Oleh Shirin Bhandari |
Filipina dan Kanada menandatangani Perjanjian Status Pasukan Kunjungan (Status of Visiting Forces Agreement/SOVFA) pada awal November, menandai babak baru dalam kerja sama pertahanan dan memperkuat koordinasi di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan.
Tiongkok mengklaim lebih dari 80% wilayah laut tersebut sebagai wilayah kedaulatannya, kendati pandangan tersebut telah ditolak oleh pengadilan internasional pada tahun 2016.
The Diplomat melaporkan pembahasan SOVFA memakan waktu sekitar satu tahun.
Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. dan Menteri Pertahanan Kanada David McGuinty menandatangani perjanjian tersebut di Makati, Filipina. Perjanjian itu menjadi dasar hukum bagi pasukan Kanada untuk berpartisipasi dalam pelatihan militer, latihan, dan kegiatan kerja sama di wilayah Filipina, serta mempermudah penempatan timbal balik di Kanada.

Dalam sebuah pernyataan, Ottawa menyebut perjanjian itu “menandai babak baru dalam kerja sama pertahanan Kanada-Filipina, memungkinkan keterlibatan, kerja sama, dan kolaborasi yang lebih besar antara kedua negara.”
Perluasan kerja sama
Perjanjian ini kian memperkuat hubungan berbagi informasi dan interaksi antar-masyarakat yang sudah “kuat” antara kedua negara, kata Teodoro.
Perjanjian ini memiliki nilai yang melebihi sekadar latihan bersama, menurut Teodoro. “Selain perjanjian ini, kami mengakui nilai strategisnya dalam memperluas kerja sama untuk keamanan maritim, bantuan kemanusiaan, tanggapan bencana, serta kemampuan pertahanan siber,” ujar Teodoro.
Penandatanganan berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas Tiongkok di perairan yang disengketakan. Dalam beberapa bulan terakhir, kapal Penjaga Pantai Tiongkok (CCG) menabrak kapal-kapal Filipina dan menyemprotkan meriam air bertekanan tinggi di sekitar Karang Scarborough dan Karang Second Thomas. Kanada telah mengecam Beijing dalam “menggunakan meriam air yang berbahaya” dan “tindakan agresif di Laut Tiongkok Selatan.”
Seorang analis menyatakan pada bulan November bahwa Kanada berpotensi memberikan bantuan yang bermanfaat pada Filipina dalam menghadapi CCG.
“Pengalaman Kanada dalam membangun kapal dengan lambung diperkuat dapat memberikan manfaat besar bagi ambisi Filipina untuk mencapai kemandirian dalam industri perkapalan—terutama dalam menghadapi manuver agresif CCG di laut,” tulis pakar geopolitik Filipina, Don McLain Gill, di laman opini Fulcrum.sg.
Perdamaian dan stabilitas bersama
Perjanjian baru ini akan berkontribusi pada “perdamaian dan stabilitas bersama di kawasan” dengan memastikan negara-negara dapat terus mempertahankan kedaulatan mereka menghadapi ancaman yang meningkat, kata Teodoro.
Sementara itu, McGuinty mengatakan perjanjian ini akan memperkuat hubungan Kanada dengan militer Filipina sekaligus menjalankan strategi Kanada yang lebih luas di Asia-Pasifik, yang bertujuan untuk memiliki “kehadiran di garis depan di kawasan ini.”
Pemerintah Kanada menyatakan, “Kanada menghargai posisi strategis Filipina di kawasan. Kerja sama berkelanjutan dengan mitra seperti Filipina mencerminkan komitmen jangka panjang Kanada dalam mendukung perdamaian, keamanan, dan stabilitas di wilayah Indo-Pasifik.”
Menjalin aliansi dengan negara demokrasi
Menurut Gill, perjanjian terbaru antara Manila dan Kanada mencerminkan pola yang konsisten dalam memperluas jaringan keamanan dengan negara-negara yang menghormati hukum internasional dan prinsip-prinsip demokrasi.
Ia menyoroti beberapa peristiwa sebagai bukti semakin eratnya kerja sama: pelayaran gabungan kedua angkatan laut pada tahun 2023, penyediaan teknologi deteksi kapal gelap oleh Kanada pada tahun 2024, dan empat kegiatan kerja sama maritim multilateral yang digelar hingga tahun 2025.
Kedua negara akan memperkuat mekanisme kerja sama mereka, menjadikan kolaborasi antar militer lebih efisien, kata Gill: “Ketika SOVFA mulai berlaku, perjanjian ini akan memperkuat MoU [nota kesepahaman] tertanggal Januari 2024 dan mempermudah kerja sama militer-ke-militer antara kedua negara,” tulisnya.
Ia memperkirakan akan ada peningkatan "efisiensi dalam berbagi informasi, kesiapsiagaan bersama, dan operasi tanggap bencana.”
Perkembangan ini mencerminkan meningkatnya jumlah kemitraan pertahanan yang dibangun Manila, dengan perjanjian tersebut menandai kesepakatan pasukan tamu pertama Kanada di Asia-Pasifik dan menjadikannya negara kelima yang menandatangani perjanjian serupa dengan Filipina, setelah Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Selandia Baru.
Pembahasan untuk kesepakatan pertahanan yang sejenis dengan Prancis saat ini tengah berlangsung.
![Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. (kanan) berjabat tangan dengan Menteri Pertahanan Kanada David McGuinty sambil memegang perjanjian pasukan tamu yang telah ditandatangani, usai pertemuan mereka di Manila pada 2 November. [Ted Aljibe/AFP]](/gc9/images/2025/11/12/52747-afp__20251102__82r47zr__v1__highres__philippinescanadadiplomacy-370_237.webp)