer AS yang lebih konsisten di Filipina.
![Para pemimpin militer Angkatan Darat AS dan Filipina menaiki helikopter Black Hawk untuk pengintaian udara di Fort Magsaysay, Filipina, pada 22 Mei lalu dalam latihan bertajuk JPMRC-X. [Pratu Jose Nunez/Angkatan Darat AS]](/gc9/images/2026/02/20/54719-aerial_reconnaissance_with_philippine_armed_forces_and_u_s_army__9061719_-370_237.webp)