Oleh Focus |
USS Abraham Lincoln (CVN-72) milik AL AS—kapal induk bertenaga nuklir kelima kelas Nimitz—baru-baru ini menggelar latihan tembak dan pengisian logistik di laut di Laut Tiongkok Selatan dalam rangka operasi rutin, berdasarkan foto dan laporan AL AS.
Latihan tembak itu disertai penggunaan sistem senjata jarak dekat CIWS Phalanx di kapal induk itu pada 8 Januari, sebagaimana terlihat dalam foto-foto AL AS. Sistem berpemandu radar itu dirancang untuk menghadapi ancaman jarak dekat dan dipandang sebagai pertahanan lapis terakhir.
Kapal induk itu telah beroperasi di Laut Tiongkok Selatan setidaknya selama dua minggu, dan foto AL AS menunjukkan kapal itu sudah di sana sejak 26 Desember, demikian dilaporkan Stars and Stripes. Foto awal Januari memperlihatkan operasi penerbangan, serta latihan pengendalian kerusakan, latihan penjinakan bahan peledak, dan pengisian logistik di laut.
"Operasi rutin"
Kelompok serang ini memulai penugasannya dari San Diego pada akhir November dengan pemberitahuan minim. “Demi alasan keamanan, AL biasanya tidak banyak memberi informasi saat kapal induk dikerahkan. Meski begitu, kabar cepat tersebar mengenai apakah kapal induk itu dikirim ke kawasan Indo-Pasifik atau Timur Tengah,” menurut San Diego Union-Tribune edisi November.
![Prajurit penjinak bahan peledak Angkatan Laut AS melakukan terjun tali dari helikopter MH-60S Sea Hawk ke geladak USS Abraham Lincoln saat latihan di Laut Tiongkok Selatan, 30 Desember. [Hannah Tross, Kelasi Dua AL AS]](/gc9/images/2026/01/16/53533-eod-370_237.webp)
![Sejumlah pelaut AL AS menyaksikan latihan tembak di kapal induk USS Abraham Lincoln dalam operasi rutin di Laut Tiongkok Selatan pada 8 Januari. [Shepard Fosdyke-Jackson/AL AS]](/gc9/images/2026/01/16/53534-ciws-370_237.webp)
Menurut rilis berita dan keterangan foto AL AS, USS Abraham Lincoln berangkat dengan pengawalan grup CSG-3, termasuk kapal perusak bersenjata rudal kelas Arleigh Burke USS Spruance, USS Michael Murphy, dan USS Frank E. Petersen Jr.. Foto AL AS memperlihatkan operasi peluncuran dan pendaratan pesawat dari dek kapal induk.
USS Abraham Lincoln beserta ketiga kapal pengawalnya tiba di Guam pada 11 Desember untuk kunjungan pelabuhan yang dijadwalkan, kata AL AS dalam sebuah rilis.
“Kehadiran Kelompok Serang kami di perairan Armada ke-7 menunjukkan komitmen kami terhadap kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” kata Laksamana Muda Todd Whalen, komandan CSG-3, dalam sebuah pernyataan. “Kunjungan ke lokasi strategis seperti Guam meningkatkan kesiapan misi kami dan membantu kami tetap siap menjalankan operasi maritim di wilayah ini.”
Setelah kunjungan ke Guam, kelompok serang itu beroperasi di Laut Filipina hingga akhir Desember, menurut pelacak kapal induk dari US Naval Institute, sebelum kemudian terlihat dalam foto AL AS dari Laut Tiongkok Selatan. Pengisian logistik di laut dengan USNS Cesar Chavez terdokumentasi pada 7 Januari, sehari sebelum latihan tembak CIWS.
Letkol Laut Matthew Comer, juru bicara Armada ke-7 AS, menggambarkan kegiatan kelompok serang itu sebagai “operasi rutin,” lapor Stars and Stripes, saat armada tersebut menjalankan patroli rutin di kawasan Indo-Pasifik.
Ketegangan di Taiwan
Latihan kapal induk di Laut Tiongkok Selatan bertepatan dengan latihan tembak Tiongkok di dekat Taiwan pada 29–30 Desember, yang menurut Beijing menyimulasikan blokade atas pelabuhan utama pulau itu dan melibatkan peluncuran rudal serta pengerahan sejumlah pesawat dan kapal.
Menurut pernyataan Kemlu Tiongkok, Justice Mission 2025 digambarkan sebagai “aksi hukuman dan pencegahan” terhadap Taiwan serta pihak yang mendukung kemerdekaannya dari Tiongkok. Redaksi kalimatnya bertujuan menormalisasi blokade Tiongkok dan mengubah tindakan penggunaan kekuatan ilegal menjadi aksi polisional internal.
Meskipun Tiongkok menahan diri saat latihan itu, Jamestown Foundation menyatakan operasi di masa depan “dapat menimbulkan konsekuensi yang jauh lebih serius,” termasuk “gangguan signifikan terhadap lalu lintas udara dan maritim di Selat Taiwan dan Selat Bashi.”
“Kami mendesak semua negara dan lembaga terkait untuk secara ketat mematuhi prinsip Satu Tiongkok,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Tiongkok dalam pernyataan pada 2 Januari, yang dikeluarkan di tengah seruan untuk menahan diri, termasuk dari Amerika Serikat.
Menurut jubir Deplu AS Tommy Pigott, dalam pernyataan 1 Januari, “kegiatan militer dan retorika Tiongkok terhadap Taiwan dan negara lain di kawasan ini menimbulkan ketegangan yang tidak perlu.”
"Kami mendesak Beijing untuk terus menahan diri, menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan, dan melakukan dialog yang konstruktif."
Beijing mengklaim lebih dari 80% wilayah Laut Tiongkok Selatan, yang juga diklaim Filipina, Vietnam, Taiwan, Malaysia, Indonesia, dan Brunei. Putusan arbitrase di Den Haag pada 2016 menolak klaim maritim Tiongkok berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, tetapi Beijing menolak keputusan tersebut.
Pada 15 Januari, USS Abraham Lincoln beserta kelompok serangnya menerima perintah meninggalkan Laut Tiongkok Selatan dan berlayar menuju Timur Tengah, mengakhiri rangkaian operasi terbaru di perairan sengketa itu.
![Pesawat tempur F/A-18F Super Hornet diluncurkan dari USS Abraham Lincoln dalam operasi penerbangan rutin di Laut Tiongkok Selatan pada 2 Januari. [Hannah Tross, Kelasi Dua AL AS]](/gc9/images/2026/01/16/53532-super_hornet-370_237.webp)