Diplomasi

AS upayakan “keseimbangan stabil” dengan Tiongkok di Asia: Hegseth

Washington menginginkan efek gentar tanpa konfrontasi yang tidak perlu, ujar kepala Pentagon. Ia mendesak para sekutu untuk memikul lebih banyak beban pertahanan di kawasan tersebut.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara dalam KTT Dialog Shangri-La ke-23 di Singapura pada 30 Mei. [Jam Sta Rosa/AFP]
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara dalam KTT Dialog Shangri-La ke-23 di Singapura pada 30 Mei. [Jam Sta Rosa/AFP]

Oleh AFP dan Focus |

SINGAPURA — Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan Washington mengupayakan “keseimbangan yang stabil” dengan Tiongkok di Asia. Ia memperingatkan tentang ekspansi militer Beijing, sementara menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak menginginkan “konfrontasi yang tidak perlu.”

Saat berbicara di Dialog Shangri-La di Singapura, yang dihadiri para pemimpin pertahanan regional pada 30 Mei, Hegseth menguraikan pendekatan AS yang berfokus pada pencegahan, penguatan aliansi, dan apa yang ia sebut sebagai “keseimbangan kekuatan yang menguntungkan namun berkelanjutan.”

“Apabila kita melihat ke seluruh kawasan saat ini, ada kekhawatiran yang wajar mengenai pembangunan militer bersejarah Tiongkok dan ekspansi aktivitas militernya di kawasan ini dan di luarnya," kata Hegseth.

Konferensi tersebut berlangsung pada 29–31 Mei.

Mayor Jenderal Meng Xiangqing (kiri) dari Universitas Pertahanan Nasional Tiongkok, yang memimpin delegasi negaranya, memberikan isyarat saat KTT Dialog Shangri-La ke-23 di Singapura pada 31 Mei. [Mohd Rasfan/AFP]
Mayor Jenderal Meng Xiangqing (kiri) dari Universitas Pertahanan Nasional Tiongkok, yang memimpin delegasi negaranya, memberikan isyarat saat KTT Dialog Shangri-La ke-23 di Singapura pada 31 Mei. [Mohd Rasfan/AFP]

Menyeimbangkan pencegahan dan stabilitas

Washington tidak mencari “konfrontasi yang tidak perlu,” melainkan “keseimbangan yang benar-benar stabil (di Asia) yang menguntungkan rakyat Amerika serta para sekutu kami,” ujarnya.

Menurut Hegseth, hal itu berarti menciptakan “keseimbangan kekuatan yang menguntungkan namun berkelanjutan, di mana tidak ada satu negara pun, termasuk Tiongkok, yang dapat memaksakan hegemoninya dan mempertanyakan keamanan maupun kemakmuran negara kami serta para sekutu kami.”

Hegseth mengatakan bahwa mencegah dominasi Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi inti dari strategi AS. Ia memperingatkan bahwa Pasifik yang "didominasi oleh hegemon mana pun" akan merusak keseimbangan regional. Washington kini "mengubah strategi," dan “era kecaman retoris tanpa tindakan nyata telah berakhir."

Berbeda dengan Beijing, yang untuk tahun kedua berturut-turut mengirim panel pakar militer dan akademisi alih-alih Menteri Pertahanan Dong Jun, Hegseth memimpin delegasi besar AS dalam forum tersebut, yang menyediakan peluang bagi debat terbuka maupun diplomasi tertutup.

Kepala Pentagon tersebut mengatakan bahwa Amerika Serikat mengupayakan hubungan yang “saling menghormati” dan “beriktikad baik” dengan Beijing. Ia menambahkan: “Saya berharap rekan sejawat saya ada di konferensi ini, tetapi saya menantikan kesempatan lain, kapan kami bisa bertemu.”

Mayor Jenderal Meng Xiangqing, pemimpin delegasi Tiongkok, mengatakan setelah pidato tersebut bahwa “hubungan AS-Tiongkok yang stabil bukan hanya baik bagi rakyat kedua negara, tetapi juga baik bagi stabilitas kawasan dan perdamaian dunia.”

Hegseth menambahkan bahwa tidak ada perubahan dalam sikap Washington terhadap Taiwan. Namun, keputusan terkait penjualan senjata AS ke Taiwan di masa depan akan berada di tangan Presiden Donald Trump.

Pidato Hegseth tahun ini terasa "jauh lebih moderat," kata delegasi Tiongkok Da Wei, direktur Pusat Keamanan dan Strategi Internasional di Universitas Tsinghua Beijing, kepada AFP.

Menteri Pertahanan Tiongkok kembali absen

Para analis menilai absennya Dong mencerminkan kepercayaan diri Beijing sebagai kekuatan mapan yang semakin enggan memberikan penjelasan secara terbuka mengenai langkah-langkah asertifnya di kawasan tersebut.

Hegseth memuji negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Filipina karena meningkatkan anggaran pertahanan mereka. Di sisi lain, ia memperingatkan bahwa sekutu yang terus “menumpang gratis” pada komitmen keamanan AS akan menghadapi perubahan dalam pendekatan Washington. Ia menyoroti langkah Korea Selatan mengalokasikan 3,5% dari PDB untuk pertahanan sebagai model bagi mitra regional lainnya.

“Masa itu sudah berakhir. Sekutu yang menolak meningkatkan kontribusi dan memikul tanggung jawab mereka sendiri dalam pertahanan bersama akan menghadapi perubahan nyata dalam cara kami bekerja sama,” katanya.

Pernyataan Hegseth ini muncul di saat perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menghasilkan kesepakatan.

Dorongan kemajuan bawah laut AUKUS

Di sela-sela dialog tersebut, Hegseth bersama mitranya dari Inggris dan Australia mengumumkan program bersama di bawah aliansi keamanan AUKUS untuk mengembangkan muatan misi bagi kendaraan bawah laut nirawak (UUV). Pengerahan pertama dijadwalkan dimulai pada tahun 2027.

Hegseth mengatakan program tersebut akan menghadirkan “serangkaian muatan UUV multi-misi yang sangat adaptif” guna mendukung operasi bawah laut dan mempertahankan “keunggulan kolektif kita di domain maritim," menurut Reuters.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan drone-drone tersebut akan dengan cepat menyediakan “sensor dan sistem persenjataan mutakhir” bagi pasukan sekutu. Menurut Healey, ketiga negara tersebut selama ini "terlalu banyak bicara dan terlalu sedikit menghasilkan tindakan" dalam kerja sama AUKUS.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link