Oleh Wu Qiaoxi |
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi pekan lalu melakukan kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat sejak menjabat, yang ditandai dengan sesi olahraga bersama yang tidak lazim dengan mitranya dari AS serta pembicaraan tingkat tinggi mengenai daya tangkal aliansi.
Jepang dan Amerika Serikat sepakat memperluas kerja sama dalam produksi sistem pertahanan rudal, program pelatihan dan latihan militer, serta koordinasi industri pertahanan, seiring meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan.
Dalam pembicaraan keamanan yang berlangsung di Washington pada 15 Januari, Koizumi dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyepakati langkah-langkah strategis untuk memperkuat daya tangkal di kawasan Indo-Pasifik. Kedua pihak menempatkan perluasan kehadiran aliansi di gugus Kepulauan Ryukyu, termasuk Okinawa, sebagai prioritas utama, serta berkomitmen memperluas kerja sama di bidang peralatan dan teknologi pertahanan. Mereka juga sepakat melanjutkan konsultasi guna meningkatkan produksi rudal pencegat Standard Missile-3 Block 2A hasil pengembangan bersama.
Sebagai bagian dari upaya penguatan kesiapsiagaan, kedua sekutu sepakat menggelar pelatihan dan latihan yang dirancang mendekati skenario operasi nyata, mencakup Jepang dan kawasan lain di sepanjang rantai pulau pertama, termasuk Taiwan dan Filipina.
![Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi berjabat tangan dalam olahraga bersama di Washington, DC, pada 15 Januari, menjelang perundingan terkait penguatan daya tangkal Indo-Pasifik dan perluasan kerja sama dalam produksi rudal serta latihan gabungan. [Shinjiro Koizumi/X]](/gc9/images/2026/01/23/53625-diplomacy-370_237.webp)
“Semua langkah ini dimaksudkan untuk menjamin perdamaian melalui kekuatan,” kata Hegseth.
Koizumi menyatakan kunjungan tersebut menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat terhadap kawasan Indo-Pasifik dan Jepang, sambil menekankan, “Aliansi Jepang–AS tetap sepenuhnya tak tergoyahkan.”
Sebelum pembicaraan resmi, Koizumi dan Hegseth mengikuti sesi olahraga bersama mengenakan kaus serasi, sebuah penampilan unik yang oleh Koizumi disebut sebagai “diplomasi lewat olahraga.”
Koizumi kemudian menulis tweet: “Demi memperkuat aliansi Jepang–AS, saya menjalaninya dengan semangat ‘Enya kora', atau semangat pantang menyerah."
Pada hari yang sama, Koizumi juga melakukan pembicaraan terpisah dengan Wakil Presiden AS JD Vance di Gedung Putih. Keduanya bertukar pandangan mengenai situasi keamanan kawasan serta upaya Jepang memperkuat kemampuan pertahanannya.
Ketegangan Tiongkok–Jepang
Kunjungan tersebut berlangsung di tengah eskalasi ketegangan antara Jepang dan Tiongkok, menyusul pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada bulan November mengenai kemungkinan intervensi militer Jepang jika Tiongkok menyerang Taiwan. Sebagai balasan, Tiongkok mengumumkan pembatasan ekspor logam tanah jarang serta komoditas lain yang bersifat penggunaan ganda ke Jepang.
Dalam pidato utamanya di Honolulu Defense Forum, Hawaii, pada 13 Januari, Koizumi memperingatkan—tanpa menyebut negara tertentu—bahwa pembangunan militer yang tidak transparan terus berlanjut, upaya mengubah status quo dengan kekerasan masih berlangsung di Laut Tiongkok Timur dan Selatan, serta aktivitas militer provokatif semakin meningkat di Pasifik barat dan selatan.
Ia mengajak negara-negara yang berpandangan sejalan untuk menanggapi secara kolektif dan, pada saat yang sama, meluncurkan slogan “Make the Alliance Great Always (MAGA/Jadikan Aliansi Tetap Hebat).”
Para analis dan pengamat menafsirkan pernyataan tersebut mengarah pada aksi-aksi Tiongkok di kawasan, termasuk konfrontasi dengan kapal Filipina di Laut Tiongkok Selatan, patroli Penjaga Pantai Tiongkok di sekitar Kepulauan Senkaku yang dikelola Jepang, latihan militer terkait Taiwan, serta aktivitas kapal induk di sekitar barat daya Jepang.
Dalam pembahasan keamanan dengan Panglima Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel Paparo, Koizumi menyatakan Jepang akan terus mendukung penguatan kerja sama pertahanan Jepang–AS seiring memburuknya lingkungan keamanan. Japan News melaporkan bahwa Paparo menilai aliansi Jepang–AS sebagai yang paling penting dan signifikan bagi stabilitas, baik di kawasan maupun secara global.
Salah satu langkah kunci yang sedang dibahas adalah rencana untuk mengubah struktur Pasukan AS di Jepang menjadi komando operasi gabungan, dengan tujuan memperkuat koordinasi dengan Jepang dalam perencanaan dan pelaksanaan latihan bersama, serta memastikan dukungan yang lebih efektif bagi Jepang bila dibutuhkan, menurut Air & Spaces Forces Magazine.
Salah satu upaya utama untuk memperdalam hubungan tersebut adalah mencakup perubahan Pasukan AS di Jepang menjadi markas besar pasukan gabungan guna mengoordinasikan operasi militer dengan Jepang, merencanakan latihan bersama, serta mendukung pertahanan negara tersebut apabila konflik pecah.
Majalah tersebut menambahkan Jepang tengah membentuk komando operasi gabungan untuk mengintegrasikan komando di seluruh Pasukan Bela Diri serta meningkatkan koordinasi dengan militer asing.
![Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi (kiri) mengikuti upacara lagu kebangsaan masing-masing negara saat kedatangan Koizumi untuk pertemuan di Washington, DC, pada 15 Januari. [Saul Loeb/AFP]](/gc9/images/2026/01/23/53626-afp__20260115__92ve8m2__v1__highres__uspoliticshegsethjapan-370_237.webp)