Ekonomi

Australia percepat proyek senilai US$486,7 juta untuk kurangi ketergantungan pada logam tanah jarang Tiongkok

Persetujuan Canberra terhadap proyek yang didukung Jepang ini muncul di tengah langkah pemerintah Australia yang memaksa para investor yang terkait dengan Tiongkok melepas kepemilikan mereka di pengembang logam tanah jarang lainnya.

Pemandangan dari udara menunjukkan fasilitas di Proyek Pasir Mineral Copi di negara bagian New South Wales (NSW), Australia. Dipimpin oleh RZ Resources, proyek ini dirancang untuk menggunakan pengeboran strategis guna mendukung masa operasional tambang selama lebih dari 20 tahun. [RZ Resources]
Pemandangan dari udara menunjukkan fasilitas di Proyek Pasir Mineral Copi di negara bagian New South Wales (NSW), Australia. Dipimpin oleh RZ Resources, proyek ini dirancang untuk menggunakan pengeboran strategis guna mendukung masa operasional tambang selama lebih dari 20 tahun. [RZ Resources]

Oleh Ha Er-rui dan AFP |

Pemerintah negara bagian New South Wales (NSW) memberikan persetujuan sementara untuk proyek pasir mineral senilai AU$693 juta (US$486,7 juta) yang akan memproduksi mineral titanium dan logam tanah jarang. Langkah ini memperkuat upaya Australia dalam membangun rantai pasokan yang tidak terlalu bergantung pada Tiongkok.

Proyek Pasir Mineral Copi, yang terletak sekitar 180 km di barat daya Broken Hill, telah memperoleh persetujuan negara bagian pada akhir Mei, tetapi masih memerlukan persetujuan Pemerintah Federal. Proyek tersebut diperkirakan akan beroperasi selama 18 tahun dan mengolah hingga 27 juta ton material per tahun.

Copi akan memproduksi hingga 400.000 ton per tahun mineral titanium dan konsentrat logam tanah jarang, termasuk ilmenit, rutil, zirkon, dan monasit. Mineral-mineral tersebut digunakan dalam industri energi bersih, pertahanan, telekomunikasi, dan perangkat medis.

“Dengan keberadaan 21 dari 31 mineral kritis yang diidentifikasi secara nasional, NSW berada di posisi unik untuk menjadi pemasok penting di tingkat global,” kata Menteri Sumber Daya Alam, Courtney Houssos.

Pemandangan dari udara menunjukkan sebagian area Proyek Pasir Mineral Copi di ujung barat daya negara bagian NSW, Australia. Cadangan tersebut mengandung 1,2 miliar ton logam tanah jarang dan diperkirakan dapat memasok mineral titanium serta logam tanah jarang yang digunakan dalam energi bersih, pertahanan, dan telekomunikasi. [RZ Resources]
Pemandangan dari udara menunjukkan sebagian area Proyek Pasir Mineral Copi di ujung barat daya negara bagian NSW, Australia. Cadangan tersebut mengandung 1,2 miliar ton logam tanah jarang dan diperkirakan dapat memasok mineral titanium serta logam tanah jarang yang digunakan dalam energi bersih, pertahanan, dan telekomunikasi. [RZ Resources]
Northern Minerals melakukan produksi logam tanah jarang di proyek Browns Range di Australia bagian barat. Logam tanah jarang merupakan material kritis yang digunakan dalam berbagai sektor, termasuk semikonduktor dan pertahanan. [Northern Minerals]
Northern Minerals melakukan produksi logam tanah jarang di proyek Browns Range di Australia bagian barat. Logam tanah jarang merupakan material kritis yang digunakan dalam berbagai sektor, termasuk semikonduktor dan pertahanan. [Northern Minerals]

Dukungan Jepang

Copi dikembangkan oleh RZ Resources di wilayah ujung barat daya negara bagian tersebut, dengan produksi dijadwalkan dimulai pada tahun 2029 jika telah memperoleh persetujuan akhir. Proyek ini menjadi proyek mineral kritis kedua yang disetujui NSW dalam empat bulan terakhir.

Perusahaan perdagangan Jepang, Marubeni, dan produsen material, JX Advanced Metals, turut berinvestasi dalam proyek Copi, demikian dilaporkan oleh Australian Financial Review pada akhir Mei.

Modal dan jangkauan pemasaran Marubeni, yang dipadukan dengan keahlian pemrosesan JX Advanced Metals, dinilai dapat membantu Australia melangkah lebih jauh dari sekadar sektor pertambangan untuk memurnikan mineral di dalam negeri. Langkah ini sekaligus memperkecil kesenjangan di sektor hilir menengah pada rantai pasok yang selama ini didominasi oleh Tiongkok.

“Satu pemain global telah menguasai sebagian besar pasar mineral, dan itu adalah Tiongkok,” kata Kepala Eksekutif Dewan Mineral NSW, Stephen Galilee, kepada Australian Broadcasting Corp. Menurutnya, konsentrasi di tangan Tiongkok telah mendorong Australia untuk mendiversifikasi pasokan dan kapasitas pemrosesan.

“Proyek ini akan membantu mengamankan pasokan mineral kritis,” kata Menteri Perencanaan NSW, Paul Scully. Ia menyebut Copi sebagai contoh sektor yang “membantu menciptakan masa depan berkelanjutan bagi NSW, Australia, dan dunia.”

Divestasi Tiongkok

Di sisi lain, Canberra juga berupaya keras untuk menjaga agar sektor ini tidak jatuh ke tangan Tiongkok.

Menteri Keuangan Australia, Jim Chalmers, pada pertengahan Mei memerintahkan enam pemegang saham yang terkait dengan Tiongkok untuk menjual kepemilikan mereka di pengembang logam tanah jarang Northern Minerals, dengan alasan perlunya melindungi sektor tersebut dari kendali asing.

“Kami menjalankan kerangka kerja investasi asing yang kuat dan tidak diskriminatif, serta akan mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional kami terkait masalah ini,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Northern Minerals bertekad untuk menantang dominasi Tiongkok dalam produksi disprosium, logam tanah jarang yang digunakan dalam magnet berkinerja tinggi untuk kendaraan listrik.

Keenam investor tersebut mencakup beberapa pemegang saham terbesar Northern Minerals, dipimpin oleh Vastness Investment Group berbasis di Beijing dan Qogir Trading and Service Co. berbasis di Hong Kong. Bersama-sama, mereka menguasai 17,58% saham perusahaan dan telah diperintahkan untuk melakukan divestasi.

Reformasi kebijakan perbendaharaan yang diumumkan pada pertengahan Mei memberikan perhatian lebih besar terhadap implikasi strategis dan keamanan nasional dari investasi asing.

Ketika dimintai tanggapan mengenai perintah tersebut, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan tidak mengetahui situasinya.

“Tiongkok secara konsisten menentang perluasan konsep keamanan nasional secara berlebihan yang dapat mengganggu aktivitas investasi normal,” kata juru bicara Guo Jiakun dalam konferensi pers. “Pihak Australia seharusnya sungguh-sungguh menghormati hak dan kepentingan sah para investor Tiongkok.”

Tiongkok "tidak sedang mempertahankan investasi mineral kritis. Mereka sedang mempertahankan posisi tawar mereka," demikian menurut analisis Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI) pada bulan Juni. Laporan tersebut menyebut perintah divestasi memang mengurangi satu bentuk kerentanan, tetapi tidak akan menghapus ketergantungan Australia jika negara itu tidak memperluas kapasitas pemrosesan domestik dan kemampuan industrinya secara lebih luas.

Northern Minerals menyatakan saat ini "sedang mempertimbangkan perintah pelepasan saham terbaru tersebut dan akan mengumumkan langkah selanjutnya setelah selesai melakukannya."

Upaya selama dua tahun

Australia telah menghabiskan waktu selama dua tahun menggunakan undang-undang investasi asing untuk mengurangi pengaruh Tiongkok terhadap Northern Minerals. Perusahaan tersebut melaporkan dirinya sendiri ke Badan Peninjau Investasi Asing Australia (FIRB) pada akhir tahun 2025 setelah muncul kekhawatiran terkait upaya investor terkait Tiongkok untuk meningkatkan kepemilikan saham mereka.

Yuxiao Fund yang terkait dengan Tiongkok sempat berupaya meningkatkan kepemilikannya di Northern Minerals pada tahun 2024, tetapi FIRB menolaknya. Badan tersebut memberikan waktu 60 hari kepada Yuxiao dan empat pemegang saham terkait untuk menjual kepemilikan saham mereka.

Washington menandatangani kesepakatan pada Oktober tahun lalu untuk memperluas aksesnya ke cadangan logam tanah jarang dan mineral kritis Australia. Northern Minerals termasuk di antara perusahaan yang disebut secara khusus dalam perjanjian tersebut, yang menekankan perlunya “mendiversifikasi rantai pasokan kritis.”

Tiongkok menguasai sebagian cadangan logam tanah jarang terbesar di dunia dan memiliki pengaruh sangat besar karena hampir menjadi satu-satunya negara yang mampu memurnikan logam-logam tersebut dalam skala industri.

Negara-negara termasuk Amerika Serikat, Jerman, dan Korea Selatan kini mencari sumber pasokan alternatif.

Menurut perusahaan tersebut, hampir 99% produksi disprosium dunia berasal dari Tiongkok.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link