Oleh AFP dan Focus |
Sebuah kapal perang AS mengunjungi pelabuhan di pangkalan Angkatan Laut Kamboja untuk pertama kalinya sejak fasilitas tersebut direnovasi oleh Tiongkok, renovasi yang sebelumnya menimbulkan kekhawatiran di Washington.
Amerika Serikat menyatakan Pangkalan Angkatan Laut Ream, yang terletak di lepas pantai selatan Kamboja, berpotensi memberi Tiongkok posisi strategis penting di Teluk Thailand, dekat wilayah sengketa Laut Tiongkok Selatan, dan hampir seluruhnya diklaim Beijing.
Kunjungan pelabuhan bersejarah
Kapal tempur litoral USS Cincinnati (LCS-20) bersandar pada 24 Januari di salah satu dermaga pangkalan, sekitar 150 meter dari sepasang kapal perang Tiongkok.
“Merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi kami dapat berada di sini sebagai kapal Angkatan Laut AS pertama yang bersandar di Pangkalan Angkatan Laut Ream, dan kami berharap ini menjadi awal dari tradisi serta persahabatan jangka panjang,” ujar Komandan kapal Andrew J. Recame kepada wartawan.
![Personel Angkatan Laut Kamboja berbaris menyambut kedatangan kapal tempur litoral Angkatan Laut AS USS Cincinnati (LCS-20) untuk kunjungan pelabuhan di Pangkalan Angkatan Laut Ream, Provinsi Preah Sihanouk, Kamboja, 24 Januari. [Suy Se/AFP]](/gc9/images/2026/01/28/54077-afp__20260124__93uz4nr__v1__highres__cambodiausdefence-370_237.webp)
Pangkalan Ream menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kunjungan Amerika Serikat selama lima hari tersebut akan “mendorong kerja sama antara kedua negara” serta menunjukkan “komitmen Kamboja untuk menerapkan kebijakan yang terbuka, transparan, dan kerja sama dengan mitra internasional.”
Pernyataan tersebut juga menyebutkan kunjungan itu mencakup interaksi mengenai keamanan maritim dan koordinasi operasional guna memperkuat hubungan militer kedua negara.
Sekitar 100 awak USS Cincinnati mengikuti berbagai kegiatan dengan pasukan Kamboja selama kunjungan tersebut, termasuk pertandingan persahabatan sepak bola, menurut laporan media lokal.
Kecurigaan terhadap Tiongkok
Para pemimpin Kamboja berulang kali membantah pangkalan tersebut digunakan oleh satu kekuatan asing tertentu, menyusul laporan media AS pada tahun 2022 yang menyebutkan fasilitas baru di Ream—pangkalan yang awalnya dibangun sebagian dengan dana AS—akan digunakan secara eksklusif oleh Angkatan Laut Tiongkok.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet bersama delegasi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok meresmikan pangkalan yang telah direnovasi tersebut pada April lalu.
Hun Manet menegaskan fasilitas baru yang telah diperbarui itu tidak akan digunakan secara “eksklusif” oleh Beijing, seraya mengatakan kapal dari negara lain juga diperbolehkan bersandar di sana.
Dua pekan setelah peresmiannya, dua kapal perang Jepang menjadi kapal pertama yang bersandar di pangkalan tersebut.
Sejak tahun 2022, Beijing turut berkontribusi dalam proyek renovasi pangkalan Ream.
Kekhawatiran negara-negara Barat terhadap pangkalan ini telah muncul sejak tahun 2019, ketika Wall Street Journal melaporkan adanya draf kesepakatan rahasia yang memungkinkan Tiongkok menambatkan kapal perang di sana.
Pada akhir tahun 2023, kapal perang Tiongkok untuk pertama kalinya bersandar di dermaga sepanjang 363 meter di satu-satunya garis pantai Kamboja di bagian selatan negara itu, yang terletak di antara Thailand dan Vietnam.
Sebuah kapal perang AS sebelumnya bersandar di pelabuhan komersial Sihanoukville pada Desember 2024—menandai kunjungan pelabuhan militer Amerika pertama di Kamboja dalam delapan tahun—saat kapal tempur litoral varian Independence USS Savannah (LCS-28) mengunjungi negara tersebut.
Dialog antara AS–Kamboja
Selama kunjungan kali ini, Laksamana Samuel Paparo, Komandan Komando Indo-Pasifik AS, naik ke USS Cincinnati dan mengadakan pembicaraan dengan Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha serta Panglima Angkatan Bersenjata Kamboja Vong Pisen, menurut pernyataan Angkatan Laut AS.
Pernyataan itu menyebutkan kunjungan tersebut menunjukkan pendalaman kerja sama dan perluasan persahabatan antara Angkatan Laut AS dan Kamboja, seraya menambahkan kedua negara “bekerja bahu-membahu untuk menegakkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.”
Kunjungan AS ke Kamboja dalam beberapa waktu terakhir, termasuk kunjungan pelabuhan USS Cincinnati, menjadi tanda kepercayaan terhadap kedaulatan Kamboja, kata Paparo.
“Sejak tahun 2006, telah tercatat 37 kunjungan pelabuhan ke Kamboja,” ujar Paparo. “Kami memiliki ambisi lebih dari sekadar kunjungan pelabuhan tahunan dan tengah bekerja bersama untuk meningkatkan jumlah kunjungan pelabuhan serta memperbanyak latihan maritim.”
“Bersama-sama, kami akan membangun kapabilitas dan interoperabilitas melalui semangat saling menghormati,” kata Paparo, seperti dikutip media Kamboja.
Amerika Serikat juga memberi sinyal minat untuk memperluas kerja sama militer dengan Kamboja, termasuk rencana menghidupkan kembali latihan militer gabungan Angkor Sentinel yang dihentikan Kamboja pada tahun 2017.
Kamboja telah lama menjadi salah satu sekutu terkuat Tiongkok di Asia Tenggara, dan Beijing telah memperluas pengaruhnya di Phnom Penh dalam beberapa tahun terakhir.
Di bawah kepemimpinan sebelumnya, Hun Sen—ayah Hun Manet—Tiongkok menggelontorkan miliaran dolar untuk proyek infrastruktur, sementara kunjungan Angkatan Laut AS belakangan ini menandai mencairnya hubungan antara Washington dan Phnom Penh.
![Kapal tempur litoral Angkatan Laut AS USS Cincinnati (LCS-20) tiba untuk kunjungan pelabuhan di Pangkalan Angkatan Laut Ream, Provinsi Preah Sihanouk, Kamboja, 24 Januari. [Suy Se/AFP]](/gc9/images/2026/01/28/54075-afp__20260124__93uy8g6__v1__highres__cambodiausdefence-370_237.webp)