Kapabilitas

Ekspor drone Taiwan melonjak seiring perang Ukraina dorong permintaan

Produsen Taiwan merambah pasar Eropa dan wilayah lain yang mencari alternatif selain drone buatan Tiongkok.

Kendaraan bawah air otonom Seawolf-400 dipamerkan di markas Thunder Tiger Group di Taichung, Taiwan, 21 April. [I-Hwa Cheng/AFP]
Kendaraan bawah air otonom Seawolf-400 dipamerkan di markas Thunder Tiger Group di Taichung, Taiwan, 21 April. [I-Hwa Cheng/AFP]

Oleh AFP dan Focus |

TAIPEI -- Ekspor drone Taiwan melonjak pesat, didorong oleh perang di Ukraina, seiring perusahaan-perusahaan Taiwan berupaya membidik pangsa pasar global kendaraan udara nirawak (UAV) yang kini berkembang cepat.

Drone berbiaya rendah yang digunakan untuk pengintaian dan serangan kini sangat diminati, saat pemerintah di berbagai negara meningkatkan anggaran pertahanan di tengah konflik yang semakin memanas.

Sebagai pemain yang relatif baru dalam industri yang semakin kompetitif, Taiwan memasarkan diri sebagai “pusat Asia” untuk produksi UAV dan komponen yang tidak menggunakan bahan asal Tiongkok, atau dikenal sebagai “non-Tiongkok”.

Harga UAV buatan Taiwan dapat mencapai tiga kali lebih mahal dibandingkan produk pesaing dari Tiongkok, seperti DJI—produsen terbesar di dunia—yang diuntungkan oleh skala produksi masif mereka.

Pekerja merakit motor drone di sebuah laboratorium di Taichung, Taiwan, pada 21 April. Taiwan berupaya memperluas rantai pasok drone non-Tiongkok di tengah meningkatnya permintaan global akan kendaraan udara nirawak. [I-Hwa Cheng/AFP]
Pekerja merakit motor drone di sebuah laboratorium di Taichung, Taiwan, pada 21 April. Taiwan berupaya memperluas rantai pasok drone non-Tiongkok di tengah meningkatnya permintaan global akan kendaraan udara nirawak. [I-Hwa Cheng/AFP]

Meski demikian, perusahaan-perusahaan Taiwan mencatat lonjakan penjualan sejak invasi berskala besar Rusia ke Ukraina, di mana kedua pihak menggunakan drone secara luas, sehingga memicu permintaan.

Pembatasan ekspor drone oleh Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir juga membuka peluang bagi perusahaan Taiwan, yang sebelumnya kesulitan mencapai angka penjualan memadai di pasar domestik.

“Di dalam negeri, permintaannya tidak cukup,” kata Samara Duerr, analis kebijakan di Research Institute for Democracy, Society and Emerging Technology (DSET), lembaga pemikir yang didukung pemerintah Taiwan.

“Karena itu, mereka menjangkau pasar internasional untuk mendongkrak skala produksi dan pengalaman, sehingga mereka memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menghadapi lonjakan permintaan di masa depan."

Pasar “Non-Tiongkok”

Data perdagangan resmi menunjukkan ekspor drone Taiwan mencapai 181.159 unit dalam empat bulan pertama tahun ini. Angka tersebut hampir 20 kali lebih tinggi dibanding periode yang sama pada tahun 2025, bahkan melampaui total ekspor sepanjang tahun 2025.

Sebagian besar drone tersebut dikirim ke Republik Ceko, disusul Polandia. Menurut DSET, mayoritas unit dibeli atau didanai organisasi amal yang kemudian menyumbangkannya ke Ukraina.

Max Lo, ketua AeroSoarX yang memproduksi drone militer dan drone fungsi-ganda, mengatakan perusahaan Taiwan harus mencari pasar luar negeri agar tetap mampu bertahan.

Meski Taiwan berupaya membangun industri drone domestik, penundaan anggaran di parlemen yang dikuasai oposisi membuat pesanan pemerintah tidak berkembang sesuai kebutuhan industri.

“Jika tidak ada permintaan lokal, dukungan pemerintah, atau anggaran, bagaimana kami bisa mempertahankan lini produksi?” kata Lo.

“Itulah alasan saya mengunjungi Ukraina dan Polandia. Saya memberi tahu mereka bahwa kami memiliki berbagai produk, dan kapasitas produksi kami masih tersedia.”

"Perisai Drone"

Taiwan telah menjadi kekuatan global dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) dan manufaktur chip semikonduktor, dan kini berharap memanfaatkan pengalaman tersebut untuk industri drone.

Pulau itu menargetkan kapasitas produksi 100.000 drone per bulan pada tahun 2030, meningkat jauh dari target sebelumnya sebesar 15.000 unit pada tahun 2028.

Chiou Chyou-huey, Direktur Jenderal Industrial Development Administration, mengatakan “sebagian besar” ekspor drone Taiwan merupakan produk non-Tiongkok. Namun, sejumlah sumber dalam industri mengatakan kepada AFP bahwa mereka menduga sebagian besar produk tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya bebas dari komponen Tiongkok.

Taiwan ingin mampu memproduksi cukup banyak drone secara mandiri untuk menghalau potensi serangan dari Tiongkok—yang mengklaim pulau itu sebagai bagian wilayahnya—sekaligus menanamkan pengaruhnya ke dalam rantai pasok UAV global, seperti yang telah mereka lakukan pada industri chip.

“Kami menyebutnya sebagai ‘perisai drone’,” kata Lo. “Itu akan menjadi perlindungan tambahan bagi Taiwan.”

Namun, rencana pemerintah untuk membeli lebih dari 200.000 drone buatan Taiwan sebagai bagian dari proposal anggaran pertahanan senilai hampir US$40 miliar terhambat di parlemen.

Pada bulan Mei, parlemen menyetujui paket pertahanan yang lebih kecil senilai US$25 miliar, tanpa pendanaan untuk drone domestik.

Perusahaan-perusahaan Taiwan juga menghadapi tantangan menembus pasar yang sudah didominasi Tiongkok, sementara drone dan komponen mereka masih minim pengalaman di medan perang.

“Meskipun sulit meragukan kemampuan industri Taiwan, persoalannya tetap pada penerapan praktis,” kata Marcin Jerzewski, direktur kantor Taiwan dari European Values Center for Security Policy.

“Apakah drone Taiwan siap digunakan dalam perang?”

Persaingan ketat

Masalah lainnya adalah Ukraina, yang kini menjadi salah satu pusat manufaktur UAV paling maju di dunia, kemungkinan tidak lagi membutuhkan drone Taiwan setelah konflik berakhir dan justru membanjiri pasar dengan produksinya sendiri.

Persaingan saat ini “sangat sengit” dan berkembang cepat, kata Collin Koh, seorang analis militer di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura.

“Taiwan harus menemukan ceruk pasarnya sendiri,” kata Koh kepada AFP.

Sektor di mana Taiwan dapat bersaing dengan Tiongkok adalah pada "komponen mikro" seperti sel baterai litium-ion, menurut Artur Savchii, seorang analis di Snake Island Institute, sebuah lembaga pemikir Ukraina.

“Di situlah Taiwan bisa menggantikan Tiongkok, dan saya pikir ini akan menjadi area kerja sama yang besar,” kata Savchii kepada AFP.

Pada akhirnya, setiap kawasan berupaya mencapai “lokalisasi maksimum” dalam rantai pasok, ujar Yaroslav Azhnyuk, pendiri perusahaan drone Ukraina, The Fourth Law.

Produsen drone Taiwan kini semakin gencar bermitra dengan perusahaan luar negeri untuk memperkuat posisi di pasar non-Tiongkok.

Salah satunya adalah Thunder Tiger, yang memiliki usaha patungan untuk memproduksi motor drone di negara bagian Ohio, Amerika Serikat.

General manager Thunder Tiger, Gene Su, mengatakan peluang terbesar berada di Amerika Serikat, di mana kekhawatiran terhadap ancaman keamanan dari Tiongkok mendorong permintaan terhadap drone dan komponen non-Tiongkok.

Thunder Tiger juga ingin membangun lini produksi di Eropa, meski negara-negara di kawasan itu lebih sensitif terhadap harga, kata Su.

“Begitu skala kami membesar, biaya produksi kami akan lebih rendah, dan saat itu kami bisa bersaing dengan perusahaan Tiongkok,” ujarnya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link