Politik

Pembersihan Zhang Youxia oleh Xi Jinping sisakan kekosongan di dewan perang tertinggi Tiongkok

Pemimpin Tiongkok Xi Jinping tampaknya kesulitan menemukan jenderal yang mampu memenuhi "standar tanpa kompromi yang ia tetapkan terkait loyalitas kepada partai dan kecakapan operasional."

Foto yang diambil pada 25 Desember 2023 ini menunjukkan jajaran komandan tertinggi Xi Jinping saat itu: semuanya kecuali satu orang telah digulingkan dalam pembersihan besar-besaran selama tiga tahun terakhir, meninggalkan kekosongan kepemimpinan di kekuatan militer terbesar kedua di dunia tersebut. [Li Gang/Xinhua via AFP/Ilustrasi oleh Focus]
Foto yang diambil pada 25 Desember 2023 ini menunjukkan jajaran komandan tertinggi Xi Jinping saat itu: semuanya kecuali satu orang telah digulingkan dalam pembersihan besar-besaran selama tiga tahun terakhir, meninggalkan kekosongan kepemimpinan di kekuatan militer terbesar kedua di dunia tersebut. [Li Gang/Xinhua via AFP/Ilustrasi oleh Focus]

Oleh Jia Feimao |

Pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah menyingkirkan Jenderal Zhang Youxia, deputi militer paling senior di bawahnya dan selama bertahun-tahun menjadi tokoh penting dalam kendali Partai Komunis atas Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Pemerintah mengumumkan pencopotan sang jenderal dari Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC) pada akhir Januari lalu.

Langkah ini membuat struktur kepemimpinan CMC—badan komando militer tertinggi Tiongkok—menjadi rapuh dan jumlah perwira senior yang kian menipis, menurut para analis yang memantau promosi dan pembersihan di tubuh PLA.

Editorial halaman depan edisi 2 Februari di PLA Daily, surat kabar resmi militer Tiongkok, menggambarkan pencopotan Zhang sebagai bagian dari kampanye untuk melindungi kendali partai dan meningkatkan efektivitas tempur. “Penyelidikan dan hukuman tegas” terhadap Zhang dan sesama perwira senior, Liu Zhenli, disebut akan “menyingkirkan hambatan” dan “menghilangkan unsur-unsur yang melemahkani efektivitas tempur,” tulisnya.

Zhang Youxia, saat itu menjabat sebagai wakil ketua Komisi Militer Pusat Tiongkok, memberi hormat di acara Simposium Angkatan Laut Pasifik Barat di Qingdao, Tiongkok, 22 April 2024. Beijing mencopot Zhang dan menempatkannya di bawah penyelidikan pada bulan Januari, memperdalam perombakan di jajaran tertinggi komando militer Tiongkok. [Wang Zhao/AFP]
Zhang Youxia, saat itu menjabat sebagai wakil ketua Komisi Militer Pusat Tiongkok, memberi hormat di acara Simposium Angkatan Laut Pasifik Barat di Qingdao, Tiongkok, 22 April 2024. Beijing mencopot Zhang dan menempatkannya di bawah penyelidikan pada bulan Januari, memperdalam perombakan di jajaran tertinggi komando militer Tiongkok. [Wang Zhao/AFP]

Latar belakang Zhang Youxia membuat pembersihan ini lebih dari sekadar sandiwara anti-korupsi biasa. Di usia 75 tahun, ia adalah salah satu dari sedikit tokoh senior PLA dengan pengalaman tempur nyata, setelah bertempur melawan Vietnam pada akhir 1970-an. Kredensial semacam itu kian langka seiring waktu dan memberinya wibawa luar biasa di kalangan internal.

Hanya 2 anggota CMC yang tersisa

Perubahan institusional ini sangat mencolok. CMC, yang semula beranggotakan tujuh orang, kini hanya menyisakan dua anggota: Xi sebagai ketua dan Zhang Shengmin sebagai wakil ketua. Zhang Shengmin bertanggung jawab atas disiplin dan loyalitas, tetapi tidak memiliki kewenangan atas operasi militer. Xi mengangkatnya menjadi wakil ketua pada tahun 2025, menurut laporan The Times.

Pembersihan ini memperparah krisis kepemimpinan di puncak militer. “Tiongkok memiliki setidaknya 30 jenderal dan laksamana pada awal 2023 yang memimpin departemen khusus dan komando teater,” tulis The Times. Media tersebut hanya dapat mengidentifikasi tujuh jenderal yang masih memegang peran aktif setelah serangkaian pencopotan dan penyelidikan.

Pemecatan yang berulang dapat membawa konsekuensi politik bagi Xi, ujar Dennis Wilder, mantan analis Tiongkok di CIA yang kini mengajar di Georgetown University, Washington, kepada Bloomberg. "Saya rasa gelombang pembersihan ini pada akhirnya justru melemahkan posisi Xi Jinping di internal partai," katanya.

Implikasi bagi Taiwan

Meski gejolak kepemimpinan mungkin mendorong PLA bersikap lebih berhati-hati secara strategis, hal itu secara bersamaan dapat memicu agresi taktis terhadap Taiwan, kata Lin Ying-yu, profesor madya di Tamkang University, New Taipei, Taiwan.

Demi menunjukkan loyalitas dan kompetensi mereka kepada Xi, para perwira yang haus promosi mungkin akan meningkatkan intrusi ke wilayah udara dan perairan di sekitar Taiwan.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan berulang kali mengancam akan merebut pulau tersebut.

“Langkah-langkah taktis ini dirancang untuk satu orang saja,” kata Lin kepada Focus, seraya menambahkan tindakan tersebut bisa bersifat teatrikal alih-alih “persiapan tempur yang nyata.”

Gangguan internal dapat menunda langkah serius apa pun terkait Taiwan, kata Shen Ming-shih, peneliti di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, kepada Focus. Jendela waktu yang paling mungkin adalah sebelum akhir masa jabatan keempat Xi, yang menurut Shen bisa berlangsung hingga tahun 2032.

Gejolak di jajaran atas akan "memiliki efek negatif jangka pendek pada kesiapan tempur PLA," tulis Lowy Institute di Sydney, senada dengan pendapat Shen.

Pelaksanaan kampanye Taiwan akan membutuhkan koordinasi erat di berbagai komando dan departemen, dan para pengganti akan butuh waktu untuk mempelajari peran mereka.

Kepercayaan yang memudar

Salah satu interpretasi atas jatuhnya Zhang berpusat pada masalah kepercayaan. Dalam esai Foreign Affairs edisi 2 Februari berjudul “Xi the Destroyer,” Jonathan A. Czin dan John Culver menelusuri hubungan keduanya hingga ikatan ayah mereka pada era perang saudara, dan mengidentifikasi Zhang sebagai orang kepercayaan militer terdekat Xi. Dengan membiarkan Zhang tetap menjabat melampaui usia pensiun pada tahun 2022 dan mengangkatnya ke jabatan militer tertinggi, Xi menunjukkan tingkat kepercayaan yang kini telah sirna.

Pada titik tertentu, Xi memutuskan Zhang tidak lagi bisa dipertahankan. Pemecatan itu menegaskan gaya manajemen Xi yang tanpa kompromi, tulis Czin dan Culver. Bahkan jika para pemimpin jarang menunjukkan belas kasihan kepada musuh, “lain halnya bila ia begitu tak berperasaan terhadap sahabatnya sendiri.”

Kerry Brown, profesor politik Tiongkok di King’s College London, menjelaskan mengapa kedudukan Zhang bisa menjadi beban. Dalam sebuah tulisan di The Conversation pada bulan Januari, Brown menulis rumor bahwa Xi dan Zhang “berbeda pendapat soal isu-isu tertentu” dan mengutip pepatah yang sesuai: “dua harimau tak akan pernah berbagi satu gunung.”

Pembersihan mungkin akan terus berlanjut

Menjelang kalender politik yang sensitif bagi Xi, pembersihan ini dapat menandakan gejolak di jajaran puncak PLA belum berakhir. “Perebutan kekuasaan Xi yang sengit akan berlanjut menuju kongres nasional ke-21 Partai Komunis pada tahun 2027, di mana ia diperkirakan kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat sebagai ketua partai,” tulis kolumnis Nikkei Asia Katsuji Nakazawa pada bulan Februari.

Kejatuhan Zhang dan Liu, seperti ditulis The Times, telah “melucuti [CMC] para pemimpin yang bertugas menyiapkan pasukan untuk pertempuran” dan meninggalkan kekosongan krusial dalam keahlian operasional. Pergolakan ini membawa Xi kembali pada tantangan lama: apakah ia akhirnya dapat membentuk militer yang memenuhi “standar tanpa komprominya” terkait loyalitas kepada partai dan kecakapan operasional, seperti disimpulkan Czin dan Culver.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link