Kriminalitas & Keadilan

Salah satu pendiri Super Micro didakwa kasus penyelundupan server AI lintas Asia

Jaksa penuntut mengatakan operasi itu menggunakan fasilitas berbasis di Taiwan, perantara dari Asia Tenggara, dan perlengkapan tiruan untuk menyelundupkan perangkat keras AI terlarang ke Tiongkok.

Foto yang diambil pada 5 Februari di Krakow, Polandia, menampilkan kode biner di layar laptop dan logo Super Micro di layar ponsel. [Jakub Porzycki/NurPhoto via AFP]
Foto yang diambil pada 5 Februari di Krakow, Polandia, menampilkan kode biner di layar laptop dan logo Super Micro di layar ponsel. [Jakub Porzycki/NurPhoto via AFP]

Oleh Wu Qiaoxi |

Salah satu pendiri Super Micro didakwa atas persekongkolan mengalihkan server dengan cip Nvidia senilai 2,5 miliar dolar AS ke Tiongkok. Kasus ini menunjukkan besarnya upaya penyelundupan perangkat keras kecerdasan buatan (AI) AS ke pembeli di Tiongkok.

Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan New York pada 19 Maret mendakwa Yih-Shyan "Wally" Liaw, salah satu pendiri dan anggota direksi Super Micro, bersama dengan Ruei-Tsang "Steven" Chang, manajer penjualan Super Micro cabang Taiwan, dan kontraktor Ting-Wei "Willy" Sun.

Jaksa penuntut mengatakan ketiganya memindahkan server dengan GPU H200 dan B200 Nvidia yang-dibatasi melalui perusahaan Asia Tenggara yang tidak disebutkan namanya kepada pembeli di Tiongkok. Para tersangka dituduh memindahkan cip-cip tersebut dengan melanggar kontrol ekspor AS yang mewajibkan lisensi untuk pengiriman ke Tiongkok.

"Jaring kebohongan nan rumit"

Polisi menangkap Liaw, warga negara AS, dan Sun, warga negara Taiwan, pada 19 Maret, sementara Chang, warga negara Taiwan lainnya, masih buron, menurut Departemen Kehakiman AS. Jaksa penuntut mengatakan mereka memindahkan server yang dirakit di AS ke fasilitas di Taiwan, kemudian melalui negara-negara lain di Asia Tenggara, tempat server itu dikemas ulang ke dalam kotak tanpa label, sebelum diteruskan ke Tiongkok.

Gambar hasil pengintaian dalam dakwaan AS menunjukkan server tiruan ditempatkan di gudang yang disewa oleh perantara dari Asia Tenggara sebelum audit bulan Agustus lalu. Jaksa penuntut mengatakan replika itu dimaksudkan untuk mengecoh tim kepatuhan dari pabrikan sesudah para terdakwa mengirim server asli ke Tiongkok. [Departemen Kehakiman AS]
Gambar hasil pengintaian dalam dakwaan AS menunjukkan server tiruan ditempatkan di gudang yang disewa oleh perantara dari Asia Tenggara sebelum audit bulan Agustus lalu. Jaksa penuntut mengatakan replika itu dimaksudkan untuk mengecoh tim kepatuhan dari pabrikan sesudah para terdakwa mengirim server asli ke Tiongkok. [Departemen Kehakiman AS]
Rekaman pengawasan yang dipegang Departemen Kehakiman AS menunjukkan Ting-Wei Sun (ki) dan makelar yang tidak disebut namanya menyiapkan server tiruan di gudang (ka) menggunakan pengering rambut (dilingkari) untuk melepas dan memasang kembali label dan stiker nomor seri. [Departemen Kehakiman AS]
Rekaman pengawasan yang dipegang Departemen Kehakiman AS menunjukkan Ting-Wei Sun (ki) dan makelar yang tidak disebut namanya menyiapkan server tiruan di gudang (ka) menggunakan pengering rambut (dilingkari) untuk melepas dan memasang kembali label dan stiker nomor seri. [Departemen Kehakiman AS]

"Para terdakwa terlibat dalam skema sistematis untuk mengalihkan server dalam jumlah besar yang menyimpan teknologi kecerdasan buatan AS ke pelanggan di Tiongkok," ujar Jaksa Federal Jay Clayton. "Mereka melakukannya melalui jaringan kebohongan, pengaburan, dan penyembunyian yang rumit."

Dakwaan menyebutkan skema itu menghasilkan sekitar 2,5 miliar dolar AS dari pembelian server oleh perantara Asia Tenggara antara 2024 dan 2025. Para tersangka dituduh mengirim server senilai sedikitnya 510 juta dolar AS ke Tiongkok hanya antara akhir April 2025 dan pertengahan Mei 2025 saja. Pabrikan tidak memiliki lisensi dari Departemen Perdagangan AS untuk mengekspor server itu ke Tiongkok, kata jaksa penuntut.

Server palsu

Para terdakwa mengambil berbagai langkah untuk menyembunyikan operasi itu dari tim kepatuhan pabrikan dan petugas kontrol ekspor AS, kata pihak berwajib. Para tertuduh pelaku-konspirasi menggunakan dokumen palsu, perusahaan perantara di Asia Tenggara, dan ribuan server palsu yang disiapkan untuk inspeksi sesudah mereka mengirim mesin yang asli ke Tiongkok, menurut dakwaan.

Rekaman video yang diajukan jaksa memperlihatkan pekerja menggunakan pengering rambut untuk melepas label dan nomor seri dari server asli lalu memasangnya pada mesin palsu yang disiapkan untuk mengecoh petugas inspeksi.

Dakwaan menyebutkan secara terperinci upaya Liaw untuk menyelundupkan produk canggih.

Dalam satu pesan teks, dia dituduh bertanya kepada eksekutif perusahaan Asia Tenggara, "Kira-kira Anda mau ambil berapa pada bulan Januari? Feb? Maret? April?" Hitungan kasar merupakan "satu-satunya cara agar [Nvidia] menjanjikan alokasi B200 sejauh yang saya tahu," katanya.

Liaw kemudian mengirimi eksekutif itu pernyataan Gedung Putih tentang aturan ekspor mendatang dan mendesak pengiriman lebih cepat sebelum aturan itu berlaku, dakwaan itu menambahkan.

Ancaman regional bagi keamanan AS

Kasus itu menunjukkan adanya masalah besar keamanan nasional di balik kontrol ekspor AS.

Server yang berisi cip canggih Nvidia tidak boleh dijual ke Tiongkok tanpa lisensi karena sistem itu dapat berkontribusi pada potensi militer Tiongkok, kemampuan pengintaian, atau aplikasi penggunaan ganda lainnya.

Dugaan rute melalui Taiwan dan Asia Tenggara menunjukkan cara penjahat menembus kontrol ini tidak hanya melalui perdagangan langsung AS-Tiongkok tetapi juga melalui jejaring komersial di rantai pasokan Indo-Pasifik yang lebih luas.

Dakwaan tidak menyebut Super Micro sebagai terdakwa. Super Micro mengatakan telah menskors Liaw dan Chang, dan mengakhiri hubungannya dengan Sun, dan menambahkan bahwa perilaku yang dituduhkan itu bertentangan dengan kebijakan dan aturan kepatuhan dan bahwa perusahaan bekerja sama dengan penyelidikan.

Penyelidikan serupa juga terjadi di beberapa tempat di Asia Tenggara selama setahun terakhir.

Di Singapura, jaksa penuntut Maret lalu menambahkan dakwaan dalam kasus penipuan terkait pengiriman server berisi cip Nvidia, termasuk tuduhan yang melibatkan Dell dan Super Micro. Malaysia belakangan memperketat kontrol ekspor, pengiriman ulang, dan transit cip AI kinerja tinggi asal AS setelah sebelumnya muncul kekhawatiran tentang kemungkinan jalur pengalihan di kawasan itu.

Kasus terbesar sejauh ini

Skema itu "mungkin pelanggaran kontrol ekspor terbesar yang pernah ada dari segi nilai dolar," kata Erich Grunewald, peneliti senior di Institute for AI Policy and Strategy, dikutip MarketWatch.

"Memastikan penggunaan akhir dan pengguna akhir produk yang dijual oleh perusahaan seperti Super Micro masih menjadi tantangan, dan penyelundupan melalui perantara Asia Tenggara terus menjadi persoalan yang berulang," ucap Hanna Dohmen, analis riset senior di Georgetown University Center for Security and Emerging Technology di Washington, DC, kepada media itu.

Pelanggaran itu menunjukkan bahwa penegakan kontrol ekspor terhadap cip dan perlengkapan pembuatan cip harus tetap menjadi prioritas, katanya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link