Oleh Focus dan AFP |
TOKYO -- Kapal perusak Tiongkok pada 19 Juli melakukan tembakan senapan mesin saat latihan gabungan dengan Rusia di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang diklaim Jepang, sehingga memicu protes diplomatik yang ditolak Beijing sebagai "tidak berdasar".
Pemerintah Jepang mengatakan bahwa angkatan laut Tiongkok dan Rusia menggelar latih tubi tembak di barat daya Okinotori, wilayah paling selatan Jepang, menyebabkan pesawat dan kapal Jepang dikerahkan untuk memantau mereka.
Dalam latihan tersebut, kapal perusak bersenjata rudal kelas Luyang III milik AL Tiongkok menembakkan senapan mesin sekitar 180 km di sebelah barat daya atol itu, menurut Kementerian Pertahanan Jepang.
"Kami akan terus memantau dengan saksama kegiatan kapal Tiongkok dan Rusia di perairan sekitar negara kami," kata Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara, juru bicara pemerintah Jepang.
Kapal perusak itu merupakan bagian dari kelompok tiga kapal Tiongkok dan satu fregat Rusia yang pertama kali terlihat di sebelah barat daya Okinotori sebelum latih tubi. Menurut laporan media Jepang, ini adalah latihan tembak Tiongkok pertama yang terdeteksi dan disingkapkan di zona tersebut.
Kapal-kapal itu kemudian berbelok ke utara dan terlacak berlayar sekitar 220 km di sebelah timur Pulau Iwoto, menurut kementerian.
Sengketa ZEE
Tokyo memprotes Beijing melalui jalur diplomatik, memperingatkan bahwa latih tubi tersebut "dapat membahayakan navigasi kapal-kapal di sekitarnya," kata Kihara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, pada 21 Juli menolak tuduhan tersebut sebagai "sama sekali tidak berdasar."
Menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut, Okinotori adalah "batu karang dan bukan pulau" dan oleh karena itu "tidak layak" untuk menjadi dasar Zona Ekonomi Eksklusif, kata Lin pada 21 Juli. Tokyo menegaskan bahwa ZEE-nya membentang sejauh 370 km dari Okinotori.
Salah satu kapal Tiongkok memberitahukan lokasi dan durasi latihan kepada kapal-kapal di sekitar situ sesaat sebelum latihan dimulai, kata Kihara.
Latih tubi itu dilakukan setelah serangkaian kegiatan militer Tiongkok-Rusia di sekitar Jepang, termasuk penerbangan pesawat pembom pada bulan Juni dan latihan angkatan laut gabungan pada awal Juli.
Ketegangan regional
Penerbangan pesawat pembom dan latihan tembak mencerminkan kerja sama militer yang semakin meningkat antara Beijing dan Moskow, kata Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi.
Hubungan antara Tokyo dan Beijing memburuk sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan pada bulan November bahwa Jepang dapat melakukan intervensi militer jika Taiwan diserang.
Di bawah kepemimpinan Takaichi, Jepang mengadopsi postur pertahanan yang lebih proaktif dengan dukungan AS. Koizumi mengatakan bahwa keamanan Indo-Pasifik dan kawasan Eropa-Atlantik "tidak terpisahkan" dan "saling terhubung", serta menegaskan kembali tekad Tokyo untuk menjalin lebih banyak hubungan pertahanan dengan mitra yang "sehaluan" di Eropa dan Indo-Pasifik.
![Dalam foto selebaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Jepang pada 21 Juli ini, kapal perusak bersenjata rudal AL Tiongkok (kiri) dan fregat AL Rusia melakukan latihan tembak amunisi hidup di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Jepang, menurut Kementerian Pertahanan. [Selebaran/berbagai sumber/AFP]](/gc9/images/2026/07/23/57194-afp__20260721__c2pn4xq__v1__highres__combojapanchinarussiamilitarydiplomacy-370_237.webp)