Kapabilitas

Jepang dan Australia resmikan koordinasi pertahanan yang lebih erat

Kerja sama strategis baru ini mencakup berbagai hal yang berkaitan dengan kebijakan pertahanan dan intelijen, termasuk ruang angkasa, siber, serta pertahanan rudal dan udara terintegrasi.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles (kiri) berbicara saat konferensi pers bersama Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi di Tokyo, 7 Desember. [Kazuhiro Nogi/Pool/AFP]
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles (kiri) berbicara saat konferensi pers bersama Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi di Tokyo, 7 Desember. [Kazuhiro Nogi/Pool/AFP]

Oleh Focus |

Kerangka Kerja untuk Koordinasi Pertahanan Strategis (FSDC) yang dibentuk Jepang dan Australia Desember lalu menunjukkan kepercayaan dan persahabatan kedua negara, kata para analis.

Menhan Jepang Shinjiro Koizumi dan Wakil PM sekaligus Menhan Australia Richard Marles mengadakan pertemuan pada 7 Desember di Tokyo untuk membahas hubungan pertahanan Jepang-Australia dan lingkungan keamanan yang memengaruhi kepentingan keduanya.

"Menyadari peran penting Jepang dan Australia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional, kami mengumumkan pembentukan Kerangka Kerja Koordinasi Pertahanan Strategis," demikian pernyataan bersama kedua negara.

FSDC akan dipimpin oleh menteri pertahanan dari kedua negara.

Menhan Jepang Shinjiro Koizumi (kiri) dan Menhan Australia Richard Marles di dalam kendaraan lapis baja MRAP buatan Australia menjelang pembicaraan di Tokyo pada 7 Desember. [Eugene Hoshiko/Pool/AFP]
Menhan Jepang Shinjiro Koizumi (kiri) dan Menhan Australia Richard Marles di dalam kendaraan lapis baja MRAP buatan Australia menjelang pembicaraan di Tokyo pada 7 Desember. [Eugene Hoshiko/Pool/AFP]

Konsultasi lebih luas

"Kerangka kerja ini memungkinkan konsultasi lebih luas mengenai berbagai hal terkait kebijakan pertahanan, intelijen, kegiatan bilateral dan multilateral, industri dan teknologi, serta kemampuan, termasuk ruang angkasa, siber, dan pertahanan rudal dan udara terintegrasi… untuk mendukung Indo-Pasifik yang stabil dan aman," demikian pernyataannya.

Pengumuman ini di tengah ketegangan di Laut Tiongkok Selatan dan kekhawatiran atas peningkatan kekuatan militer Tiongkok yang telah berlangsung puluhan tahun. Dalam pernyataan bersama, kedua pihak menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan sangat penting bagi keamanan dan kemakmuran regional dan internasional, menekankan bahwa isu lintas Selat harus diselesaikan secara damai melalui dialog.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan berulang kali mengancam akan merebutnya.

Menhan Jepang dan Australia menyoroti pentingnya kelanjutan kerja sama dengan Amerika Serikat. Mereka menekankan pentingnya koordinasi pertahanan yang berkelanjutan di Laut Tiongkok Selatan dengan Filipina dan mitra lain yang sehaluan, termasuk melalui kegiatan kerja sama maritim (Maritime Cooperative Activities/MCA) secara teratur.

Jepang, Australia, dan Filipina, sering kali melakukan MCA bersama AS untuk memperkuat daya tangkal, meningkatkan interoperabilitas, dan menegakkan hukum maritim internasional, termasuk Konvensi Hukum Laut PBB.

"Ini untuk memperdalam hubungan pertahanan, yang sudah sangat signifikan, dan memaksimalkan setiap bidang guna memastikan bahwa kita bekerja sama seerat mungkin di masa depan ... untuk menjaga Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," kata Marles di Tokyo.

Sikap agresif Beijing

Meskipun pernyataan bersama itu tidak menyebut Tiongkok, analis menilai kerangka kerja itu dilatarbelakangi ketegangan hubungan Tokyo dan Beijing. FSDC dibentuk setelah hubungan Jepang dan Tiongkok merosot ke titik terendah dalam lebih dari satu dekade, tulis Rajaram Panda, cendekiawan senior dan pakar Jepang, dalam Eurasia Review edisi Desember.

Panda menyebut ucapan PM Jepang Sanae Takaichi pada bulan November yang menyatakan bahwa potensi blokade Tiongkok di dekat Taiwan dapat menimbulkan "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" bagi Jepang. Komentar itu memicu respons tajam dari Beijing, termasuk ancaman pemenggalan Takaichi oleh seorang diplomat.

"Perilaku agresif Tiongkok... menyebabkan negara-negara kecil di Indo-Pasifik yang memiliki kekhawatiran serupa menerapkan strategi lindung nilai guna meredam Tiongkok," tulis Panda.

Dia menambahkan, Jepang " mempercepat pembangunan militernya dengan memperluas hubungan pertahanan di luar sekutu tunggalnya, AS, dan sekarang Australia jadi sekutu setengah-resmi."

"Persahabatan penting"

Kerja sama pertahanan Jepang dan Australia semakin konkret, termasuk ekspor pertahanan. Setelah pembicaraannya dengan Koizumi, Marles mengunjungi galangan kapal Mitsubishi Heavy Industries di Nagasaki, tempat Jepang sedang membuat kapal fregat kelas Mogami pertama dari tiga kapal yang dipesan AL Australia.

Kapal perang serbaguna dengan jangkauan 10.000 mil laut ini akan menggantikan fregat kelas Anzac Australia yang jangkauan operasionalnya jauh lebih pendek. Fregat kelas Mogami yang ditingkatkan ini lebih besar dan lebih mematikan serta membutuhkan awak lebih sedikit, menurut AL Australia.

Tiga fregat pertama diperkirakan mulai beroperasi pada 2034. Australia berencana menandatangani kontrak untuk 11 fregat multi-misi pada akhir tahun fiskal ini. Dengan transfer teknologi Jepang, delapan kapal berikutnya dibuat di Perth oleh perusahaan pembuat kapal Australia, Austal.

Kesepakatan ini akan menjadi kontrak ekspor pertahanan terbesar Jepang sepanjang sejarah, mencerminkan kepercayaan antara kedua negara dan menandai tonggak penting bagi industri pertahanan Jepang seiring semakin ditinggalkannya pasifisme pascaperang.

"Bagi Australia, persahabatan terpenting di Indo-Pasifik saat ini adalah dengan Jepang," tulis analis politik Melbourne, Grant Wyeth, dalam The Diplomat edisi Desember. Saat arsitektur hubungan internasional mendapat tekanan, katanya, membentuk kemitraan yang andal dan kooperatif menjadi penting untuk memperkuat keamanan.

Tahun ini, Jepang dan Australia memperingati ulang tahun ke-50 Perjanjian Dasar Persahabatan serta Kerja Sama mereka.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link