Keamanan

SIPRI peringatkan bahwa Tiongkok pimpin peningkatan senjata nuklir seiring naiknya risiko global

Tiongkok memperbanyak senjata nuklirnya lebih cepat daripada negara lain dalam setahun terakhir, sementara makin banyak negara bersenjata nuklir yang menempatkan hulu ledak di pasukan operasional.

Rudal DF-61 dipamerkan saat parade Hari Kemenangan Tiongkok pada 3 September lalu. [Wikipedia]
Rudal DF-61 dipamerkan saat parade Hari Kemenangan Tiongkok pada 3 September lalu. [Wikipedia]

Oleh AFP dan Focus |

JENEWA -- Tiongkok memperbanyak senjata nuklirnya lebih cepat daripada negara lain dalam setahun terakhir, sementara makin banyak negara bersenjata nuklir yang memindahkan hulu ledak dari lokasi penyimpanan ke pasukan operasional, sehingga meningkatkan risiko nuklir global kendati stok secara keseluruhan terus menurun, kata peneliti.

Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada 8 Juni, negara-negara kekuatan nuklir dunia diperkirakan memiliki 12.187 hulu ledak pada bulan Januari, termasuk sekitar 9.745 yang ada di tangan militer dan siap digunakan.

Itu penurunan kecil dibandingkan tahun sebelumnya karena sejak berakhirnya Perang Dingin, penonaktifan hulu ledak lama umumnya lebih cepat daripada pembuatan hulu ledak baru, sehingga mengakibatkan penurunan jumlah keseluruhan.

"Kabar yang mengkhawatirkan adalah meskipun jumlah senjata nuklir lebih sedikit, tingkat bahaya dan risiko nuklir justru meningkat," ujar Karim Haggag, direktur SIPRI, kepada AFP.

Rudal balistik JL-3 yang diluncurkan dari kapal selam dipamerkan saat parade militer di Beijing pada 3 September lalu. Senjata ini bagian dari program modernisasi nuklir Tiongkok. [Pedro Pardo/AFP]
Rudal balistik JL-3 yang diluncurkan dari kapal selam dipamerkan saat parade militer di Beijing pada 3 September lalu. Senjata ini bagian dari program modernisasi nuklir Tiongkok. [Pedro Pardo/AFP]

Tren penurunan senjata nuklir mungkin akan berbalik dalam beberapa tahun mendatang "seiring laju pembongkaran melambat, sementara pembuatan senjata nuklir baru semakin cepat," menurut pernyataan SIPRI.

Tanda-tanda peringatan lain mencakup terkikisnya perjanjian pengendalian senjata internasional dan meningkatnya persaingan di antara negara-negara bersenjata nuklir, kata Haggag.

Ekspansi pesat Tiongkok

Tiongkok menambah senjata nuklirnya lebih cepat daripada negara lain, menurut SIPRI.

Simpanan hulu ledak Beijing naik dari sekitar 600 pada Januari 2025 menjadi sekitar 620 setahun kemudian dan diperkirakan terus bertambah selama dasawarsa mendatang, menurut perkiraan SIPRI.

Sebagian besar hulu ledak Tiongkok disimpan terpisah dari peluncurnya, tetapi Beijing mungkin sudah mulai menempatkan sejumlah kecil hulu ledak di pasukan operasional, mungkin hingga 34 unit pada bulan Januari, menurut SIPRI.

Tiongkok pada bulan Januari memasukkan ratusan rudal ke tiga lapangan silo besar di utara dan sedang membangun 30 silo lagi di tiga daerah pegunungan di timur, kata SIPRI. Beijing memiliki lebih banyak peluncur rudal balistik antarbenua (ICBM) berbasis darat daripada Rusia atau Amerika Serikat dan, bergantung pada caranya menyusun kekuatan, dapat mengerahkan ICBM setidaknya sebanyak kedua negara itu pada pergantian dasawarsa.

"Meningkatnya persaingan geopolitik berarti adanya insentif yang sangat besar bagi Tiongkok untuk meningkatkan senjata nuklirnya," ucap Haggag.

Namun, SIPRI mencatat bahwa meskipun Tiongkok melampaui 1.000 hulu ledak pada 2030, persenjataannya hanya sekitar seperempat stok senjata AS dan Rusia saat ini.

Tiongkok merupakan negara dengan belanja senjata nuklir terbesar kedua di dunia pada 2025 dengan perkiraan $13,5 miliar, hanya kalah dari Amerika Serikat yang mencapai $69,2 miliar, menurut International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN).

Organisasi itu melaporkan pengeluaran gabungan oleh sembilan negara bersenjata nuklir melonjak 19% dibanding tahun sebelumnya menjadi rekor $119 miliar.

Semakin banyak hulu ledak disiagakan

Tren lain yang mencemaskan adalah "negara-negara yang memiliki senjata nuklir mengeluarkannya dari penyimpanan dan menempatkannya di sistem pengiriman yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Alhasil, makin banyak senjata nuklir yang disiagakan," kata Haggag.

Amerika Serikat dan Rusia bersama-sama memiliki sekitar 83% senjata nuklir dunia, dengan masing-masing menyimpan lebih dari 5.000 hulu ledak.

Kedua negara itu sedang menjalankan program modernisasi kekuatan nuklir, tetapi keduanya menghadapi tantangan.

Program Amerika Serikat mengalami kemajuan tetapi menghadapi "tantangan perencanaan dan pendanaan yang mungkin memperlambat dan membengkakkan biaya program secara signifikan," kata SIPRI.

Program Rusia mengalami beberapa masalah, termasuk gagal uji ICBM. Sanksi ekonomi dan berbagai tuntutan dalam negeri akibat perang Ukraina tampaknya menghambat kemajuan.

Modernisasi terus berlanjut

Di Eropa, Prancis dan Inggris masing-masing memiliki sekitar 290 dan 225 hulu ledak nuklir.

Namun, SIPRI mencatat bahwa senjata nuklir Inggris diperkirakan meningkat setelah tinjauan tahun 2021 merekomendasikan peningkatan batas maksimum hulu ledak negara itu.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan peningkatan senjata nuklir Prancis pada bulan Maret.

India menambah sedikit persenjataannya menjadi sekitar 190 hulu ledak, menurut perkiraan SIPRI.

Pakistan, tetangga dan rival India, diperkirakan memiliki sekitar 170 hulu ledak tetapi terus menambah material fisi, "menunjukkan bahwa persenjataan nuklirnya mungkin akan bertambah dalam dasawarsa mendatang."

Korea Utara terus "memenuhi targetnya untuk menambah persenjataan nuklirnya secara 'eksponensial'," kata SIPRI, memperkirakan bahwa Pyongyang memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir.

Israel, yang tidak mengakui secara terbuka memiliki senjata nuklir, diyakini sedang memodernisasi persenjataannya, dan SIPRI memperkirakan stoknya sekitar 90 hulu ledak nuklir pada awal 2026.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link