Politik

Xi kepada pemimpin oposisi Taiwan: Rakyat Tiongkok dan Taiwan akan bersatu

Kunjungan Cheng Li-wun ke Beijing menggarisbawahi kedekatannya dengan pandangan Tiongkok, yang memicu kekhawatiran para pengkritiknya di Taiwan.

Cheng Li-wun, pemimpin oposisi Taiwan pertama yang mengunjungi Beijing dalam satu dekade terakhir, berjabat tangan dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 10 April. [China Central Television]
Cheng Li-wun, pemimpin oposisi Taiwan pertama yang mengunjungi Beijing dalam satu dekade terakhir, berjabat tangan dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 10 April. [China Central Television]

Oleh AFP dan Focus |

BEIJING -- Presiden Tiongkok Xi Jinping menerima kunjungan pemimpin partai oposisi Taiwan Cheng Li-wun di Beijing pada 9 April. Dalam pertemuan tersebut, Xi menyampaikan kepada delegasi Cheng bahwa ia memiliki “keyakinan penuh” rakyat Taiwan dan Tiongkok akan bersatu.

Ketua Partai Kuomintang (KMT) Cheng merupakan pemimpin pertama KMT yang mengunjungi Tiongkok dalam satu dekade terakhir. Perjalanannya telah memicu perdebatan di Taiwan, di mana para pengkritik menuduhnya terlalu pro-Beijing.

Tiongkok memutuskan kontak tingkat tinggi dengan Taiwan pada tahun 2016 setelah Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik (DPP) memenangkan pemilihan presiden dan menolak klaim Beijing bahwa pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu merupakan bagian dari wilayahnya.

KMT memimpin koalisi oposisi yang saat ini menguasai parlemen. Partai ini mendukung hubungan yang lebih dekat dengan Tiongkok.

Ketua Partai Kuomintang (KMT) Taiwan Cheng Li-wun dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping terlihat dalam perundingan di Beijing pada 10 April, dalam kunjungan pertama pemimpin oposisi Taiwan ke Tiongkok dalam satu dekade terakhir. [Li Xiang/Xinhua via AFP]
Ketua Partai Kuomintang (KMT) Taiwan Cheng Li-wun dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping terlihat dalam perundingan di Beijing pada 10 April, dalam kunjungan pertama pemimpin oposisi Taiwan ke Tiongkok dalam satu dekade terakhir. [Li Xiang/Xinhua via AFP]

Retorika persatuan

Dalam pembicaraannya dengan Cheng, Xi mengatakan “tren umum warga di kedua sisi Selat Taiwan untuk semakin mendekat, menjalin kedekatan, dan pada akhirnya bersatu tidak akan berubah. Kami sepenuhnya yakin akan hal itu.”

Menurut laporan Reuters, Xi menegaskan Beijing "sama sekali tidak akan menoleransi" kemerdekaan Taiwan.

Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan telah mengancam akan merebutnya. Tiongkok hampir setiap hari mengerahkan jet tempur dan kapal perang di sekitar pulau tersebut serta rutin menggelar latihan militer berskala besar.

“Kedua pihak harus... mencari solusi sistemik untuk mencegah dan menghindari perang, sehingga Selat Taiwan dapat menjadi model penyelesaian konflik secara damai di dunia,” kata Cheng.

Menariknya, Cheng tidak menyebut “Republik Tiongkok” atau “Taiwan” dalam pertemuannya dengan Xi.

Sebagai tanggapan, juru bicara DPP Lee Kun-cheng mengatakan Tiongkok harus mengakui Republik Tiongkok (Taiwan) dan menghormati sistem demokrasinya. Ia menyerukan dialog damai alih-alih pemaksaan, serta menambahkan negosiasi politik tanpa pengawasan publik bukanlah “konsultasi demokratis.”

Anggota parlemen Taiwan telah berselisih tajam terkait rencana pemerintah mengalokasikan 1,25 triliun TWD (US$39 miliar) untuk pembelian alutsista selama delapan tahun, yang telah tertahan selama berbulan-bulan di parlemen yang dikuasai oposisi.

Anggaran pertahanan

Kunjungan Cheng berlangsung sebulan sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing untuk menghadiri pertemuan puncak dengan Xi.

Partai berkuasa Taiwan, DPP, telah mendesak oposisi KMT untuk mempercepat peninjauan RUU pengadaan pertahanan yang tertunda. Desakan ini muncul setelah anggota parlemen KMT memboikot pembicaraan lintas partai pada 9 April, sementara Menteri Pertahanan Wellington Koo memperingatkan adanya kesenjangan militer yang semakin melebar di Selat Taiwan.

Cheng mendukung usulan alokasi anggaran KMT yang lebih kecil sebesar 380 miliar TWD (US$12 miliar) untuk pembelian senjata dari AS dengan opsi penambahan di masa depan.

Meskipun anggota KMT rutin melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk bertemu dengan berbagai pejabat, pemimpin terakhir partai yang berkunjung adalah Hung Hsiu-chu pada tahun 2016.

Hubungan lintas selat semakin memburuk terutama sejak terpilihnya penerus Tsai, Lai Ching-te, yang oleh Beijing dianggap sebagai separatis.

Lai mengatakan dalam unggahan Facebook pada 10 April bahwa “ancaman militer Tiongkok di dan sekitar Selat Taiwan serta rantai pulau sangat merusak perdamaian dan stabilitas regional.”

Cheng tiba di Shanghai pada malam 7 April. Ia juga mengunjungi Nanjing untuk berziarah ke mausoleum pemimpin revolusioner Sun Yat-sen, salah satu dari sedikit tokoh sejarah Tiongkok yang dihormati baik di Beijing maupun Taipei.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link