Oleh Focus dan AFP |
WASHINGTON -- Departemen Perang AS menyatakan bahwa pasukan AS menaiki kapal tanker M/T Tifani yang dikenai sanksi dan terkait dengan Iran di Samudra Hindia sebagai bagian dari upaya Washington memerangi jaringan yang memberikan dukungan kepada Iran.
“Semalam, pasukan AS melakukan pemeriksaan, pencegatan maritim, dan penggeledahan terhadap kapal tanker M/T Tifani yang tidak bernegara dan dikenai sanksi tanpa insiden di wilayah tanggung jawab INDOPACOM,” tulis departemen tersebut di laman X-nya pada 21 April.
INDOPACOM adalah Komando Indo-Pasifik AS, yang mengawasi wilayah luas yang mencakup Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Lokasi pasti operasi tersebut tidak disebutkan. Tifani adalah “kapal tanker berbendera Botswana,” menurut perusahaan intelijen Vanguard Tech, yang menyebut bahwa kapal itu dicegat di Samudra Hindia. Sinyal terakhirnya terdeteksi pada 21 April di pertengahan perjalanan antara Sri Lanka dan Selat Malaka, menurut situs pelacakan Marine Traffic.
![Pasukan AS melacak kapal tanker M/T Tifani yang terkait Iran (depan) saat operasi pencegatan maritim di Samudra Hindia, dalam foto yang dirilis pada 21 April 2026. [X/Departemen Perang AS]](/gc9/images/2026/04/23/55705-2-370_237.webp)
“Perairan internasional bukan tempat berlindung bagi kapal yang dikenai sanksi,” kata Pentagon dalam unggahannya, yang menyertakan rekaman video beberapa helikopter terbang di atas kapal tanker besar berwarna oranye terang.
“Seperti yang telah ditegaskan, kami akan terus melakukan upaya penegakan hukum maritim global untuk membongkar jaringan ilegal dan menghentikan kapal yang dikenai sanksi yang memberikan dukungan material kepada Iran—di mana pun mereka beroperasi,” tegas Pentagon.
Risiko navigasi armada gelap
Menurut perusahaan intelijen energi Kpler, kapal itu memuat sekitar dua juta barel minyak mentah di Pulau Kharg, Iran, pada 5 April dan melintasi Selat Hormuz pada 9 April. Sinyal pelacakannya menunjukkan bahwa kapal itu sedang menuju Singapura.
Operasi tersebut diumumkan beberapa jam sebelum berakhirnya gencatan senjata yang dijadwalkan antara AS dan Iran -- batas waktu yang menurut Trump dalam unggahan media sosial akan diperpanjang atas permintaan Pakistan sampai negosiasi antara kedua negara selesai.
Kapal tanker itu diduga merupakan bagian dari “armada gelap,” yang bolak-balik antara Teluk Persia dan perairan di lepas pantai Malaysia dan Singapura, tempat praktik pemindahan muatan antar-kapal biasa dilakukan untuk menyamarkan asal muatan dan menghindari sanksi.
Fox News, mengutip intelijen militer Ukraina, mengatakan bahwa kapal Tifani terlibat “aktivitas gelap” di dekat Singapura dan kadang mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS)-nya.
Perilaku semacam itu, biasa disebut “going dark,” dapat meningkatkan risiko navigasi karena Organisasi Maritim Internasional mewajibkan kapal dengan berat bruto lebih dari 300 ton yang melakukan pelayaran internasional untuk selalu mengaktifkan sistem AIS.
Penegakan hukum global
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, mengatakan kepada wartawan di Pentagon pada 16 April bahwa pasukan AS di wilayah tanggung jawab lainnya “akan secara aktif mengejar setiap kapal berbendera Iran atau kapal apa pun yang hendak memberikan dukungan material kepada Iran.”
Dia menyebut Pasifik sebagai zona prioritas dan menegaskan bahwa AS akan mencegat kapal yang berangkat sebelum blokade resmi diberlakukan di luar Selat Hormuz.
Pentagon secara terpisah menerbitkan pengumuman yang menetapkan daftar barang yang dapat disita, termasuk semua kapal dagang “tanpa pandang lokasi.” Pengumuman itu menyatakan bahwa “barang yang ditujukan untuk musuh dan berpotensi digunakan dalam konflik bersenjata” dapat “disita di mana pun, di luar wilayah netral.”
Komando Pusat AS melaporkan bahwa 27 kapal yang berusaha masuk atau keluar dari pelabuhan Iran telah dipaksa berbalik arah dalam seminggu sejak diberlakukannya blokade di luar Selat Hormuz.
Pentagon mengklasifikasikan Tifani “tidak bernegara” meskipun kapal itu berbendera Botswana. Deplu AS menyatakan pada Juli lalu bahwa ENSA Ship Management, yang terkait dengan Tifani, telah ditetapkan “secara sengaja terlibat dalam transaksi signifikan terkait pembelian, akuisisi, penjualan, pengangkutan, atau pemasaran minyak bumi atau produk minyak bumi dari Iran.”
Pola yang Lebih Luas
Penegakan hukum berkelanjutan dari Washington menyebabkan model armada gelap “langsung runtuh,” demikian laporan perusahaan intelijen maritim Windward pada Februari, tidak ada tanker armada gelap yang berhasil mengantarkan muatannya ke tujuan akhir sejak pertengahan Desember.
India juga meningkatkan penegakan hukum, dengan menyita tiga kapal tanker yang dikenai sanksi AS dan terkait dengan Iran pada bulan Februari, serta mengerahkan sekitar 55 kapal penjaga pantai dan setidaknya 10 pesawat terbang untuk mencegah perairannya digunakan untuk pemindahan muatan antar-kapal yang menyamarkan asal muatan.
Penangkapan M/T Tifani memperluas penindakan itu ke perairan INDOPACOM, yang mencerminkan upaya Washington menindak kapal terkait Iran. Departemen Perang AS menyatakan pihaknya “akan terus membatasi kebebasan bergerak para pelaku ilegal dan kapal mereka” di wilayah maritim.
![Pasukan AS menaiki kapal tanker M/T Tifani yang terkait dengan Iran saat operasi pencegatan maritim di Samudra Hindia, dalam foto yang dirilis pada 21 April 2026. [X/Departemen Perang AS]](/gc9/images/2026/04/23/55704-717241-370_237.webp)