Diplomasi

Negara-negara Eropa perluas peran di Indo-Pasifik seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap Tiongkok

Kemitraan baru, proyek pertahanan, dan pengerahan angkatan laut semakin mengaitkan kepentingan keamanan Eropa dengan kawasan Indo-Pasifik.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (kiri) menanam pohon bersama Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) di Roma pada 20 Mei, saat kedua pemimpin menggelar pembicaraan yang berfokus pada penguatan kerja sama India-Italia. [Alberto Pizzoli/AFP]
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (kiri) menanam pohon bersama Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) di Roma pada 20 Mei, saat kedua pemimpin menggelar pembicaraan yang berfokus pada penguatan kerja sama India-Italia. [Alberto Pizzoli/AFP]

Oleh Zarak Khan |

Italia tengah memperkuat kehadirannya di Indo-Pasifik setelah meninggalkan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) milik Beijing, mencerminkan upaya Eropa yang lebih luas untuk menandingi meningkatnya pengaruh militer dan keunggulan ekonomi Tiongkok.

BRI merupakan upaya yang didanai Tiongkok untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur asing guna memfasilitasi ekspor bahan mentah ke Tiongkok.

Didorong oleh kekhawatiran atas kendali Beijing terhadap rantai pasok strategis serta perluasan pengaruh regionalnya, negara-negara Eropa termasuk Italia, Prancis, Jerman, dan Britania Raya semakin bergerak melampaui keterlibatan berbasis perdagangan menuju keterlibatan militer, diplomatik, dan keamanan yang lebih kuat di Asia.

Bagi Roma dan sekutunya, Indo-Pasifik telah berubah dari sekadar pasar komersial menjadi arena keamanan yang krusial.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi setelah pertemuan di Roma pada 15 Juni. [Andreas Solaro/AFP]
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi setelah pertemuan di Roma pada 15 Juni. [Andreas Solaro/AFP]

Upaya Italia

Aktivitas diplomatik Italia baru-baru ini mencerminkan skala transformasi tersebut.

Pada pertengahan Juni, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bertemu Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni di Roma, di mana kedua pemimpin sepakat untuk memajukan “pengembangan bersama jet tempur generasi berikutnya” dalam kemitraan dengan Britania Raya.

Mereka berkomitmen untuk menjalin kerja sama yang lebih erat dalam keamanan ekonomi, termasuk upaya memperkuat rantai pasok mineral tanah jarang dan mineral kritis lainnya.

Kedua pemimpin membahas strategi Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka yang telah diperbarui dan diumumkan oleh Jepang pada bulan Mei. Strategi tersebut bertujuan memperkuat keamanan maritim, melindungi kebebasan navigasi, serta menegakkan tatanan berbasis aturan di tengah kekhawatiran atas meningkatnya sikap asertif Tiongkok di kawasan.

Awal Juni lalu, Meloni menjamu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, dengan kedua pihak mengumumkan peningkatan hubungan Italia–Korea Selatan menjadi kemitraan strategis khusus.

Kedua pihak berkomitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang teknologi maju, industri, keamanan, dan kebijakan ekonomi, sekaligus menegaskan kembali dukungan bagi stabilitas Indo-Pasifik dan upaya menjaga jalur laut utama, termasuk melalui Selat Hormuz.

Kemitraan baru ini memperluas kerja sama lintas teknologi, industri, keamanan, dan kebijakan ekonomi, sekaligus menegaskan kembali dukungan bagi stabilitas Indo-Pasifik serta perlindungan jalur laut utama, termasuk Selat Hormuz.

India juga muncul sebagai pilar lain dalam strategi Indo-Pasifik Italia.

Dalam kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Roma pada bulan Mei, kedua negara meningkatkan hubungan menjadi kemitraan strategis khusus.

Menurut pernyataan bersama, mereka akan mengadopsi Peta Jalan Industri Pertahanan yang mendorong produksi bersama dan kolaborasi teknologi untuk helikopter, platform angkatan laut, dan sistem peperangan elektronik.

Kesepakatan tersebut meluncurkan Dialog Keamanan Maritim untuk melindungi jalur laut strategis dari gangguan sepihak, serta kerja sama dalam mineral kritis dan pendanaan kontra-terorisme.

Parlemen Italia baru-baru ini menyetujui dekret yang mengizinkan transfer kapal induk Giuseppe Garibaldi yang telah dipensiunkan ke Indonesia, menurut laporan dari Il Sole 24 Ore.

Selain mengurangi biaya pemeliharaan dan pembuangan, langkah ini ditujukan untuk memperkuat kemitraan industri dan militer Italia di Indo-Pasifik serta menciptakan peluang kontrak pertahanan di masa depan bagi perusahaan Italia, menurut laporan tersebut.

Perubahan strategis

Perubahan arah Italia ini signifikan. Sebagai satu-satunya negara G7 yang bergabung dengan BRI Tiongkok pada tahun 2019, Roma menarik diri pada tahun 2023 setelah manfaat ekonomi yang diharapkan tidak terwujud.

Menurut para analis, aktivitas diplomatik dan pertahanan terbaru Italia mungkin tampak tidak berkaitan jika dilihat secara terpisah. Namun, jika dilihat secara keseluruhan, langkah-langkah tersebut menunjukkan tren strategis yang lebih luas.

Jika digabungkan, berbagai inisiatif ini menunjukkan “keterlibatan Italia di Indo-Pasifik menjadi semakin terstruktur, teratur, dan strategis,” menurut Decode39, media berita dan geopolitik Italia.

Reposisi Italia ini mencerminkan tren yang lebih luas di Eropa.

Tanggapan Eropa

Prancis tetap menjadi aktor militer paling mapan di Eropa di Indo-Pasifik dan semakin melihat kawasan tersebut sebagai pusat “persaingan antar sejumlah kekuatan besar, meningkatnya sikap asertif Tiongkok, dan ketegangan perdagangan yang kuat,” menurut Strategi Indo-Pasifik 2025 Prancis.

Strategi tersebut mengidentifikasi tiga prioritas utama: membela hukum internasional, khususnya Konvensi PBB tentang Hukum Laut; melindungi kebebasan navigasi dan penerbangan; serta menegakkan tatanan berbasis aturan yang tahan terhadap pemaksaan, menurut Benjamin Blandin, seorang peneliti non-residen di Institut Strategi Maritim Korea.

Paris memandang penolakan Tiongkok terhadap putusan arbitrase Laut Tiongkok Selatan tahun 2016 “dengan sangat pesimistis dan, oleh karenanya, mengandalkan kehadiran militer dan diplomasi sebagai alat utama untuk mencegah eskalasi dalam sengketa Laut Tiongkok Selatan," tulis Blandin dalam sebuah analisis yang diterbitkan awal tahun ini.

Putusan arbitrase tersebut membatalkan klaim Tiongkok atas lebih dari 80% wilayah Laut Tiongkok Selatan.

Britania Raya telah meningkatkan kehadirannya dengan signifikan melalui pengerahan Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy), termasuk gugus tugas kapal induk yang beroperasi di seluruh Indo-Pasifik.

London juga memperkuat kerja sama keamanan dengan Australia dan Jepang serta menjadi pilar utama dalam kemitraan keamanan AUKUS.

Jerman semakin mengadopsi strategi Indo-Pasifik yang berfokus pada keamanan maritim, kerja sama pertahanan, dan pengurangan ketergantungan ekonomi pada Tiongkok.

Awal tahun ini, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengunjungi Singapura, Selandia Baru, Tonga, Australia, dan Brunei dalam upaya memperkuat keterlibatan Jerman dengan ASEAN dan negara-negara kepulauan Pasifik.

Berlin telah mengirimkan beberapa kapal Angkatan Laut ke kawasan tersebut dan memperluas keterlibatan strategis dengan sejumlah mitra termasuk India, Jepang, Australia, dan Korea Selatan.

Sebuah fregat Angkatan Laut Belanda baru-baru ini berkunjung ke Manila, menandai semakin kuatnya keterlibatan keamanan Belanda di kawasan Indo-Pasifik serta tumbuhnya ketertarikan untuk memperluas kerja sama pertahanan dengan Filipina di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan.

Secara keseluruhan, inisiatif ini menegaskan pergeseran mendasar dalam cara berpikir Eropa.

“Bagi Uni Eropa, Indo-Pasifik tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran,” kata Modern Diplomacy dalam analisis yang diterbitkan pada bulan Juni.

Sebaliknya, kawasan tersebut telah menjadi arena ekonomi dan strategis yang krusial, di mana Eropa berupaya “menyeimbangkan kepentingannya dan menghadapi meningkatnya dampak regional Tiongkok.”

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link