Kapabilitas

Kongres AS dan Pentagon dorong penggunaan drone laut lebih luas di Indo-Pasifik

Mulai dari kapal pasokan otonom hingga armada Angkatan Laut yang diproyeksikan tumbuh tujuh kali lipat, sistem permukaan nirawak menjadi bagian penting dari perencanaan militer AS untuk kemungkinan konflik dengan Tiongkok.

Marinir AS menurunkan perbekalan dari kapal profil rendah (LPV) otonom saat pelatihan kapal permukaan nirawak (unmanned surface vessels – USV) di Fasilitas AL White Beach di Okinawa, Jepang, pada 2 Desember lalu. [Sersan Alora Finigan/Korps Marinir AS]
Marinir AS menurunkan perbekalan dari kapal profil rendah (LPV) otonom saat pelatihan kapal permukaan nirawak (unmanned surface vessels – USV) di Fasilitas AL White Beach di Okinawa, Jepang, pada 2 Desember lalu. [Sersan Alora Finigan/Korps Marinir AS]

Oleh Chelsea Robin |

Washington mendorong penggunaan kapal USV seiring meningkatnya kemampuan militer AS untuk mengoperasikan dan mendukung pasukan di Indo-Pasifik di tengah meningkatnya persaingan dengan Tiongkok.

Komite Angkatan Bersenjata DPR AS menyampaikan rekomendasi itu kepada Angkatan Darat pada bulan Mei dalam draf laporannya untuk UU Wewenang Pertahanan Nasional Tahun Anggaran 2027.

"Komite meyakini bahwa kapal berawak Angkatan Darat dapat dibantu dengan [USV] khusus yang memberikan perlindungan pasukan lebih baik, peringatan dini, serta efek penginderaan dan pertahanan sembari mengurangi risiko terhadap personel," demikian bunyi RUU tersebut.

Anjuran itu bertujuan mengatasi kerentanan yang dihadapi oleh kapal tradisional yang lebih lambat, yang sering kali tidak memiliki kemampuan pertahanan yang memadai terhadap ancaman asimetris, sistem nirawak, dan tembakan musuh, menurut Mike Rogers, ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR AS.

Serdadu AS mengoperasikan kapal USV saat misi pengawasan maritim di Exercise Salaknib 2026 di Pangkalan AL Camilo Osias di Filipina pada 14 Juni. [Prada Jose Nunez/Angkatan Darat AS]
Serdadu AS mengoperasikan kapal USV saat misi pengawasan maritim di Exercise Salaknib 2026 di Pangkalan AL Camilo Osias di Filipina pada 14 Juni. [Prada Jose Nunez/Angkatan Darat AS]

Kendati pasukan AS biasanya mengandalkan pangkalan "rangkaian pulau pertama" dan perjanjian akses guna mendukung operasi, strategi itu mungkin tidak lagi cukup untuk melawan Tiongkok. USV dapat menjadi sangat penting untuk manuver unit-unit AS yang dipersenjatai dengan rudal anti-kapal dan pertahanan udara, tulis USNI News.

Rangkaian pulau pertama yang strategis meliputi Jepang, Taiwan, dan Filipina.

Contohnya, dalam latihan militer Balikatan yang baru saja dilaksanakan di Filipina, kapal AD mengantar peluncur sistem artileri HIMARS ke Pulau Balabac di dekat titik sempit Laut Tiongkok Selatan. Hal ini memungkinkan penembakan pertama dari lokasi itu, demikian laporan Naval News.

Namun, strategi itu mungkin tidak lagi memadai untuk mendukung pasukan saat terjadi konflik dengan Tiongkok, tulis USNI News.

Mengamankan logistik pulau

Sementara itu, Angkatan Darat mengumumkan bahwa mereka memerlukan sejumlah perahu nirawak kecil untuk mengatasi kekurangan armada saat ini.

"Sistem Kendaraan Air Angkatan Darat (Army Watercraft Systems – AWS) sangatlah penting untuk melintasi formasi pesisir yang tersebar di palagan Indo-Pasifik, tetapi armada saat ini sudah tua dan bergantung pada kader pelaut senior Angkatan Darat yang terbatas," menurut cuitan Unit Inovasi Pertahanan (Defense Innovation Unit – DIU) pada 28 Mei.

Menurut pengumuman tender, armada AD AS saat ini kekurangan kapasitas muatan yang dibutuhkan untuk memindahkan perbekalan dengan kecepatan yang dibutuhkan oleh pasukan operasional. Tantangan ini semakin berat di lingkungan konflik tempat musuh dapat mengincar aset logistik bernilai tinggi dan padat personel.

Kapal AD mendemonstrasikan misi itu saat latihan Balikatan tahun ini di Filipina, mengantar peluncur HIMARS ke Pulau Balabac di dekat titik sempit Laut Tiongkok Selatan. Penempatan itu memungkinkan penembakan HIMARS pertama dari lokasi itu, demikian laporan Naval News 7 Mei.

Wahana Pemasok Otonom Kecil (Autonomous Resupply Vehicle-Small – ARV-S) itu harus mampu mengangkut muatan yang setara dengan setidaknya dua peti kemas ukuran 6 meter ke unit garis depan, dengan berat muatan total mencapai 24 ton per unit muatan, menurut dokumen itu.

Menurut Inside Defense, wahana itu perlu mendukung bongkar muat berbasis helikopter dan drone, tetapi tetap kompatibel dengan infrastruktur dermaga standar.

"Untuk Logistik Konflik Indo-Pasifik, [USV] dapat memberi keunggulan operasional yang signifikan dengan menghilangkan risiko terhadap personel di kapal dan mengurangi kebutuhan pelaut terlatih," demikian bunyi pengumuman tender tersebut, menurut Naval News.

Pengumuman itu tidak menyebut berapa wahana yang dibutuhkan, tetapi menyatakan "kekuatan akhir mungkin memerlukan puluhan ARV-S atau lebih yang diproduksi dengan cepat" dan setiap peserta tender "harus memiliki kemampuan realistis untuk meningkatkan skala produksi." Proses penawaran telah ditutup.

Sementara upaya Angkatan Darat untuk mengembangkan sistem nirawak tetap berfokus pada misi pengawalan dan angkutan perbekalan, Angkatan Laut sedang mengembangkan sistem nirawak dalam skala yang jauh lebih besar.

Armada siap bertambah

Empat USV medium telah dikerahkan di kawasan Indo-Pasifik, tetapi pejabat AL memperkirakan armada akan bertambah menjadi lebih dari 30 kapal pada 2030, menurut Defense News.

Ekspansi ini sejalan dengan visi kekuatan Angkatan Laut tahun 2045, kata Kapten (Laut) Garrett Miller, komandan Surface Development Group 1, di Konferensi Laut-Udara-Antariksa di luar Washington, DC, pada bulan April.

Dia berkata bahwa AL memperkirakan ribuan USV kecil dan sejumlah sistem pesawat nirawak akan beroperasi dari kapal berawak dan nirawak di seluruh kawasan, dilaporkan Defense News.

Prioritaskan sistem nirawak

Prioritas yang diberikan kepada kapal nirawak terlihat jelas dalam rencana pembuatan kapal tahun anggaran 2027 Angkatan Laut AS yang dikeluarkan pada 11 Mei.

"Anggaran itu menandakan niat Angkatan Laut untuk memasukkan strategi 'paduan mahal dan murah' yang memadukan sejumlah kecil aset mahal dan berkemampuan tinggi dengan sejumlah besar aset yang lebih murah," demikian dilaporkan American Security Project (ASP).

Pendekatan ini memungkinkan Amerika Serikat "bersaing dengan Tiongkok atau menangkalnya secara efisien dengan meningkatkan kelincahan, daya tanggap, dan fleksibilitas pasukan angkatan laut," memberi komandan lebih banyak pilihan baik di masa damai maupun konflik, kata ASP.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link