Oleh AFP |
KARNAL, India -- Ratusan baterai bekas bergemuruh di atas konveyor menuju mesin penghancur di sebuah fasilitas terpencil di India bagian utara—bagian dari industri bernilai miliaran dolar yang memperkuat ambisi geopolitik India.
India tengah memetik keuntungan dari pesatnya sektor “limbah elektronik”, dengan mengekstraksi mineral kritis seperti lithium dan kobalt—bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai perangkat, mulai dari ponsel pintar hingga jet tempur dan mobil listrik—dari barang elektronik sehari-hari.
Di tengah kekhawatiran dunia terhadap dominasi Tiongkok atas pasokan mineral strategis, New Delhi mempercepat upaya untuk mengekstraksi kembali material krusial guna mendukung ambisinya menjadi pusat kecerdasan buatan.
Di tengah proyeksi lonjakan permintaan dan minimnya produksi dari tambang dalam negeri dalam sepuluh tahun mendatang, India kini melirik sumber yang selama ini kurang diperhatikan—tumpukan limbah elektronik yang kian menggunung.
![Dalam foto bertanggal 12 Februari, para pekerja terlihat menimbang komponen elektronik hasil pembongkaran di Ecowork, pusat daur ulang limbah elektronik di Ghaziabad, India. [Arun Sankar/AFP]](/gc9/images/2026/02/27/54693-afp__20260218__97m37jm__v1__highres__indiaeconomytechnologyenvironmentminerals-370_237.webp)
Baterai bekas mengandung lithium, kobalt, dan nikel; layar Light-Emitting Diode (LED) mengandung germanium; papan sirkuit berisi platinum dan palladium; sementara hard disk menyimpan unsur logam tanah jarang. Limbah elektronik telah lama disebut sebagai “tambang emas” bagi mineral kritis.
Data resmi menunjukkan India menghasilkan hampir 1,5 juta ton limbah elektronik sepanjang tahun lalu, setara dengan muatan sekitar 200.000 truk sampah. Sejumlah analis menilai volume sesungguhnya bisa mencapai dua kali lebih besar.
Di fasilitas besar Exigo Recycling di negara bagian Haryana, mesin-mesin mengolah baterai e-scooter hingga menjadi serbuk hitam legam. Serbuk tersebut selanjutnya diproses menjadi larutan merah keunguan, disaring dan diuapkan sebelum akhirnya menghasilkan bubuk putih lembut—lithium..
“Emas putih,” ujar kepala ilmuwan fasilitas itu, matanya menatap tumpukan produk akhir yang terkumpul di baki.
Bengkel rumahan
Perkiraan industri menunjukkan bahwa “penambangan perkotaan,” yakni ekstraksi mineral dari limbah elektronik, bisa bernilai hingga US$6 miliar per tahun di India.
Para analis menilai, meski belum mampu menutupi permintaan India di masa depan, langkah ini dapat membantu mengurangi risiko gangguan impor sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasokan.
Sebagian besar limbah elektronik dibongkar di bengkel-bengkel rumahan informal yang mengekstraksi logam bernilai jual tinggi seperti tembaga dan aluminium, sementara mineral kritis tetap tidak tersentuh.
Kapasitas daur ulang resmi India masih terbatas dibandingkan Tiongkok dan Uni Eropa, yang keduanya telah berinvestasi besar dalam teknologi pemulihan canggih dan sistem keterlacakan
Menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis, India sepenuhnya bergantung pada impor untuk mineral kritis utama seperti lithium, kobalt, dan nikel.
Guna menanggulangi ketergantungan impor, pemerintah Narendra Modi tahun lalu meluncurkan program senilai US$170 juta untuk memperkuat proses daur ulang formal mineral strategis.
Proram ini mengacu pada regulasi Extended Producer Responsibility (EPR), yang mewajibkan produsen menyalurkan limbah elektronik ke perusahaan daur ulang yang terdaftar di pemerintah.
“EPR telah menjadi katalis utama dalam meningkatkan skala industri daur ulang,” kata Raman Singh, direktur utama di Exigo Recycling, salah satu fasilitas langka di India yang dapat mengekstraksi lithium.
Analis lain mengatakan regulasi tersebut telah menyalurkan lebih banyak limbah ke sektor formal.
“Sebelum EPR diterapkan sepenuhnya, 99% limbah elektronik didaur ulang di sektor informal,” kata Nitin Gupta di Attero Recycling, yang mengklaim mampu mengekstraksi setidaknya 22 jenis mineral kritis.
“Sekitar 60% kini telah beralih ke sektor formal.”
Menurut data pemerintah, proporsi limbah elektronik yang beralih ke sektor formal bisa lebih besar lagi, meski sejumlah pengamat meragukan keakuratan sistem pelacakan limbah secara keseluruhan.
Penuh risiko
Menurut NITI Aayog, think tank resmi yang berafiliasi dengan pemerintah, meskipun ada regulasi, daur ulang resmi masih kalah cepat dibandingkan laju peningkatan volume limbah elektronik dan belum mencapai target kebijakan.
Praktik daur ulang di sektor informal menghadirkan bahaya serius. Pekerja terpapar asap beracun dan potensi polusi pada tanah serta air akibat pembakaran terbuka, perendaman asam, dan pembongkaran tanpa perlindungan
Di Seelampur, salah satu pusat limbah elektronik informal terbesar di India, gang-gang sempit dipenuhi kabel kusut dan perangkat elektronik rusak.
“Perusahaan baru hanya menyimpan sebagian sebagai syarat sertifikasi, sementara sisanya tetap kami terima,” ujar Shabbir Khan, pedagang lokal. “Justru, bisnisnya semakin ramai, bukan berkurang.”
Bahkan limbah yang sampai ke daur ulang formal sering kali melewati tangan sektor informal terlebih dahulu, kata Sandip Chatterjee.
Dengan mengintegrasikan pekerja informal ke rantai pasok yang dapat dilacak, kerugian mineral kritis bernilai tinggi selama proses penyortiran dan pembongkaran bisa berkurang secara signifikan, tambahnya.
Ecowork, satu-satunya perusahaan daur ulang limbah elektronik nirlaba resmi di India, mencoba mengintegrasikan pekerja informal dengan menyediakan pelatihan serta lingkungan kerja yang aman.
“Program pelatihan kami mengajarkan pembongkaran serta keseluruhan proses kepada para pekerja informal,” ujar Devesh Tiwari.
“Kami menjelaskan kepada mereka bahaya yang ada, mineral kritis yang berharga, serta cara melakukannya dengan benar agar nilai material tidak menurun.”
Di fasilitas yang terletak di pinggiran Delhi, Rizwan Saifi membongkar hard disk bekas dengan cekatan, mengekstrak magnet permanen yang selanjutnya akan diproses di pabrik daur ulang canggih untuk mendapatkan dysprosium, logam tanah jarang yang vital bagi perangkat elektronik modern.
“Sebelumnya, yang kami pedulikan hanyalah tembaga dan aluminium karena itu yang paling bernilai di pasar barang bekas,” ujar Rizwan Saifi, 20 tahun.
“Sekarang kami sadar seberapa bernilainya magnet ini.”
![Dalam foto bertanggal 12 Februari, para pekerja tampak memilah motherboard komputer bekas di Ecowork, pusat daur ulang limbah elektronik di Ghaziabad, India. India kini meningkatkan ekstraksi lithium dan kobalt dari limbah elektronik guna menopang cadangan mineral strategisnya. [Arun Sankar/AFP]](/gc9/images/2026/02/27/54692-afp__20260218__97m37k6__v1__highres__indiaeconomytechnologyenvironmentminerals-370_237.webp)