Kapabilitas

Ghost Bat dari Australia masuk dalam persaingan pengembangan drone Jerman

Kemitraan Boeing Australia–Rheinmetall menunjukkan peningkatan peran Canberra dalam kekuatan udara sekutu dan daya tangkal di Indo-Pasifik.

MQ-28 Ghost Bat meluncurkan rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 saat uji coba Desember lalu di Australia. Drone ini dilaporkan berhasil menembak jatuh pesawat musuh secara otonom menggunakan kerja sama AI dengan jet berawak. [Dephan Australia/X]
MQ-28 Ghost Bat meluncurkan rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 saat uji coba Desember lalu di Australia. Drone ini dilaporkan berhasil menembak jatuh pesawat musuh secara otonom menggunakan kerja sama AI dengan jet berawak. [Dephan Australia/X]

Oleh AFP dan Focus |

Boeing Defense Australia dan raksasa pertahanan Jerman, Rheinmetall, pada 31 Maret menyatakan bermitra untuk menawarkan drone MQ-28 Ghost Bat kepada militer Jerman. Langkah ini menjadikan drone Australia kandidat pesawat tempur kolaboratif Berlin dan membuktikan peran Australia yang meluas sebagai inovator pertahanan sekutu-AS.

Menhan Jerman Boris Pistorius mengatakan Ghost Bat merupakan "pesaing serius" setelah menginspeksinya di Queensland pada 27 Maret. Karena Berlin berencana mengoperasikan ratusan jet tempur nirawak pada 2029, Jerman akan "mengambil keputusan secepatnya," imbuhnya.

Australia berencana mengintegrasikan Ghost Bat, yang dikembangkan Boeing Australia bersama AU Australia, ke pasukan garis depan setelah keberhasilan uji coba senjata tahun lalu. Langkah ini mencerminkan upaya para sekutu AS meningkatkan kemampuan kekuatan udara otonom.

Boeing Australia dan Rheinmetall pada 31 Maret mengatakan telah mengadakan kemitraan strategis untuk menawarkan MQ-28 Ghost Bat sebagai "solusi matang" untuk kebutuhan pesawat tempur kolaboratif Jerman pada 2029. Program itu membuktikan kemampuan Canberra memasok sistem-mandiri kepada militer sekutu.

MQ-28A Ghost Bat di landasan pacu saat uji coba di Australia Desember lalu. Drone ini pesawat militer pertama yang dirancang dan dibuat di Australia selama lebih dari 50 tahun dan mendukung kerja sama manusia dan mesin. [Dephan Australia]
MQ-28A Ghost Bat di landasan pacu saat uji coba di Australia Desember lalu. Drone ini pesawat militer pertama yang dirancang dan dibuat di Australia selama lebih dari 50 tahun dan mendukung kerja sama manusia dan mesin. [Dephan Australia]

Hubungan industri

Sumber dari Australia mengatakan Canberra akan mempertimbangkan kesepakatan untuk mentransfer teknologinya kepada Jerman. Pakta ini memungkinkan drone itu dibuat di Eropa dan memperkuat ketahanan pasokan di seluruh jaringan pertahanan sekutu.

"Dengan Boeing Defense Australia sebagai mitra, kami melakukan persiapan untuk mengoptimalkan MQ-28 dengan kebutuhan Bundeswehr," ujar Armin Papperger, CEO Rheinmetall, merujuk pada angkatan bersenjata Jerman.

Dalam kemitraan ini, Rheinmetall bertindak sebagai manajer sistem untuk drone itu di Jerman. Rheinmetall akan mengawasi integrasinya ke sistem komando dan persenjataan Bundeswehr, mengadaptasikan platform untuk kebutuhan nasional, serta mendukung operasi, pemeliharaan, dan logistik. Kesepakatan itu akan memperluas keturutsertaan industri yang berbasis di Eropa.

Rheinmetall sudah beroperasi di Australia, memproduksi kendaraan angkut pasukan di Brisbane dengan kesepakatan industri serupa. Kontrak itu mencerminkan semakin eratnya hubungan pertahanan Australia-Jerman.

Ghost Bat tidak dikenai larangan ekspor pertahanan AS yang ketat, yang harus dipatuhi proyek-proyek lain yang melibatkan mitra AS. Oleh karena itu, pihak manufaktur bisa menawarkan Ghost Bat secara lebih mudah kepada pelanggan asing, kata analis.

Pertama dalam 50 tahun

MQ-28A Ghost Bat adalah pesawat militer pertama yang dirancang dan dibuat di Australia selama lebih dari 50 tahun. Drone itu dirancang untuk beroperasi bersama pesawat berawak dan memungkinkan "tim manusia–mesin yang canggih," kata Dephan Australia pada bulan Januari.

Kematangan teknis drone itu didukung oleh program uji terbang yang ekstensif. MQ-28 sudah menyelesaikan lebih dari 150 uji terbang, termasuk uji coba penting berupa uji tembak amunisi aktif dan meluncurkan rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 di lapangan uji di Australia, menurut War Zone. Tingkat kematangan yang ditunjukkan dapat mengurangi risiko pengembangan bagi calon pembeli.

Garis pantai Australia yang luas dan jumlah penduduk yang relatif rendah mendorongnya berinvestasi pada drone dan kapal selam otonom. Negara itu melakukan upaya lebih luas untuk memperkuat daya tangkal dan kekuatan udara yang tersebar di kawasan Indo-Pasifik di tengah kehadiran angkatan laut Tiongkok yang meningkat.

Kelas atas dan biaya rendah

Analis pertahanan Australian Strategic Policy Institute, Malcolm Davis, mengatakan Ghost Bat dirancang beroperasi bersama jet berawak dan kembali ke pangkalan, bukan sistem sekali pakai.

Platform itu disebut sistem "otonom yang terbukti", dirancang untuk bertindak sebagai pengganda kekuatan di wilayah udara sengketa dan mendukung misi, termasuk pengintaian, perang elektronik, dan operasi serangan. Arsitekturnya yang modular memungkinkan pemutakhiran berkelanjutan.

"Ini jenis pendekatan baru terhadap kekuatan udara menggunakan pesawat tempur berawak yang memberi arahan pada 4-5 Ghost Bats yang terbang bersama dalam formasi," ucap Davis.

"Ini robot tempur yang diperintahkan mengawasi target dan menghancurkannya."

Pesawat nirawak memungkinkan Australia memperbesar dan memperkuat angkatan udaranya dengan biaya yang lebih rendah, katanya.

Meskipun Ghost Bat memiliki kemampuan kelas atas, Pistorius menyinggung peran drone massal berbiaya rendah dalam perang Iran dan Ukraina.

"Kita tidak bisa mengabaikan produk kelas atas maupun produk biaya rendah -- kita perlu keduanya," ujarnya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link