Kapabilitas

Sistem pertahanan udara Tiongkok dipertanyakan usai kegagalan di Iran dan Venezuela

Runtuhnya infrastruktur pertahanan Iran dalam waktu singkat—seperti yang terjadi di Venezuela dua bulan sebelumnya—menunjukkan bagaimana ketergantungan kedua negara pada sistem pertahanan buatan Tiongkok membuat mereka tidak mampu menghadapi operasi militer Amerika Serikat.

Peluncur rudal untuk HQ-9 Tiongkok dipamerkan di Tiongkok pada 19 September 2017. Sistem rudal pertahanan udara jarak jauh ini menjadi bagian penting dari jaringan pertahanan udara Tiongkok dan telah diekspor ke beberapa negara, termasuk Iran. [Tyg728/Wikimedia]
Peluncur rudal untuk HQ-9 Tiongkok dipamerkan di Tiongkok pada 19 September 2017. Sistem rudal pertahanan udara jarak jauh ini menjadi bagian penting dari jaringan pertahanan udara Tiongkok dan telah diekspor ke beberapa negara, termasuk Iran. [Tyg728/Wikimedia]

Oleh Zarak Khan |

Pada 28 Februari, pasukan AS dan Israel melancarkan operasi kejutan bernama “Epic Fury,” yang menargetkan sejumlah sasaran militer dan politik utama di Iran.

Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, termasuk sekretaris Dewan Pertahanan, kepala staf angkatan bersenjata, menteri pertahanan, serta komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menurut Al Jazeera.

Operasi itu mengungkap kerentanan dalam sistem pertahanan udara Iran. Baterai rudal permukaan-ke-udara HQ-9B buatan Tiongkok yang ditempatkan di sekitar Teheran tidak mampu menghalau serangan gabungan AS dan Israel—sebuah operasi yang digambarkan The Economist sebagai “keberhasilan udara yang mencengangkan.”

Operasi itu juga melibatkan jet tempur siluman F-35 dan F-22, yang didukung drone dan pesawat perang elektronik untuk mengacaukan radar serta koordinasi sistem pertahanan udara Iran.

Sejumlah kapal perang berpartisipasi dalam latihan laut gabungan Tiongkok, Iran, dan Rusia di perairan dekat Chabahar, Iran, Maret 2025. [Media Militer Tiongkok/X]
Sejumlah kapal perang berpartisipasi dalam latihan laut gabungan Tiongkok, Iran, dan Rusia di perairan dekat Chabahar, Iran, Maret 2025. [Media Militer Tiongkok/X]
Kapal induk USS Gerald R. Ford melakukan operasi penerbangan sebagai bagian dari dukungan terhadap Operasi Epic Fury pada 2 Maret. [Angkatan Laut AS]
Kapal induk USS Gerald R. Ford melakukan operasi penerbangan sebagai bagian dari dukungan terhadap Operasi Epic Fury pada 2 Maret. [Angkatan Laut AS]

Dalam beberapa jam pertama, sejumlah sistem buatan Tiongkok—di antaranya rudal permukaan-ke-udara HQ-9B, radar JY-10 dan JY-26, serta perangkat pertahanan udara berbasis laser—dilaporkan berhasil dilumpuhkan atau gagal menghadang rentetan serangan yang datang.

Sistem pertahanan buatan Tiongkok dan Rusia dua kali ditembus

Operasi itu menimbulkan keraguan terhadap kemampuan sistem pertahanan udara Iran dari Tiongkok untuk menghadapi serangan terpadu yang melibatkan pesawat tempur canggih, senjata jarak jauh, dan operasi perang elektronik.

Sistem buatan Tiongkok yang ditempatkan di sekitar lokasi penting di Teheran serta fasilitas nuklir seperti Natanz dan Fordow terbukti tidak berguna.

“Rudal HQ-9B buatan Tiongkok tidak mampu menghentikan rudal lawan yang masuk, sehingga memunculkan keraguan terhadap kinerjanya dalam kondisi perang nyata,” tulis India Today dalam komentarnya pada 3 Maret.

Bagi Teheran, ini menjadi kali kedua dalam waktu kurang dari setahun ketika sistem pertahanan udara yang diimpor tidak mampu menjalankan fungsinya.

Setelah gencatan senjata Iran–Israel pada Juni lalu, menyusul 12 hari serangan udara AS dan Israel terhadap Iran, Teheran segera memperbaiki jaringan pertahanan udaranya yang rusak dengan mengakuisisi sistem rudal tambahan dari Tiongkok.

Jaringan pertahanan yang gagal menghadapi serangan Israel dan AS pada musim panas lalu tersebut didominasi oleh sistem buatan Rusia dan Iran.

Pada Juli lalu, Middle East Eye yang berbasis di London melaporkan pengiriman peralatan militer dari Tiongkok termasuk rudal HQ-9B serta perangkat radar pendukungnya.

Sejak menandatangani perjanjian strategis 25 tahun pada tahun 2021, Republik Islam Iran semakin mengukuhkan perannya sebagai mitra penting bagi Tiongkok.

Hubungan ini semakin berfokus pada perusahaan Tiongkok yang menjual “komponen penggunaan ganda untuk program rudal balistik dan UAV [kendaraan udara tanpa awak] Iran,” menurut Pentagon dalam laporan tahun 2025 tentang Tiongkok.

Kembali gagal di medan tempur

Bagi Tiongkok, kegagalan di Iran semakin memperparah aib sebelumnya di Venezuela—yang terjadi hanya dua bulan lalu.

Tiongkok sejak lama mempromosikan sistem pertahanan udara HQ-9B sebagai alternatif yang lebih hemat biaya dibandingkan platform Barat. Media milik pemerintah Tiongkok, Global Times, bahkan menyebutnya sebagai “sistem senjata rudal generasi baru” pada tahun 2022.

Namun, senjata buatan Tiongkok juga gagal membuktikan efektivitasnya di Venezuela pada bulan Januari.

Radar antisiluman JY-27A buatan Tiongkok sebelumnya diharapkan mampu menjaga wilayah udara Venezuela. Namun, tim operasi khusus AS berhasil menghindari sistem pertahanan canggih buatan Tiongkok yang dibeli Caracas tersebut, menewaskan para pengawal Nicolás Maduro, lalu mengekstraksi Maduro dan istrinya untuk diadili di Amerika Serikat.

“Hal ini sekali lagi menunjukkan kelemahan persenjataan Tiongkok, Rusia, dan Iran,” ujar mantan penasihat pemerintah AS David Wurmser kepada Nikkei Asia pada bulan Januari, dengan merujuk pada penangkapan Nicolás Maduro serta serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada musim panas lalu.

Sorotan serupa muncul setelah konfrontasi singkat selama empat hari antara India dan Pakistan pada Mei lalu. Pakistan, yang sangat bergantung pada peralatan buatan Tiongkok, menggunakan sistem HQ-9B.

Menurut pejabat India setelahnya, pasukan mereka tetap berhasil menghancurkan beberapa sasaran di Pakistan meskipun sistem pertahanan tersebut telah diterapkan.

Peringatan keras

Kini Tiongkok harus mempertimbangkan implikasi dari pelajaran pahit ini bagi kemungkinan penggunaan senjatanya lebih dekat dengan wilayahnya sendiri.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayahnya sendiri dan pernah mengancam akan merebutnya dengan kekerasan.

“Bagi Tiongkok, ini bukan hanya pelajaran, tetapi juga peringatan — Beijing akan mengkaji titik‑titik di mana pertahanan Iran runtuh, menilai kelemahan mereka sendiri, dan berupaya mengadopsi kemampuan ofensif serupa,” ujar analis Ottawa, Stephen Nagy, kepada South China Morning Post pada bulan Maret.

Sistem HQ-9 merupakan tulang punggung jaringan pertahanan udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan banyak ditempatkan di sepanjang pantai tenggara Tiongkok yang menghadap Taiwan. Kegagalan sistem ini dalam menghadapi pesawat siluman dan operasi perang elektronik di Iran menimbulkan kekhawatiran serupa tentang efektivitasnya jika digunakan dalam kemungkinan konflik di Taiwan atau di sepanjang "rantai pulau pertama" (yang meliputi Jepang, Taiwan, dan Filipina).

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link