Oleh AFP dan Focus |
BEIJING -- Presiden Tiongkok Xi Jinping memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa kesalahan penanganan isu Taiwan dapat mendorong kedua negara menuju “konflik,” dalam pembukaan yang tegas saat keduanya menggelar pertemuan tingkat tinggi di Beijing.
Trump tiba di Tiongkok pada malam hari tanggal 13 Mei dan mengundang Xi untuk berkunjung ke Gedung Putih pada September mendatang. Pembicaraan pada 14 Mei berlangsung selama dua jam 15 menit.
Xi dengan cepat menyoroti isu Taiwan -- yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya -- dan mengatakan kedua pihak “harus menjadi mitra, bukan rival.”
“Masalah Taiwan adalah isu paling penting dalam hubungan Tiongkok-AS,” kata Xi, menurut pernyataan yang dipublikasikan media pemerintah Tiongkok tak lama setelah pertemuan dimulai.
![Para pejalan kaki mengambil foto saat iring-iringan mobil kepresidenan AS menuju bandara di Beijing, 15 Mei. [Greg Baker/AFP]](/gc9/images/2026/05/15/56163-3-370_237.webp)
![Sebuah program berita televisi di sebuah restoran di Taipei pada 14 Mei menampilkan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing. Kedua negara harus menjadi 'mitra dan bukan rival,' ujar Xi dalam pembicaraan di Beijing, 14 Mei. [I-Hwa Cheng/AFP]](/gc9/images/2026/05/15/56161-afp__20260514__b2tf3a6__v2__highres__taiwanchinausdiplomacy-370_237.webp)
“Jika salah ditangani, kedua negara dapat bersinggungan atau bahkan terjerumus ke dalam konflik, yang akan mendorong seluruh hubungan Tiongkok-AS ke situasi yang sangat berbahaya,” tambahnya.
Peringatan "tanpa basa-basi"
Amerika Serikat hanya mengakui Beijing secara diplomatik, tetapi berdasarkan hukum AS, Washington diwajibkan menyediakan persenjataan kepada pulau demokratis yang berpemerintahan mandiri tersebut demi pertahanannya. Tiongkok telah bersumpah akan membawa Taiwan di bawah kendalinya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, seraya meningkatkan tekanan militer dalam beberapa tahun terakhir.
Adam Ni, editor buletin China Neican, mengatakan kepada AFP bahwa meskipun “bahasa blak-blakan” Xi bukan hal yang jarang muncul di media negara-partai Tiongkok, pernyataan seperti itu tidak biasa disampaikan langsung oleh Xi sendiri.
Tiongkok telah "memberikan sinyal keinginan agar AS berkompromi terkait Taiwan," ujar Chong Ja Ian dari National University of Singapore kepada AFP. Tuntutan Xi ini dapat mengindikasikan "Beijing melihat adanya peluang untuk meyakinkan Trump," katanya.
Sebagai tanggapan, Taipei menyebut Tiongkok sebagai “satu-satunya risiko” bagi perdamaian regional dan menegaskan “pihak AS telah berulang kali menegaskan dukungan yang jelas dan tegas.”
Tidak ada perubahan kebijakan terkait Taiwan
Washington tidak memberikan indikasi adanya perubahan terhadap posisi lamanya terkait Taiwan.
Setelah kedua pihak kembali menegaskan posisi masing-masing, pembicaraan berlanjut dengan “pemahaman bersama yang jelas” mengenai sikap masing-masing pihak, kata seorang pejabat senior pemerintahan kepada CBS News.
Kebijakan Washington tetap tidak berubah, tegas Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
"Kebijakan ini cukup konsisten di berbagai era pemerintahan presiden, dan tetap konsisten saat ini," kata Rubio kepada NBC News.
“Setiap perubahan yang dipaksakan pada status quo” terkait Taiwan “akan berdampak buruk bagi kedua negara,” ujarnya.
Penjualan senjata AS ke Taiwan "tidak menjadi fokus utama" dalam pembicaraan KTT pada 14 Mei, tambahnya.
AS dinilai kecil kemungkinan tekan Tiongkok soal Iran
Sebelum perjalanan tersebut, Trump mengatakan dirinya berencana membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi. Pernyataan itu memicu spekulasi bahwa Washington dapat menggunakan isu tersebut untuk mendorong Beijing agar mendesak Iran menerima kesepakatan guna mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, Ryan Hass, seorang analis Tiongkok dan Taiwan di Brookings Institution di Washington, menepis kemungkinan tersebut.
“Lebih mungkin kedua pemimpin akan menegaskan kepentingan bersama mereka dalam menstabilkan hubungan dan menggunakan kesepakatan ekonomi serta komersial untuk menunjukkan kemajuan,” tulisnya di media sosial.
Beijing dan Washington "belum memiliki konsensus" mengenai isu penjualan senjata, kata Tzeng Wei-feng dari Institut Hubungan Internasional di National Chengchi University di Taipei kepada AFP.
Kekhawatiran soal hak asasi manusia
Trump juga mengangkat kasus Jimmy Lai, taipan media Hong Kong yang dipenjara, dalam pembicaraan dengan Xi, kata Rubio.
“Presiden selalu menyinggung kasus itu,” kata Rubio, seraya menambahkan Washington berharap ada “tanggapan positif.”
Di pesawat Air Force One pada 15 Mei, Trump mengatakan dirinya juga menanyakan soal pendeta Tiongkok yang dipenjara, Jin Mingri.
![Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, 15 Mei. [Evan Vucci/Pool/AFP]](/gc9/images/2026/05/15/56159-afp__20260515__b2wl3ug__v1__highres__chinausdiplomacy-370_237.webp)