Kriminalitas & Keadilan

AS perluas razia maritim terhadap armada pelayaran ilegal Iran

Penangkapan tanker terbaru di Samudra Hindia membuktikan upaya Washington mengacaukan jaringan pelayaran terkait dengan Iran dan memperluas razia maritim di luar Timur Tengah.

Tentara AS menaiki tanker M/T Majestic X yang dikenai sanksi dan tidak bernegara saat operasi pencegatan maritim di Samudra Hindia dalam foto yang dikeluarkan pada 23 April 2026. [X/Departemen Perang AS]
Tentara AS menaiki tanker M/T Majestic X yang dikenai sanksi dan tidak bernegara saat operasi pencegatan maritim di Samudra Hindia dalam foto yang dikeluarkan pada 23 April 2026. [X/Departemen Perang AS]

Oleh Zarak Khan |

Amerika Serikat meningkatkan operasi razia maritim guna membongkar jaringan penyelundupan ilegal Iran, mencegat tanker minyak dan kapal kargo sebagai bagian dari upaya berisiko tinggi untuk menegakkan hukum internasional dan melindungi keamanan energi global.

Pasukan militer AS "melakukan pencegatan maritim dan pemeriksaan terhadap kapal tidak bernegara yang dikenai sanksi, M/T Majestic X, yang mengangkut minyak dari Iran, di Samudra Hindia," kata Departemen Perang AS dalam pernyataan tanggal 23 April.

Pernyataan yang diunggah di X itu juga menyertakan rekaman video helikopter terbang di atas kapal tanker besar.

Kapal Majestic X dimasukkan ke daftar sanksi Iran oleh Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) AS pada Desember 2024 karena terlibat dalam pengangkutan minyak Iran sebagai bagian dari armada Vision Ship Management, dilaporkan oleh Seatrade Maritime News pada 23 April.

Helikopter militer AS terbang di atas tanker M/T Majestic X yang dikenai sanksi dan tidak bernegara saat operasi pencegatan maritim di Samudra Hindia dalam foto yang dikeluarkan pada 23 April 2026. [X/Departemen Perang AS]
Helikopter militer AS terbang di atas tanker M/T Majestic X yang dikenai sanksi dan tidak bernegara saat operasi pencegatan maritim di Samudra Hindia dalam foto yang dikeluarkan pada 23 April 2026. [X/Departemen Perang AS]

Penangkapan di Samudra Hindia

Operasi pencegatan M/T Majestic X merupakan tindakan terbaru dari serangkaian razia agresif AS yang bertujuan membongkar armada bayangan Teheran dan mendukung blokade laut yang telah berhasil menghalangi puluhan kapal hendak menghindari sanksi internasional.

Pada 21 April, SEAL Angkatan Laut AS menangkap tanker lain terkait dengan Iran yang dikenai sanksi, M/T Tifani, di Samudra Hindia, setelah Pentagon menyatakan kapal itu membawa minyak dari Iran.

Lokasi penyitaan Majestic X sangat dekat dengan tempat pencegatan Tifani, yang menunjukkan area konsentrasi kegiatan razia maritim di Samudra Hindia.

Pencegatan ini dilaksanakan di dalam wilayah tanggung jawab Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM).

Kapal perusak Angkatan Laut AS juga mengawal sedikitnya dua kapal tanker Iran lainnya, Dorena dan Sevin, yang meninggalkan pelabuhan Chabahar di Iran sebelum blokade AS terhadap pelabuhan Iran dimulai pada 13 April, demikian dilaporkan New York Times mengutip pejabat militer AS pada 21 April.

Taktik armada bayangan

Kebijakan sanksi AS sejak lama membidik ekspor minyak yang menjadi sumber pendapatan utama bagi Teheran, khususnya pihak yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan afiliasinya, Pasukan Quds.

Pejabat AS mengatakan upaya pencegatan itu menyingkap pola praktik penipuan yang digunakan Iran, termasuk "menyamarkan asal-usul minyak menggunakan transfer antarkapal, dokumen palsu, dan cara-cara lainnya."

Minyak dan bahan bakar yang dikenai sanksi sering "dijual dengan diskon besar karena berisiko, lewat perantara melalui struktur kepemilikan yang rumit, dokumen palsu, dan transfer di tengah laut yang mempersulit penegakan hukum," demikian laporan Reuters pada 16 Februari.

Dalam analisis 2021, Middle East Institute memperingatkan bahwa Iran memanfaatkan jalur pelayaran yang padat di Teluk serta jaringan fasilitas produksi dan pusat perdagangan yang pelik untuk "mengaburkan dan menyembunyikan asal-usul minyaknya, sehingga dapat menjual minyak mentah ke pembeli di Tiongkok, Suriah, Venezuela, dan tempat lain" melalui berbagai taktik penghindaran sanksi.

Operasi ini dilakukan seiring Washington memblokade perdagangan Iran untuk melawan agresi regional Teheran, termasuk insiden penembakan kapal dagang baru-baru ini oleh pasukan Iran untuk mencegah transit melalui Selat Hormuz yang sangat penting.

Penutupan jalur pelayaran oleh Iran memicu krisis energi global akibat terganggunya seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Tindakan global bersama sekutu

Militer AS mengatakan pada 23 April bahwa pencegatan kapal tidak bernegara yang digunakan oleh Iran adalah bagian dari "razia maritim global guna mengacaukan jaringan ilegal dan mencegat kapal yang memberikan dukungan nyata kepada Iran, di mana pun mereka beroperasi."

"Perairan internasional tidak boleh dijadikan tameng oleh pihak yang dikenai sanksi," demikian pernyataannya.

Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) memberikan wewenang yang jelas untuk "hak memeriksa", yang mengizinkan kapal perang menaiki kapal di laut lepas apabila ada alasan wajar untuk mencurigai bahwa kapal itu tidak bernegara.

Sejak dimulainya blokade pada 13 April, pasukan AS telah menghadang lebih dari 30 kapal yang berusaha menghindari blokade tersebut.

AS sebelumnya menyita beberapa kapal tanker yang membawa minyak ilegal dari Venezuela setelah penggerebekan komando AS di sana pada bulan Januari yang menangkap Nicolás Maduro, presiden saat itu.

Amerika Serikat tidak sendirian dalam upaya ini.

Sekutu seperti Penjaga Pantai India juga menangkap tiga tanker terkait dengan Iran yang dikenai sanksi AS, memperkuat koalisi internasional untuk stabilitas maritim, Reuters melaporkan pada 16 Februari.

Di tempat lain, militer AS melakukan operasi kebebasan navigasi (FONOP) tingkat tinggi di Laut Tiongkok Selatan, sebagai tanggapan atas, yang disebut oleh para pejabat dan analis, maraknya aksi koersi Tiongkok yang meningkatkan ketegangan di salah satu koridor maritim tersibuk di dunia.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link