Oleh Focus |
Para petinggi Korps Marinir AS (USMC) berpendapat bahwa peningkatan komando dan kendali (kodal) sangat penting untuk operasi di Pasifik barat, dan menyatakan keyakinan mereka terhadap kemampuan pasukan untuk melindungi lokasi penempatan awal di Filipina pada masa mendatang.
Pasukan non-militer Beijing yang koersif merupakan "masalah taktis", kata Letjen USMC Roger Turner, komandan III Marine Expeditionary Force, pada 10 Februari dalam konferensi WEST 2026 di San Diego, California. Dia menyebut milisi maritim Tiongkok dan dugaan spionase Tiongkok di Filipina sebagai kekhawatiran bagi Amerika Serikat dan sekutu regionalnya.
Memastikan mobilitas maritim melawan tentangan Tiongkok perlu perencanaan cermat, katanya. "Jika harus berlayar di laut sengketa, kita harus menciptakan kondisi agar dapat melakukannya ... Semuanya perlu direncanakan dengan sangat hati-hati dan dipersiapkan sebelumnya," katanya.
Turner dan para petinggi USMC lainnya di forum itu melandaskan keyakinan pada peningkatan operasi pasukan yang tersebar di bawah tekanan, dan mengatakan bahwa kodal yang andal sangat penting terutama bagi unit amfibi yang beroperasi dari darat dan matra lainnya.
![Letjen Marinir Roger B. Turner, komandan III Marine Expeditionary Force, menjadi panelis di konferensi WEST 2026 di San Diego, California, 10 Februari. [Korps Marinir AS]](/gc9/images/2026/02/26/54817-9518079-370_237.webp)
![Marinir AS dari 3rd Marine Littoral Regiment melakukan latihan tembak amunisi hidup saat Exercise Balikatan 25 di dekat Teluk Subic, Filipina, pada 7 Mei lalu. [Kopral Iyer P. Ramakrishna/Korps Marinir AS]](/gc9/images/2026/02/26/54819-9027248-370_237.webp)
"Kami telah membuat terobosan dalam hal kodal di lingkungan dengan komunikasi terganggu dan terhalang, serta di lingkungan yang diperebutkan ini," kata Turner. "Kami memiliki sistem bagus yang memberi hasil nyata dari elemen kodal terjamin yang beroperasi dari darat."
Pergeseran itu terjadi seiring meningkatnya tekanan di tingkat regional. Aktivitas militer Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan dan Selat Taiwan meningkat secara dramatis selama setahun terakhir, dan Tiongkok mengarahkan upaya paling agresif dan paling menonjolnya terhadap Filipina, menurut laporan ChinaPower pada 5 Februari yang diterbitkan Center for Strategic and International Studies yang berbasis di Washington.
Di Laut Tiongkok Selatan, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok melakukan rekor 163 operasi pada 2025, termasuk rekor jumlah latihan tembak amunisi hidup, disebut laporan itu.
Perhatian tertuju ke Teluk Subic
USMC berencana mengadakan pos penempatan awal di Teluk Subic musim panas ini. Bekas pangkalan Angkatan Laut AS itu menjadi fokus logistik militer AS seiring meningkatnya kerja sama pertahanan dengan Filipina, seperti dilaporkan USNI News bulan September lalu menyusul permintaan Washington untuk mendirikan fasilitas penyimpanan militer di sana.
Subic terletak di mulut Selat Luzon, titik strategis yang menghubungkan Laut Filipina dan Laut Tiongkok Selatan, sehingga menjadikannya sangat berharga saat Beijing memperluas pengaruhnya di perairan sengketa.
Menurut Turner, seperti yang dikutip oleh USNI News, ancaman dan kelemahan itu harus "diperlunak" agar Marinir AS dapat menggunakan fasilitas yang berbasis di Filipina jika terjadi krisis.
Dilema Beijing
Beijing telah "mengembangkan kekuatan kontra-intervensi kelas dunia dengan kemampuan kelas dunia dan mampu menahan pasukan gabungan AS dari jarak jauh," kata Turner.
Namun, mereka melupakan satu hal yang pokok, katanya.
"Saya rasa rancangan kekuatan mereka tidak memperhitungkan pasukan yang sudah dikerahkan di untaian pulau pertama, yang mampu memproyeksikan kekuatan dari medan maritim penting ke darat, udara, ruang angkasa, serta dunia maya," jelas Turner.
"Untaian pulau pertama" yang strategis itu mencakup Jepang, Taiwan, dan Filipina.
"Hal itu menciptakan dilema taktis, operasional, dan strategis bagi mereka. Mereka juga tidak memperhitungkan kontribusi berarti dari mitra dan sekutu kita," tambahnya.
Meningkatnya kerja sama AS dengan mitra di Pasifik barat menunjukkan bahwa upaya Beijing untuk memengaruhi kawasan itu agar berpihak kepadanya belum berhasil, kata Turner.
Dikutip USNI News, "pendekatan Tiongkok mendapat sambutan negatif dari banyak sekutu dan mitra kita di Pasifik," kata Turner dengan menyebut "Korea Selatan, Jepang, Filipina, Australia, dan negara lainnya."
Sementara itu, Marinir AS berfokus memastikan bahwa lokasi penempatan awal di Filipina tetap dapat digunakan jika krisis mengharuskan pergerakan melalui perairan sengketa, katanya.
![Para petinggi Korps Marinir AS berbicara saat diskusi panel di konferensi WEST 2026 di San Diego, California, 10 Februari. [Armed Forces Communications and Electronics Association]](/gc9/images/2026/02/26/54820-west_2026-370_237.webp)