Diplomasi

India dan Tiongkok lanjutkan pembahasan perbatasan walau diwarnai ketidakpercayaan

Pejabat menyebut pembicaraan perbatasan terbaru itu konstruktif, sementara analis mengatakan bahwa sengketa utama masih jauh dari penyelesaian.

Jalan yang baru dibangun di Ladakh, India, terlihat dalam foto yang dirilis Border Roads Organization India Desember lalu. Analis mengatakan bahwa India menggenjot investasi infrastruktur transportasi dan logistik di seluruh wilayah Ladakh serta Jammu dan Kashmir seiring peningkatan infrastruktur militer dan sipil oleh Tiongkok di perbatasan yang disengketakan. [X/Border Roads Organization]
Jalan yang baru dibangun di Ladakh, India, terlihat dalam foto yang dirilis Border Roads Organization India Desember lalu. Analis mengatakan bahwa India menggenjot investasi infrastruktur transportasi dan logistik di seluruh wilayah Ladakh serta Jammu dan Kashmir seiring peningkatan infrastruktur militer dan sipil oleh Tiongkok di perbatasan yang disengketakan. [X/Border Roads Organization]

Oleh Zarak Khan |

India dan Tiongkok melanjutkan pembicaraan mengenai masalah perbatasan dan kerja sama lintas batas. Pejabat kedua belah pihak menyebut pembicaraan terbaru itu konstruktif.

Namun, analis mengatakan bahwa ketidakpercayaan yang mendalam mempersulit upaya menstabilkan hubungan. Akar ketidakpercayaan itu adalah sengketa batas yang tidak kunjung selesai, kekhawatiran soal proyek hulu sungai Tiongkok, serta meningkatnya aktivitas militer di sepanjang perbatasan Himalaya.

Para pejabat tinggi bertemu di Beijing pada 27 Mei dalam rangka Mekanisme Kerja untuk Konsultasi dan Koordinasi (WMCC) mengenai Urusan Perbatasan India-Tiongkok, yang membahas penetapan batas, pengelolaan perbatasan, pembentukan mekanisme, dan kerja sama lintas batas, menurut Kementerian Urusan Luar Negeri India.

Pertemuan itu dipimpin oleh Sujit Ghosh, Sekretaris Umum Bidang Asia Timur di Kementerian Urusan Luar Negeri India, dan Hou Yanqi, Direktur Jenderal Direktorat Urusan Perbatasan dan Kelautan di Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Bendera India (kiri) dan Tiongkok terlihat di Tianjin, Tiongkok, pada 31 Agustus lalu. [Pedro Pardo/AFP]
Bendera India (kiri) dan Tiongkok terlihat di Tianjin, Tiongkok, pada 31 Agustus lalu. [Pedro Pardo/AFP]

India menyebut pembicaraan itu “konstruktif dan berorientasi ke masa depan,” sementara Beijing menyatakan bahwa pembicaraan itu berlangsung dalam “suasana yang praktis dan bersahabat."

Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan persiapan substansial menjelang putaran pembicaraan berikutnya di tingkat perwakilan khusus mengenai masalah perbatasan. Namun, analis mengatakan bahwa pernyataan positif itu menyembunyikan perbedaan pendapat mendasar yang menghambat normalisasi hubungan yang lebih luas.

India dan Tiongkok memiliki perbatasan sepanjang 3.380 km yang sebagian besar belum disepakati dan telah lama menjadi sumber ketegangan militer dan diplomatik.

Pasukan mereka bentrok di perbatasan yang disengketakan di Ladakh pada 2020, yang mengakibatkan 20 tentara India tewas—korban jiwa pertama dalam pertempuran di perbatasan itu dalam 45 tahun terakhir.

Konfrontasi mematikan tersebut memicu krisis terburuk dalam hubungan Tiongkok-India dalam beberapa dekade terakhir dan mengubah persepsi New Delhi terhadap Beijing dari sekadar pesaing strategis menjadi ancaman keamanan langsung.

Masalah air

Salah satu kekhawatiran utama India adalah semakin kuatnya kendali Tiongkok atas aliran sungai lintas batas yang berhulu di Dataran Tinggi Tibet.

Kementerian Urusan Luar Negeri India menyatakan New Delhi mendesak diadakannya pertemuan Kerangka Kerja Tingkat Ahli mengenai Sungai Lintas Batas saat pembicaraan WMCC, menunjukkan kekhawatiran terkait pertukaran data hidrologi dan proyek infrastruktur Tiongkok di hulu sungai.

Para pembuat kebijakan India semakin sering menyuarakan kekhawatiran mereka terkait proyek bendungan dan pengalihan air Tiongkok di beberapa sungai yang mengalir ke India, terutama Sungai Brahmaputra. Mereka khawatir aliran air di hilir akan sangat terpengaruh oleh proyek Beijing tersebut.

Sementara pernyataan resmi Tiongkok mengenai WMCC itu sama sekali tidak menyinggung soal sungai lintas batas.

Masalah ini dapat menjadi “ujian kesediaan Beijing untuk mengakomodasi kekhawatiran India, bahkan di bidang yang kurang kontroversial,” tulis The Wire pada 28 Mei, merangkum pendapat Jabin T. Jacob, direktur Pusat Studi Himalaya di Universitas Shiv Nadar di Greater Noida, India.

Pendekatan Tiongkok terhadap masalah sungai itu mungkin memberikan indikasi apakah Beijing bersedia mengalah dalam masalah yang lebih kompleks seperti penetapan batas, katanya.

Sengketa nama

Yang menambah kekhawatiran India, Beijing terus memberikan nama versinya sendiri untuk lokasi di wilayah yang diklaim oleh India.

Pada bulan April, Kementerian Urusan Sipil Tiongkok merilis gazeter toponimi keenamnya, yang memuat penggantian nama 23 lokasi di wilayah yang diklaim oleh Beijing.

Sebagian besar lokasi yang namanya diubah berada di negara bagian Arunachal Pradesh, India, yang oleh Tiongkok disebut sebagai “Zangnan” atau Tibet Selatan. Pejabat dan analis India memandang langkah itu sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat klaim teritorial Tiongkok melalui tindakan administratif.

Masalah ini kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai penahanan dan interogasi terhadap seorang wanita asal India dari Arunachal Pradesh saat transit di Shanghai pada November lalu. Pejabat Tiongkok dilaporkan mengatakan kepadanya bahwa paspor India miliknya tidak sah karena wilayah tersebut merupakan bagian dari Tiongkok.

Insiden itu memicu kritik di India dan kembali memicu kekhawatiran terkait sikap Beijing terhadap penduduk di wilayah perbatasan.

Peningkatan kekuatan militer

Masalah keamanan tetap sama pentingnya.

Tiongkok secara signifikan meningkatkan infrastruktur di sepanjang Garis Kontrol Aktual (LAC), perbatasan de facto yang memisahkan kedua negara, melalui pembangunan jalan, lapangan terbang, jembatan, pusat logistik, serta fasilitas dwi-guna yang mampu mendukung operasi militer.

Peningkatan ini mengubah keseimbangan strategis di perbatasan itu dan memaksa India mempercepat pembangunan infrastrukturnya, kata para analis.

Studi tahun 2024 oleh Observer Research Foundation, lembaga kajian yang berbasis di New Delhi, menyebutkan bahwa perluasan jaringan infrastruktur Tiongkok di seluruh LAC, ditambah dengan kemitraan strategisnya yang erat dengan Pakistan, telah “menimbulkan ancaman nyata perang dua front dan meningkatkan kekhawatiran India terhadap pengepungan.”

“Tiongkok menerapkan pendekatan kolaboratif untuk membangun infrastruktur ini, dan juga memberikan bantuan militer kepada Pakistan,” kata laporan tersebut.

Studi itu mengatakan kekhawatiran atas “meningkatnya pengepungan wilayah utara oleh Tiongkok” mendorong India berinvestasi besar-besaran di jaringan transportasi dan logistik di seluruh Ladakh serta Jammu dan Kashmir.

Pada bulan Januari, India menyetujui restrukturisasi formasi tentara garis depan yang bertujuan mempercepat pengerahan pasukan dan memperkuat posisinya terhadap Tiongkok di perbatasan Himalaya yang disengketakan.

New Delhi mempercepat pengerjaan Terowongan Zojila yang strategis serta peningkatan infrastruktur jalan Darbuk-Shyok-Daulat Beg Oldie, rute pasokan militer penting di dekat salah satu sektor perbatasan yang paling sensitif.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link