Kapabilitas

AS setujui ekspor perdana rudal AIM-260 ke Australia

Kesepakatan ini menandai pergeseran ke arah perang udara generasi baru dan integrasi sekutu yang lebih erat saat Washington menggenjot daya tanggap terhadap ancaman rudal yang terus berkembang.

Ilustrasi pesawat F-22 yang membawa AIM-260 JATM, rudal udara-ke-udara generasi baru yang sedang dikembangkan untuk pasukan AS dan sekutunya. [NAVAIR/Angkatan Udara AS]
Ilustrasi pesawat F-22 yang membawa AIM-260 JATM, rudal udara-ke-udara generasi baru yang sedang dikembangkan untuk pasukan AS dan sekutunya. [NAVAIR/Angkatan Udara AS]

Oleh Wu Qiaoxi |

Amerika Serikat menyetujui penjualan hingga 450 pucuk Rudal Taktis Canggih Gabungan (JATM) AIM-260 senilai 3,16 miliar dolar AS kepada Australia. Ini ekspor perdana rudal udara-ke-udara generasi baru dan mencerminkan upaya besar untuk menanggapi peningkatan kemampuan rudal udara-ke-udara jarak jauh Tiongkok.

Media melaporkan persetujuan itu pada bulan Maret, tetapi Kongres AS sudah menerima pemberitahuan dari Pentagon pada bulan Januari, yang tidak diberitakan. Kongres menyetujui penjualan itu tanpa keberatan.

Paketnya mencakup lima wahana uji integrasi dan 30 wahana uji terpandu, menambah kemampuan Australia menguji dan memakai sistem itu. Skala paket ini mencerminkan eratnya kerja sama pertahanan AS-Australia dan menunjukkan fokus Canberra pada kemampuan tempur udara canggih.

Sinyal strategis

"Usulan penjualan ini mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat. ... Lokasi strategis kekuatan politik dan ekonomi ini [Australia] memiliki andil signifikan untuk memastikan perdamaian dan stabilitas ekonomi di Pasifik Barat," demikian pernyataan kongres AS.

Pesawat F-22 Raptor Angkatan Udara AS dari 27th Fighter Squadron 'Fighting Eagles' meluncurkan Rudal Udara-ke-Udara Jarak Menengah Canggih AIM-120 bulan Mei lalu. [Sertu Michael Ammons/Angkatan Udara AS]
Pesawat F-22 Raptor Angkatan Udara AS dari 27th Fighter Squadron 'Fighting Eagles' meluncurkan Rudal Udara-ke-Udara Jarak Menengah Canggih AIM-120 bulan Mei lalu. [Sertu Michael Ammons/Angkatan Udara AS]
Gambar dari AU Tiongkok memperlihatkan pesawat J-16 membawa berbagai rudal udara-ke-udara, termasuk PL-10, PL-12, PL-15, dan rudal jarak jauh PL-17. [Angkatan Udara TPR Tiongkok]
Gambar dari AU Tiongkok memperlihatkan pesawat J-16 membawa berbagai rudal udara-ke-udara, termasuk PL-10, PL-12, PL-15, dan rudal jarak jauh PL-17. [Angkatan Udara TPR Tiongkok]

Pernyataan tersebut mengemas kesepakatan itu dalam konteks strategis yang luas, menyatakan, "Usulan penjualan itu ... tidak mengubah keseimbangan militer dasar di kawasan itu."

Pernyataan itu menguraikan manfaat operasional usulan penjualan itu.

"Usulan penjualan itu akan meningkatkan kemampuan Australia menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan dengan memastikan Australia memiliki amunisi udara-ke-udara modern dan mumpuni yang meningkatkan interoperabilitas antara Angkatan Udara AS dan Australia," demikian bunyinya.

Australia diperkirakan menerima penyerahan pertama rudal itu pada kuartal ketiga 2033, dilaporkan Defense Post.

Rudal generasi baru

AIM-260 JATM, yang dikembangkan Lockheed Martin, adalah rudal udara-ke-udara jarak jauh generasi baru yang dirancang untuk menggantikan atau melengkapi Rudal Udara-ke-Udara Jarak Menengah Canggih AIM-120 yang sedang beroperasi di AS. Program ini dimulai tahun 2017, sebagai rudal udara-ke-udara baru pertama AS untuk pesawat tempur sejak berakhirnya Perang Dingin, menurut majalah Military Watch.

Rudal ini memiliki jangkauan yang lebih jauh daripada AIM-120, sementara bentuk luarnya tetap serupa. Rudal ini terintegrasi dengan F-22, F-35, dan F/A-18E/F Super Hornet tanpa modifikasi besar.

AU Australia diperkirakan akan menjadi angkatan bersenjata luar negeri pertama yang mengintegrasikan AIM-260 JATM, sejalan dengan modernisasi pesawat tempur Canberra dan operasi udara koalisi.

Meskipun detail teknis masih dirahasiakan, AIM-260 diperkirakan terintegrasi dengan Pesawat Tempur Kolaboratif. Sistem ini dirancang sebagai dron pendamping pesawat tempur berawak. Sistem ini memperluas jangkauan dan fleksibilitas operasi pertempuran udara di masa depan.

Lockheed Martin Missiles and Fire Control bertindak sebagai kontraktor utama untuk program ini. Paket lengkap meliputi dukungan logistik, sistem pelatihan, perangkat lunak, dan layanan teknis untuk memastikan integrasi dan keberlanjutan dalam struktur militer Australia saat ini.

Tekanan Tiongkok

Pengadaan ini menandai upaya strategis untuk memperkuat daya tangkal dan mendukung kekuatan udara sekutu di tengah meningkatnya tekanan program rudal Tiongkok.

Majalah Military Watch menyebut situasi itu "sangat mendesak karena keunggulan unit tempur garis depan Tiongkok yang kian meningkat dalam hal rudal udara-ke-udara," yang didorong oleh rudal Jarak Jauh PL-15 dan penerusnya, PL-16.

Jepang dan Australia diprioritaskan menerima AIM-260 guna memperkuat kesiapan regional. Angkatan udara kedua negara itu siap mendukung operasi AS jika terjadi konflik dengan Tiongkok.

Pejabat senior AS menyebut kesepakatan itu penting untuk menjaga "kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap" bagi Australia. Skala pembelian itu juga mencerminkan pergeseran menuju pengamanan persediaan dan kapasitas tempur yang berkelanjutan dalam skenario konflik intensitas tinggi.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link