Kapabilitas

Filipina gandeng Korea Selatan untuk perkuat sistem pertahanan

Manila mempertimbangkan pembelian frigat, kapal selam, dan jet tempur berkualitas tinggi buatan Seoul.

Kontrak Korea Aerospace Industries (KAI) untuk pengadaan 12 unit tambahan pesawat serang ringan FA-50PH bagi Filipina menjadi sorotan, terutama karena jadwal pengirimannya yang dinilai sangat cepat. [KAI]
Kontrak Korea Aerospace Industries (KAI) untuk pengadaan 12 unit tambahan pesawat serang ringan FA-50PH bagi Filipina menjadi sorotan, terutama karena jadwal pengirimannya yang dinilai sangat cepat. [KAI]

Oleh Focus |

Filipina beralih ke Korea Selatan untuk memperoleh berbagai aset pertahanan, sebagai bagian dari upaya modernisasi militer Manila di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan.

Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) tertarik pada tawaran Seoul yang mencakup peralatan berkualitas tinggi, ketepatan jadwal pengiriman, serta status Korea Selatan sebagai sekutu Amerika Serikat, lapor Korea JoongAng Daily pada 15 Januari.

Peralihan ini terjadi di tengah meningkatnya gesekan maritim. Kapal-kapal Filipina dan Tiongkok tercatat terlibat rata-rata “12,1 hari interaksi per bulan” antara bulan Agustus 2024 hingga Mei 2025, menurut temuan Asia Maritime Transparency Initiative.

Tiongkok mengklaim lebih dari 80 persen wilayah Laut Tiongkok Selatan sebagai wilayahnya, meskipun pengadilan internasional menolak klaim tersebut pada tahun 2016.

HD Hyundai Heavy Industries (HHI) memenangkan kontrak pembangunan dua frigat yang serupa dengan kapal perdana di kelasnya, BRP Miguel Malvar, yang terlihat saat menjalani uji coba laut di perairan lepas Ulsan, Korea Selatan. [HD HHI]
HD Hyundai Heavy Industries (HHI) memenangkan kontrak pembangunan dua frigat yang serupa dengan kapal perdana di kelasnya, BRP Miguel Malvar, yang terlihat saat menjalani uji coba laut di perairan lepas Ulsan, Korea Selatan. [HD HHI]

Lonjakan insiden di laut ini mempercepat pelaksanaan Re-Horizon 3, tahap akhir dari program modernisasi militer Filipina yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Dengan anggaran sebesar US$35 miliar, Re-Horizon 3 berfokus pada penguatan kemampuan pertahanan laut dan udara, seiring pergeseran fokus AFP dari keamanan internal ke pertahanan eksternal.

Mengamankan "rantai pulau pertama"

Peningkatan kekuatan ini sejalan dengan perubahan strategis kawasan. Strategi Keamanan Nasional Amerika Serikat 2025 menekankan pentingnya geopolitik "rantai pulau pertama" sebagai bagian dari upaya menangkal pengaruh regional Tiongkok.

Rantai tersebut mencakup Jepang, Taiwan, dan Filipina.

Strategi AS juga mendorong sekutu seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia untuk meningkatkan belanja pertahanan serta memperkuat kemampuan militer masing-masing dalam kerangka pembagian beban.

Opsi kemitraan Filipina–Korea Selatan

Untuk mendukung inisiatif tersebut, Undang-Undang Anggaran Umum 2026 yang ditandatangani Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. membuka ruang bagi “pengaturan pembiayaan asing dan domestik” guna mendukung pendanaan akuisisi sistem pertahanan canggih.

“Pemerintah Korea perlu mempertimbangkan berbagai skema agar negara-negara berkembang dapat memperoleh produk pertahanan buatan Korea dengan beban finansial yang lebih ringan,” ujar Jang Won-joon, analis pertahanan dari Jeonbuk National University di Jeonju, Korea Selatan, kepada Korea JoongAng Daily.

Menurutnya, Seoul juga dapat meringankan beban Manila dengan menawarkan skema “seperti langganan” yang membagi total biaya ke dalam pembayaran tahunan.

Sejak meluncurkan inisiatif modernisasi pertahanan Horizon tiga tahap pada tahun 2012, Manila menjalankan program tersebut untuk meningkatkan kemampuan militernya—baik guna mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga maupun merespons meningkatnya pelanggaran Beijing di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina—menurut laporan International Crisis Group yang diterbitkan Agustus lalu.

Angkatan Laut Filipina telah lama bermitra dengan pembuat kapal HD Hyundai Heavy Industries (HHI), yang hingga kini telah menyerahkan 10 kapal angkatan laut kepada armada tersebut. Baru-baru ini, HHI mengirimkan dua frigat kelas Miguel Malvar—BRP Miguel Malvar dan BRP Diego Silang—pada Mei dan Desember lalu.

Berdasarkan kontrak senilai US$578 juta dengan HHI yang ditandatangani pada Desember lalu, Angkatan Laut Filipina dijadwalkan menerima dua frigat tambahan pada 2029. Keberadaan pusat dukungan angkatan laut HHI di galangan Teluk Subic memungkinkan pemeliharaan, perbaikan, dan dukungan operasi dilakukan di dalam negeri, sehingga menekan biaya operasional sekaligus memperkuat keputusan Manila untuk terus membeli kapal buatan HHI. Perusahaan tersebut menyatakan pendekatannya tidak sekadar “menjual kapal sebagai produk terpisah, melainkan sebagai sistem terpadu” guna memastikan armada dapat beroperasi secara efektif, menurut Korea JoongAng Daily.

Potensi pembelian kapal selam dan jet tempur

Manila juga mempertimbangkan pembelian kapal selam pertamanya, dengan alokasi anggaran sekitar 110 miliar peso Filipina (US$1,9 miliar) untuk pembelian sedikitnya dua unit. Filipina tengah mengevaluasi penawaran dari Naval Group asal Prancis dan kontraktor Korea Selatan lainnya, Hanwha Ocean, sementara HHI menonjolkan rekam jejak kemitraannya dengan Angkatan Laut Filipina. Menurut HHI, penawarannya mengunggulkan integrasi sistem serta dukungan pemeliharaan yang lebih baik bagi armada yang sudah beroperasi.

Keberhasilan pesawat FA-50 buatan Korea dalam operasi kontra-terorisme Filipina telah mengangkat KF-21 Boramae—jet tempur supersonik berukuran lebih besar—sebagai kandidat utama dalam proyek pesawat tempur multiguna berikutnya bagi Filipina.

Manila telah meminta pengiriman KF-21 pada periode 2027–2029, jadwal yang berpotensi menjadikan Filipina sebagai salah satu pelanggan ekspor awal platform tersebut, lapor media Korea Selatan Reportera pada awal Januari.

KF-21 memiliki "keunggulan kompetitif dari segi harga dan kinerja" serta berpotensi "ditingkatkan agar kompatibel dengan teknologi siluman" di masa depan, sehingga menawarkan Manila kemampuan penangkal jangka panjang yang canggih, ujar analis NH Investment & Securities, Rhee Jae-kwang, kepada Korea JoongAng Daily.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link