Keamanan

AS dan sekutunya mengalihkan produksi pertahanan lebih dekat ke lokasi rawan konflik di kawasan Indo-Pasifik

Inisiatif baru berupaya mengintegrasikan produksi rudal, drone, dan amunisi di seluruh jaringan sekutu serta mendekatkan Eropa dengan kawasan Indo-Pasifik.

Foto udara Pentagon di Washington, 15 Mei 2023. [Sersan John Wright/Angkata Udara AU]
Foto udara Pentagon di Washington, 15 Mei 2023. [Sersan John Wright/Angkata Udara AU]

Oleh Shirin Bhandari |

Amerika Serikat dan sekutunya mempercepat upaya memindahkan produksi pertahanan lebih dekat ke potensi zona konflik di Indo-Pasifik, guna memperkuat rantai pasokan dan menjaga keberlangsungan operasi militer di dekat garis depan seiring meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Pejabat dari 16 negara pada 18 Maret menggelar pertemuan virtual mengenai keamanan dalam sidang pleno tahunan kedua Partnership for Indo-Pacific Industrial Resilience (PIPIR) yang dipimpin AS, dan menyetujui sejumlah inisiatif baru yang mencakup produksi rudal, pengembangan drone, serta manufaktur amunisi.

Dalam pernyataan bersama, para anggota menyatakan akan “menegaskan kembali komitmen untuk mempercepat kerja sama industri pertahanan” serta bekerja secara kolektif guna memperkuat ketahanan di seluruh sektor pertahanan negara sekutu. Para mitra juga bertekad mendorong “keamanan kawasan yang berkelanjutan, keamanan ekonomi, serta kemakmuran Indo-Pasifik,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Penguatan industri pertahanan

Paket terbaru tersebut mencakup inisiatif produksi motor roket berbahan bakar padat antara AS dan Jepang, perluasan kerja sama dalam penyusunan standar bersama serta rantai pasokan untuk drone militer kecil di seluruh Asia, serta penilaian terhadap kemungkinan pembangunan lini produksi amunisi kaliber 30 mm di Filipina. Para anggota juga mendukung upaya bersama untuk memproduksi sistem pesawat nirawak modular serta menyederhanakan kerja sama di masa depan antara sektor pemerintah dan industri.

Langkah tersebut mencerminkan strategi AS yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada fasilitas manufaktur terpusat yang berlokasi jauh, serta memungkinkan negara sekutu memproduksi, memperbaiki, dan merawat sistem utama lebih dekat dengan potensi "zona panas" di kawasan Asia-Pasifik. Washington membentuk PIPIR pada bulan Mei 2024, lapor Reuters.

Kemajuan sebelumnya berasal dari sejumlah inisiatif yang diumumkan pada Dialog Shangri-La Mei lalu, termasuk pusat perbaikan lini depan untuk sistem radar P-8 di Australia serta upaya awal untuk menetapkan standar bersama bagi sistem pesawat nirawak kecil, kata anggota PIPIR. Langkah-langkah awal tersebut menjadi landasan bagi perluasan inisiatif produksi dan rantai pasokan yang diumumkan tahun ini.

Proposal itu mendapat perhatian di Filipina, yang terlibat sengketa wilayah kepulauan dan batas maritim dengan Tiongkok di berbagai bagian Laut Tiongkok Selatan.

Pejabat Filipina mengatakan rencana pembangunan pabrik amunisi 30 mm tersebut telah dibahas selama berbulan-bulan, dengan salah satu rencana mencakup kemungkinan lokasi di Subic Bay, lapor Daily Tribune.

Jepang akan menjadi penopang utama

Di sisi lain, Jepang diposisikan sebagai penopang industri utama. Rencana produksi motor roket berbahan bakar padat—sistem pendorong yang digunakan dalam berbagai senjata berpemandu—akan memperluas kapasitas manufaktur di luar Amerika Serikat seraya memanfaatkan keunggulan rekayasa dan kapabilitas industri pertahanan Jepang. Agenda yang lebih luas juga mencakup mendirikan pusat perbaikan yang ditempatkan di Jepang untuk menangani mesin F-15 dan F-16.

Terkait sistem nirawak, para anggota menyepakati peningkatan kerja sama dalam pengembangan standar bersama, baterai, motor kecil, dan perluasan produksi bersama.

Penekanan tersebut mencerminkan semakin pentingnya sistem nirawak dalam peperangan modern. Bagi PIPIR, tujuannya adalah mempercepat produksi dan memperkuat rantai pasokan di antara para mitra sekutu.

Tiongkok mengecam rencana pembangunan lini produksi amunisi di Filipina.

Washington dan para sekutunya seharusnya menghindari membawa “konfrontasi blok dan konflik ke kawasan Asia-Pasifik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian pada 26 Maret.

Beijing tetap mempertahankan klaim luas atas Laut Tiongkok Selatan meski telah ditolak oleh putusan pengadilan internasional.

Kemitraan itu memperluas keanggotaannya dengan bergabungnya Thailand dan Inggris sebagai anggota ke-15 dan ke-16, yang semakin menghubungkan mitra Indo-Pasifik dan Eropa dalam jaringan industri pertahanan yang lebih luas.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link