Oleh AFP |
SYDNEY, Australia -- Negara-negara kepulauan Pasifik mengecam uji coba rudal balistik terbaru Tiongkok karena mereka mengatakan rudal tersebut mendarat di jantung "benua biru" yang mereka miliki bersama, menurut para politisi dan analis kepada AFP.
Bahkan negara-negara Pasifik yang memiliki utang kepada Beijing ikut mengkritik uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam oleh Tiongkok pada 6 Juli, yang menjangkau jauh ke Samudra Pasifik.
Istilah "benua biru" digunakan oleh negara-negara kepulauan Pasifik untuk menggambarkan tanah air bersama serta tanggung jawab bersama dalam mengelola lautan.
Rudal berkemampuan nuklir yang dilengkapi dengan hulu ledak tiruan tersebut mendarat di suatu tempat di antara Nauru, Tuvalu, dan Kepulauan Solomon, menurut para pemantau dan pejabat Pasifik.
![Presiden Palau Surangel Whipps Jr. berbicara pada upacara pembukaan Kongres Konservasi Dunia Uni Internasional untuk Konservasi Alam di Abu Dhabi pada 9 Oktober lalu. Whipps, yang akan menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik pada bulan Agustus, mengatakan uji coba rudal terbaru Tiongkok jatuh "tepat di antara ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) kami" di jantung Samudra Pasifik. [Fadel Senna/AFP]](/gc9/images/2026/07/13/56991-afp__20251009__788m7kr__v1__highres__uaeenvironementclimateiucn-370_237.webp)
Titik pendaratan yang dilaporkan berada di tengah-tengah kepulauan Pasifik, di salah satu dari sedikit kawasan di antara pulau-pulau tersebut yang bukan merupakan bagian dari Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Tiongkok mengatakan uji coba rudal tersebut "tidak ditujukan ke negara mana pun" dan tidak melanggar hukum internasional.
Namun Presiden Palau Surangel Whipps, yang akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan para pemimpin Pasifik pada bulan Agustus, mengatakan rudal itu jatuh "tepat di antara ZEE kami."
"Kami mendapati rudal-rudal yang masuk tepat ke jantung Pasifik tanpa pemberitahuan," katanya dalam wawancara dengan AFP.
Utusan Tiongkok untuk Pasifik beberapa hari sebelumnya telah bertemu dengan Forum Kepulauan Pasifik, setelah Beijing menyumbangkan US$1 juta kepada blok regional tersebut, tetapi tidak menyebutkan sama sekali mengenai uji coba yang akan segera dilakukan.
Ke-18 anggota forum tersebut memandang diri mereka sebagai penjaga 20% dari permukaan bumi, yang secara bersama-sama mengelola perikanan dan memerangi perubahan iklim, di dalam gabungan ZEE yang mencakup 25 juta kilometer persegi (10 juta mil persegi).
Rudal tersebut tampaknya mendarat di sebuah "koridor perairan internasional yang sempit" di antara ZEE pulau-pulau di sekitarnya, kata Direktur Program Kepulauan Pasifik di Lowy Institute, Oliver Nobetau.
"Mengapa uji coba itu tidak dilakukan di bagian utara Samudra Pasifik, di mana terdapat bentangan perairan internasional yang luas?" katanya.
'Jalinan kehidupan'
Sekitar selusin negara Pasifik telah memprotes uji coba rudal tersebut, termasuk negara-negara kecil yang meminjam dana dari Tiongkok untuk pembangunan infrastruktur mereka, serta mitra keamanan Pasifik terdekat Tiongkok, yakni Kepulauan Solomon.
Pakar hukum maritim internasional Donald Rothwell mengatakan bahwa meskipun ZEE yang luas memberikan negara-negara kepulauan kendali atas sumber daya laut dan patroli penjaga pantai, aturan tersebut tidak melarang uji coba rudal.
Ruth Cross Kwansing, seorang menteri pemerintah Kiribati, mengatakan konsep "benua Pasifik biru" sangat mendasar bagi kawasan tersebut dan menjadi pemicu kemarahan ini.
"Apa pun yang terjadi di bagian mana pun dari lautan ini akan bergaung kepada kita semua," katanya kepada AFP.
"Anda harus mengubah cara pandang: dari peta yang menunjukkan pulau-pulau yang tersebar dan terisolasi, menjadi pandangan bahwa lautan itu sendiri adalah jalinan kehidupan yang menyatukan kita semua," katanya.
"Laut kami bukanlah ruang kosong atau zona penyangga di antara kekuatan global—laut adalah warisan kami, sumber penghidupan kami, dan identitas kami sebagai penjaga lautan."
Anna Naupa, seorang pakar keamanan Pasifik di Universitas Nasional Australia, mengatakan bahwa meskipun sejarah kolonial telah memecah-belah wilayah Pasifik, gagasan tentang benua Pasifik yang bersambung kembali muncul seiring dengan semakin kuatnya suara kolektif negara-negara kepulauan dalam isu perubahan iklim.
"Keresahan Pasifik sejalan dengan upaya mempertahankan prinsip Samudra Damai," kata Naupa, merujuk pada deklarasi yang dibuat para pemimpin tahun lalu agar kawasan tersebut tetap bebas dari uji coba senjata nuklir.
Ia menambahkan bahwa pemberitahuan singkat mengenai uji coba yang diberikan Tiongkok hanya kepada segelintir negara dipandang sebagai tindakan yang tidak sopan.
'Masih dihantui'
Perdana Menteri Papua Nugini James Marape mengatakan pada 6 Juli bahwa uji coba tersebut harus menjadi "uji coba rudal terakhir yang dilakukan di perairan Pasifik," sebuah pesan yang ditujukan bukan hanya kepada Tiongkok tetapi juga kepada seluruh kekuatan militer.
Amerika Serikat melakukan 67 ledakan nuklir di Kepulauan Marshall antara tahun 1946 hingga 1958, dan hingga kini masih melakukan uji coba rudal balistik di sana berdasarkan pakta pertahanan. Presiden Kepulauan Marshall Hilda Heine mengacu pada luka nuklir historis ini ketika mengkritik rudal Tiongkok.
Prancis dan Inggris melakukan uji coba nuklir di Pasifik sebelum tahun 1996.
Semua uji coba rudal di kawasan tersebut, termasuk yang dilakukan Tiongkok, akan dibahas dalam pertemuan para pemimpin Pasifik pada Agustus mendatang, kata Kwansing dari Kiribati.
Banyak negara kepulauan Pasifik "masih dihantui oleh kejadian Perang Dunia II yang berkecamuk di kawasan ini, serta dampak jangka panjang dari uji coba nuklir," kata Nobetau.
"Yang menimbulkan ketakutan di kalangan para pemimpin Pasifik adalah bahwa ini merupakan demonstrasi yang jelas dari jangkauan kapabilitas Tiongkok, sekaligus gambaran tentang seperti apa peperangan kinetik nantinya," katanya.
![Kendaraan militer membawa rudal balistik antarbenua DF-41 milik Tiongkok berkemampuan nuklir dalam sebuah parade di Beijing pada 1 Oktober 2019, untuk memperingati 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Negara-negara kepulauan Pasifik telah menyuarakan kekhawatiran atas meluasnya jangkauan rudal Beijing setelah sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam mendarat di perairan bersama di Samudra Pasifik dalam uji coba baru-baru ini. [Greg Baker/AFP]](/gc9/images/2026/07/13/56990-afp__20191011__1lb644__v1__highres__chinapoliticsanniversary-370_237.webp)