Oleh Zarak Khan |
Keputusan Amerika Serikat untuk mensubsidi perusahaan yang menggunakan ponsel pintar berbiaya rendah berbasis perangkat lunak AS di seluruh Indo-Pasifik dipandang oleh para analis dan pejabat sebagai bagian dari strategi yang lebih besar untuk membendung perluasan pengaruh Tiongkok atas infrastruktur digital regional dan mengurangi paparan terhadap praktik teknologi koersif.
Washington juga khawatir atas potensi kemampuan Tiongkok mematikan teknologi vital di saat krisis serta mencuri data dari ponsel yang menggunakan perangkat lunak buatannya.
Pada 19 Februari, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan Paket Edge AI, program pendanaan kompetitif yang akan mengalokasikan bantuan luar negeri hingga US$200 juta untuk “mendukung program yang mempercepat penggunaan ponsel pintar yang aman, berkualitas tinggi, dan terjangkau di kawasan Indo-Pasifik.” AI merupakan singkatan dari artificial intelligence (kecerdasan buatan).
Perangkat yang memenuhi syarat harus menjalankan sistem operasi seluler Amerika yang “tepercaya”, termasuk Android atau iOS, menurut departemen tersebut.
![Sebuah iklan Android di X pada tahun 2024. Di bawah Paket Edge AI yang dipimpin AS, yang menawarkan bantuan luar negeri hingga US$200 juta, ponsel pintar yang memenuhi syarat harus menjalankan sistem operasi seluler AS yang "tepercaya," termasuk Android atau iOS. [Android/X]](/gc9/images/2026/02/27/54824-focus_photos_2-370_237.webp)
Pejabat AS membingkai persyaratan tersebut sebagai pengaman yang dirancang untuk memastikan satu miliar pengguna internet berikutnya di kawasan Indo-Pasifik "terintegrasi ke dalam ekosistem perangkat lunak yang terbuka, dapat dioperasikan secara lintas platform (interoperable), dan mengedepankan inovasi."
Inisiatif ini disebut akan menghadirkan “alternatif berbasis mekanisme pasar bagi vendor berisiko tinggi” di kawasan Indo-Pasifik, demikian bunyi pernyataan tersebut, tanpa menyebut perusahaan tertentu.
Namun, referensi itu secara luas dipandang mengarah pada perusahaan teknologi Tiongkok seperti Huawei, Xiaomi, dan OPPO, lapor Chosun Daily Korea Selatan pada 23 Februari.
Pax Silica
Paket Edge AI merupakan bagian dari inisiatif Pax Silica yang dipimpin AS, sebuah kerangka strategis teknologi yang menurut Washington dirancang untuk “mengurangi ketergantungan yang bersifat koersif, melindungi material dan kapabilitas yang menjadi fondasi kecerdasan buatan, serta memastikan negara-negara yang sejalan dapat mengembangkan dan menerapkan teknologi transformatif dalam skala besar.”
Dengan Paket Edge AI, prioritas akan diberikan kepada produsen peralatan asli (OEM) ponsel pintar yang berkantor pusat di negara-negara yang telah menandatangani perjanjian Pax Silica, kata Departemen Luar Negeri.
Diluncurkan pada bulan Desember dalam pertemuan perdana di Washington, DC, Pax Silica dimaksudkan untuk membangun apa yang disebut oleh para pejabat sebagai “rantai pasok silikon yang aman, makmur, dan didorong inovasi,” mulai dari mineral kritis dan pasokan energi hingga manufaktur maju, semikonduktor, infrastruktur AI, dan logistik.
Aliansi ini mencakup Jepang, Korea Selatan, Singapura, Israel, Uni Emirat Arab, Inggris, Australia, dan Qatar, bersama mitra teknologi seperti Belanda dan Taiwan. India bergabung dalam inisiatif tersebut pada tanggal 20 Februari.
Pakta rantai pasokan
Washington semakin menempatkan rantai pasokan teknologi — khususnya untuk ponsel pintar, semikonduktor, AI, dan mineral kritis — sebagai elemen penting bagi keamanan nasional dan ekonomi.
Paket Edge AI dapat berdampak langsung pada produsen ponsel pintar Tiongkok, termasuk Huawei, Xiaomi, Oppo, dan Vivo, di pasar negara berkembang Indo-Pasifik, ujar Lizzi C. Lee, peneliti di Center for China Analysis, Asia Society Policy Institute baru-baru ini.
Namun, besarnya dampak inisiatif tersebut masih belum bisa dipastikan, katanya.
"Yang dipertanyakan adalah apakah alternatif bersubsidi ini secara realistis dapat menandingi harga, skala, dan inovasi cepat yang saat ini ditawarkan oleh merek-merek Tiongkok," katanya kepada South China Morning Post pada 20 Februari.
Kerangka kerja yang lebih luas
Dengan latar belakang hal tersebut, Pax Silica dimaksudkan untuk mendiversifikasi jaringan produksi dengan menghubungkan mitra tepercaya di seluruh ekosistem teknologi.
Amerika Serikat telah memperluas kerja sama teknologi dengan India, negara dengan kapasitas industri elektronik konsumen yang sedang berkembang. Pada 20 Februari, Washington dan New Delhi mengeluarkan deklarasi bersama, berjanji untuk "menguji, menyebarkan, dan menskalakan secara cepat" ekosistem AI yang aman dan tepercaya.
Kedua negara menolak "ketergantungan yang dijadikan senjata" serta pemerasan, dan memandang keamanan ekonomi sebagai bagian integral dari keamanan nasional, kata Jacob Helberg, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk urusan ekonomi, di sela-sela KTT India AI Impact di New Delhi.
Koordinasi yang lebih erat antara India dan AS dalam rantai pasokan silikon dan infrastruktur komputasi AI dapat mengubah lanskap geopolitik Asia, menurut komentar Institute of South Asian Studies, National University of Singapore, pada 23 Februari.
![Pejabat AS dan India menunjukkan salinan Deklarasi Pax Silica AS-India di New Delhi pada 20 Februari setelah menandatanganinya. Perjanjian ini bertujuan untuk mengamankan rantai pasok fisik AI, mulai dari energi dan mineral kritis hingga manufaktur semikonduktor. [Departemen Luar Negeri AS/X]](/gc9/images/2026/02/27/54823-focus_photo_1-370_237.webp)