Diplomasi

Filipina protes video AI "rasis" Tiongkok yang gambarkan orang Filipina sebagai monyet

Video yang menghina itu, yang belum dihapus pada 21 Juli, meruncingkan hubungan Manila-Beijing menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi ke Manila untuk konferensi menlu ASEAN dan pembicaraan dengan mitranya dari Filipina.

Tangkapan layar dari video buatan AI China Daily yang diunggah pada 10 Juli di Facebook menggambarkan Filipina sebagai monyet dan disembur oleh meriam air Tiongkok. Manila mengecam video itu sebagai rasis dan mengajukan protes resmi.
Tangkapan layar dari video buatan AI China Daily yang diunggah pada 10 Juli di Facebook menggambarkan Filipina sebagai monyet dan disembur oleh meriam air Tiongkok. Manila mengecam video itu sebagai rasis dan mengajukan protes resmi.

Oleh Liz Lagniton |

Pemerintah Filipina mengajukan protes diplomatik resmi kepada Tiongkok atas video buatan AI surat kabar milik negara China Daily. Video itu menggambarkan orang Filipina sebagai monyet, membuat Manila mengecamnya sebagai "rasis" dan "merendahkan martabat". Pejabat menambahkan bahwa serangan yang "tidak dapat diterima" itu melampaui batas komentar politik, sudah propaganda.

China Daily mengunggah video AI berdurasi 58 detik itu di akun Facebook-nya pada 10 Juli, dua hari menjelang peringatan ke-10 putusan arbitrase Laut Tiongkok Selatan yang bersejarah pada 12 Juli 2016. Putusan Mahkamah Arbitrase Permanen itu menolak klaim Tiongkok atas lebih dari 80% laut tersebut.

Animasi video itu, yang belum dihapus pada 21 Juli, menggambarkan Filipina sebagai monyet yang mengenakan baju adat Filipina dan didikte oleh sosok yang melambangkan Amerika Serikat dan Jepang. Dalam video itu sang monyet dilempar ke laut dan disembur oleh meriam air dari kapal yang menyerupai kapal Penjaga Pantai Tiongkok sebagai ejekan terhadap putusan arbitrase 2016.

Wakil Menteri Luar Negeri Leo Herrera-Lim pertama menuntut penghapusan video itu kepada Duta Besar Tiongkok Jing Quan saat pertemuan 16 Juli, kata Departemen Luar Negeri (Department of Foreign Affairs – DFA) Manila. DFA mengajukan protes resmi esok harinya, sementara Kedutaan Filipina di Beijing meminta kepala editor China Daily untuk menghapusnya.

Menhan Filipina Gilberto Teodoro Jr. (tengah) memberi hormat saat upacara pengibaran bendera 12 Juli di Pulau Pag-asa yang menandai peringatan ke-10 putusan arbitrase Laut Tiongkok Selatan 2016. [Departemen Pertahanan Nasional Filipina]
Menhan Filipina Gilberto Teodoro Jr. (tengah) memberi hormat saat upacara pengibaran bendera 12 Juli di Pulau Pag-asa yang menandai peringatan ke-10 putusan arbitrase Laut Tiongkok Selatan 2016. [Departemen Pertahanan Nasional Filipina]

"Kami menolak keras penggambaran orang Filipina sebagai monyet dalam video 10 Juli, yang sangat menyinggung, meresahkan, dan tidak dapat diterima," kata DFA.

DFA mendesak Tiongkok menjunjung tinggi "martabat, kehormatan, dan kebenaran dalam wacana publik."

Beijing menjauhkan diri

Video itu tidak mewakili sikap Pemerintah Tiongkok, kata Lin Jian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, setelah menerima protes. Namun, dia menekankan kembali penolakan Beijing atas putusan 2016 yang menolak klaim Tiongkok.

Dua hari kemudian, Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. menolak penjelasan Beijing.

"China Daily disponsori negara, dan tidak ada yang keluar dari Tiongkok tanpa izin pemerintah mereka," ujarnya dalam bahasa Tagalog di forum pertahanan di Batac, Ilocos Norte.

"Propaganda tercela" itu memvalidasi kebijakan tetap Manila untuk menghindari keterlibatan pertahanan tingkat menteri dan Angkatan Bersenjata Filipina dengan Partai Komunis Tiongkok beserta lembaga-lembaganya, kata Teodoro sebelumnya.

Marcos meningkatkan tekanan

Presiden Ferdinand Marcos Jr. juga menyampaikan kecaman serupa, demikian pernyataan kantor kepresidenan pada 20 Juli.

Marcos menganggap video itu tidak dapat diterima, kata Claire Castro, juru bicara kepresidenan. Tidak satu pun orang Filipina menerima digambarkan sebagai seekor monyet, kata Castro dalam bahasa Tagalog.

Percekcokan ini terjadi menjelang kedatangan Menlu Tiongkok Wang Yi di Manila untuk pertemuan menlu ASEAN. Menlu Filipina Ma. Theresa Lazaro diperkirakan akan berdiskusi dengan Wang di sela-sela pertemuan, kata Dominic Xavier Imperial, juru bicara DFA.

Khalayak muak, menuntut permintaan maaf

Pejabat Filipina lainnya juga menyuarakan kemuakan mereka.

"Karikatur rasis dan narasi buatan tidak dapat menghapus fakta hukum," ucap Penasihat Keamanan Eduardo Oban Jr. "Hal itu hanya memperlihatkan ketiadaan balasan hukum yang kredibel [terhadap putusan 2016]."

Video itu intinya "rasisme terang-terangan dan ejekan terhadap hukum internasional," kata Jay Tarriela, juru bicara Penjaga Pantai Filipina untuk Laut Filipina Barat.

"Orang Filipina bukan monyet!" bunyi cuitannya.

Gambaran itu lebih mencerminkan Beijing ketimbang Filipina, kata Senator Panfilo Lacson.

"Jika mereka menganggap orang Filipina sebagai monyet, lalu perilaku dan watak mereka mirip apa?" ujarnya dalam bahasa Tagalog, sembari mendesak Filipina untuk memperkuat perekonomian dan postur pertahanannya.

"Pemerintah Tiongkok harus meminta maaf kepada rakyat Filipina" atas "tindakan yang sangat rasis ini," kata Senator Risa Hontiveros.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link