Oleh Ha Er-rui |
Jepang akan meningkatkan kerja sama keamanan dengan negara-negara kepulauan Pasifik seiring meningkatnya pengaruh Tiongkok di kawasan, kata Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi, yang mengisyaratkan niat Tokyo berperan lebih besar dalam menjaga keseimbangan strategis di kawasan Pasifik.
Koizumi menyatakan hal itu dalam acara Japan-Pacific Islands Defense Dialogue (JPIDD) ketiga di Tokyo pada 23 Februari, yang dihadiri oleh pejabat dari 28 negara, pertemuan terbesar hingga saat ini.
Forum yang diluncurkan Jepang pada 2021 ini mempertemukan pemimpin pertahanan dan pejabat negara kepulauan Pasifik serta negara mitra untuk membahas kerja sama keamanan regional.
Seiring meningkatnya tantangan keamanan maritim, Koizumi berkata Jepang berencana memperdalam kerja sama dengan mitra Pasifik di berbagai bidang termasuk pertukaran personel pertahanan, penanggulangan krisis, dan keamanan siber.
![Menhan Jepang Shinjiro Koizumi berpidato di JPIDD ketiga di Tokyo, 23 Februari. Dia bertekad menjaga Pasifik sebagai 'samudra damai' melalui kerja sama penanggulangan krisis dan ketahanan. [Kemenhan Jepang/X]](/gc9/images/2026/03/05/54916-2-370_237.webp)
"Hanya ada satu hal yang harus kita lindungi. 'Samudra damai' yang bebas dan terbuka, yang berlandaskan supremasi hukum," katanya.
Koizumi kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa memperkuat kerja sama dengan negara-negara kepulauan Pasifik "sangat penting" dalam mencapai "Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka", dilaporkan oleh Kyodo News.
Tanggal 24 Februari genap empat tahun sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, kata Koizumi.
"Saya sangat berharap JPIDD menjadi platform tempat kita bersatu dalam komitmen teguh terhadap perdamaian," katanya, menurut Asahi Shimbun. "Upaya untuk mengubah status quo dengan kekerasan tidak boleh ditoleransi."
Terlepas dari meningkatnya kekhawatiran atas meluasnya pengaruh militer dan ekonomi Tiongkok di Pasifik, kerja sama pertahanan Jepang dengan negara-negara kepulauan "tidak ditujukan untuk negara tertentu, termasuk Tiongkok," katanya.
Meningkatnya persaingan strategis di antara kekuatan besar mengubah kawasan Pasifik dan dapat memaksa negara kecil memihak salah satu, kata Pio Tikoduadua, Menteri Pertahanan dan Veteran Fiji.
Dalam wawancara tertulis menjelang acara itu, dia mengatakan kepada Yomiuri Shimbun bahwa tantangan terbesar adalah "semakin meningkatnya persaingan strategis antar negara."
Fiji berupaya melindungi kedaulatan dan pendiriannya sambil bekerja sama dengan berbagai mitra, tambahnya.
Tikoduadua menyoroti kerja sama pertahanan yang berkembang dengan Jepang, khususnya dalam pengawasan maritim, penanggulangan bencana, dan pelatihan. Program Bantuan Keamanan Resmi Jepang telah memperkuat kemampuan pengawasan dan penanggulangan bencana Fiji, katanya.
"Dukungan Jepang transparan dan sejalan dengan prioritas nasional kami," katanya.
Menghadapi Tiongkok di Pasifik
Analis mengatakan peningkatan peran Jepang di Pasifik mencerminkan pergeseran strategis yang lebih besar seiring meningkatnya pengaruh Tiongkok di kawasan itu.
Jepang harus ikut melawan pengaruh Tiongkok yang makin besar, tulis Ryosuke Hanada, kandidat doktor studi internasional di Macquarie University di Sydney, Australia, dalam The Diplomat edisi Februari.
Kegiatan militer Tiongkok baru-baru ini menunjukkan bahwa persaingan strategis Barat dengan Tiongkok meluas melampaui "untaian pulau pertama", katanya. Dia menyebut pengerahan dua kapal induk bulan Juni lalu, patroli pembom strategis gabungan Tiongkok-Rusia di dekat Jepang bulan Desember, dan pesawat Tiongkok yang membidik pesawat Jepang di radar, juga Desember lalu.
Untaian pulau pertama meliputi Jepang, Taiwan, dan Filipina.
"Pasifik Barat di utara khatulistiwa ... bukan lagi zona aman," tulis Hanada, merujuk pada area yang menjadi pusat utama bagi kemampuan komando, logistik, dan serangan AS.
Tiongkok menggunakan instrumen ekonomi untuk memperluas pengaruhnya di negara-negara kepulauan Pasifik, termasuk pinjaman lunak, proyek infrastruktur, dan prakarsa investasi. Beijing melarang perjalanan wisata Tiongkok ke Palau pada 2018 untuk menekan negara itu agar memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Palau dan Kepulauan Marshall, yang keduanya mengakui Taiwan, terus menghadapi tekanan diplomatik dari Beijing.
Washington harus melibatkan mitra seperti Jepang, Australia, dan Taiwan dalam "pembagian kerja yang terstruktur", kata Hanada. Rencana itu memungkinkan sekutu memikul tanggung jawab yang lebih besar di wilayah masing-masing dan berkontribusi lebih efektif terhadap pertahanan bersama.
Di tengah kekhawatiran ini, Koizumi mengumumkan bahwa Jepang akan meluncurkan Program Keamanan Kepemimpinan Generasi Baru tahun depan, mengundang para pejabat muda dan menengah dari kemenhan negara kepulauan Pasifik dan lembaga terkait untuk bekerja di Jepang.
Tokyo hendak memperkuat kerja sama jangka panjang bukan hanya di bidang pertahanan melainkan juga di bidang yang lebih luas seperti keamanan siber dan pengembangan kebijakan keamanan.
![Jepang menjadi tuan rumah Japan-Pacific Islands Defense Dialogue (JPIDD) ketiga di Tokyo pada 23 Februari. Pejabat dari 28 negara dan satu organisasi hadir, termasuk menteri pertahanan kepulauan Pasifik dan mitra ASEAN. [Kemenhan Jepang/X]](/gc9/images/2026/03/05/54915-hb1gyolawaaiev3-370_237.webp)