Oleh Zarak Khan |
Meningkatnya pengaruh Tiongkok di Banglades, termasuk proyek di dekat koridor timur laut India yang sensitif, menempatkan pemerintahan Dhaka yang baru ke situasi geopolitik yang semakin rumit.
Pemerintahan sementara Banglades membuat kesepakatan baru yang melibatkan Tiongkok di dekat perbatasan Banglades-India, memicu kekhawatiran strategis di New Delhi dan meningkatkan sensitivitas regional.
Perkembangan ini terjadi pada momen sensitif bagi kepemimpinan baru Banglades setelah pemilihan 12 Februari. Partai Nasionalis Banglades (BNP), yang dipimpin Tarique Rahman, menang dan membentuk pemerintahan baru beberapa hari kemudian.
Dia langsung menghadapi ujian kebijakan luar negeri, menyeimbangkan hubungan dengan India dan Tiongkok tanpa terseret ke dalam persaingan sengit antara dua kekuatan terbesar di Asia itu.
![Duta Besar Tiongkok untuk Banglades, Yao Wen (kedua dari kanan), mengunjungi lokasi proyek Sungai Teesta pada bulan Januari. India mewaspadai keterlibatan Beijing dalam pembangunan strategis ini yang berada di dekat perbatasan India-Banglades. [Kedutaan Besar Tiongkok di Banglades/Facebook]](/gc9/images/2026/02/24/54774-focus_photo_2-370_237.webp)
Pada 27 Januari, AU Banglades menandatangani perjanjian dengan China Electronics Technology Group Corporation International (CETC), BUMN elektronik pertahanan Tiongkok, untuk mendirikan pabrik pembuatan dan perakitan dron di Banglades, menurut pengumuman militer di X.
Fasilitas itu melibatkan transfer teknologi dan diharapkan dapat "mendukung operasi militer ... dan misi penanggulangan bencana," demikian pernyataan pihak AU.
Pejabat India khawatir fasilitas itu akan dibangun di distrik Chittagong, wilayah yang sebelumnya dialokasikan untuk industri India.
Kedekatan Chittagong dengan wilayah timur laut India dan Teluk Benggala membuat pabrik dron dukungan Tiongkok di sana menjadi ancaman langsung bagi kepentingan strategis dan ekonomi New Delhi, menurut pandangan India.
Bulan Januari lalu, Duta Besar Tiongkok untuk Banglades, Yao Wen, mengunjungi lokasi Proyek Restorasi dan Pengelolaan Komprehensif Sungai Teesta, yang telah dibahas Banglades dengan Beijing. Pejabat India memantau keterlibatan Tiongkok dalam proyek air yang sensitif di dekat perbatasan Banglades-India itu. Sekitar 10 juta warga India dan 30 juta warga Banglades tinggal di daerah aliran sungai itu.
Tahun lalu, Tiongkok membuat kesepakatan senilai sekitar 400 juta dolar AS untuk memodernisasi pelabuhan Mongla di Banglades, memberi Beijing pijakan lain di Teluk Benggala, wilayah yang dianggap penting oleh India bagi arsitektur keamanannya.
India cemas
Pembuat kebijakan India memandang kesepakatan Dhaka-Beijing itu bagian dari strategi Tiongkok untuk mengepung India. India mengkhawatirkan risiko keamanan di dekat koridor timur laut yang sensitif serta perbatasan India-Banglades sepanjang 4.096 km.
Koridor timur laut adalah satu-satunya jalur darat yang menghubungkan daratan utama India dengan delapan negara bagian di timur laut India.
India menafsirkan kesepakatan itu "bagian dari pola besar regional dengan Beijing masuk ke dalam ekosistem militer negara tetangga melalui infrastruktur, transfer teknologi, dan fasilitas produksi," dilaporkan media India Firstpost pada 28 Januari.
Sejak penggulingan pemimpin Banglades yang lama berkuasa, Sheikh Hasina, pada 2024, perusahaan Tiongkok menginvestasikan ratusan juta dolar di Banglades, dilaporkan Reuters pada 6 Februari.
Kekhawatiran India meningkat sejak protes nasional Banglades tahun 2024, ketika Hasina, yang dianggap sekutu New Delhi, melarikan diri ke India. Penggulingannya merenggangkan hubungan India-Banglades. Perlindungan India terhadap Hasina membuat marah pemerintah sementara Banglades periode 2024-2026.
Dhaka merapat ke Tiongkok
Pemerintahan sementara itu, yang dipimpin oleh penerima Nobel Muhammad Yunus, terlibat secara aktif dengan Tiongkok dan Pakistan selama satu setengah tahun masa kekuasaannya.
Yunus melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Tiongkok, bukan ke India, dan berhasil memperoleh pinjaman, investasi, dan hibah senilai 2,1 miliar dolar AS. Perjalanannya menunjukkan pengaruh Beijing yang semakin besar dalam pembangunan Banglades.
"Tiongkok terus membangun pengaruhnya baik secara terbuka maupun di balik layar, memanfaatkan krisis dalam hubungan India-Banglades," kata Constantino Xavier, rekan senior di lembaga pemikir Center for Social and Economic Progress di New Delhi, kepada Reuters.
Banglades kini menjadi "bagian utama bagi strategi Tiongkok terkait Teluk Benggala, dan Tiongkok semakin yakin bahwa Banglades akan memainkan peran pro-Tiongkok dalam strategi ini," kata Joshua Kurlantzick, rekan senior di Council on Foreign Relations yang berbasis di AS, kepada AFP pada 8 Februari.
Upaya penyeimbangan Dhaka
Tantangan berat menanti pemerintahan Banglades yang baru. Namun, India tetap tidak bisa diabaikan di Dhaka.
Setelah kemenangan BNP di pemilihan 12 Februari, kebijakan luar negeri akan dilandasi "manfaat terbesar bagi Banglades dan rakyatnya" dalam berurusan dengan Tiongkok, India, dan Pakistan, kata Rahman dari BNP kepada wartawan.
Analis di Dhaka mengatakan bahwa peningkatan keterlibatan dengan Beijing bukan berarti putusnya hubungan dengan New Delhi karena Banglades tetap sangat bergantung pada India dalam hal perdagangan, konektivitas, dan stabilitas regional.
"Banglades membutuhkan Tiongkok dan India, dan kita harus berpikir pragmatis," kata Lailufar Yasmin, profesor hubungan internasional di Dhaka University, kepada Reuters.
"Meskipun hubungan dengan Tiongkok mungkin membaik, partai mana pun yang berkuasa tidak akan gegabah mengabaikan India," tambahnya.
![Perwira AU Banglades pada 27 Januari menandatangani perjanjian dengan China Electronics Technology Group Corporation International untuk mendirikan pabrik dron di Banglades. [Defense Research Forum/X]](/gc9/images/2026/02/24/54773-photo_1-370_237.webp)