Keamanan

Jepang klaim temukan logam tanah jarang dalam ekspedisi laut dalam

Pemerintah Jepang menyatakan kapal yang dikerahkan untuk menekan ketergantungan pada logam tanah jarang Tiongkok menemukan cadangan di kedalaman 6.000 meter. Jika penambangan berhasil, langkah ini dapat melemahkan salah satu senjata ekonomi utama Tiongkok.

Kapal pengeboran laut dalam Jepang, Chikyu, terlihat di Pelabuhan Shimizu, Prefektur Shizuoka, 11 September 2013. Pemerintah Jepang menyatakan pada 2 Februari bahwa misi uji coba berhasil mengambil sedimen yang mengandung logam tanah jarang dari kedalaman 6.000 meter, sebagai bagian upaya mengurangi ketergantungan pada Tiongkok. [Toshifumi Kitamura/AFP]
Kapal pengeboran laut dalam Jepang, Chikyu, terlihat di Pelabuhan Shimizu, Prefektur Shizuoka, 11 September 2013. Pemerintah Jepang menyatakan pada 2 Februari bahwa misi uji coba berhasil mengambil sedimen yang mengandung logam tanah jarang dari kedalaman 6.000 meter, sebagai bagian upaya mengurangi ketergantungan pada Tiongkok. [Toshifumi Kitamura/AFP]

Oleh AFP |

TOKYO -- Pemerintah Jepang menyatakan pada 2 Februari bahwa sedimen yang mengandung logam tanah jarang berhasil diambil dari kedalaman 6.000 meter dalam misi uji coba di laut, sebagai upaya Jepang untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok dalam memperoleh mineral berharga tersebut.

Menurut pemerintah Jepang, misi ini adalah percobaan pertama di dunia yang menargetkan pengambilan logam tanah jarang dari dasar laut sedalam itu.

“Hasil data akan dianalisis, termasuk jumlah pasti logam tanah jarang yang terkandung dalam sampel,” kata juru bicara pemerintah, Kei Sato, seraya menyebutnya “pencapaian yang bermakna, baik dari sisi keamanan ekonomi maupun pengembangan maritim secara menyeluruh.”

Sampel tersebut diambil oleh kapal pengeboran ilmiah laut dalam bernama Chikyu, yang berlayar pada Januari menuju pulau terpencil Minami Torishima di Samudra Pasifik, yang perairan sekitarnya diperkirakan mengandung cadangan mineral berharga yang melimpah.

Berita ini muncul saat Tiongkok — pemasok logam tanah jarang terbesar di dunia — meningkatkan tekanan terhadap negara tetangganya, menyusul pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November bahwa Tokyo mungkin akan merespons secara militer jika Taiwan diserang. Beijing bertekad akan merebut negara pulau demokratis itu dengan kekerasan jika perlu.

Tiongkok menghentikan ekspor barang “penggunaan ganda” dengan potensi penggunaan militer ke Jepang, memicu kekhawatiran di Negeri Sakura bahwa pasokan logam tanah jarang akan terganggu, mengingat beberapa logam itu masuk dalam daftar barang yang dibatasi oleh Tiongkok.

Logam tanah jarang — 17 jenis logam yang sulit diekstraksi dari kerak bumi — digunakan dalam berbagai produk, mulai dari kendaraan listrik hingga hard disk, turbin angin, dan rudal.

Perairan di sekitar Minami Torishima, yang termasuk wilayah ekonomi Jepang, diperkirakan menyimpan lebih dari 16 juta ton logam tanah jarang. Menurut harian bisnis Nikkei, angka ini menjadikannya cadangan logam tanah jarang terbesar ketiga di dunia.

Menurut harian bisnis Nikkei, cadangan yang melimpah ini diperkirakan cukup untuk menyediakan disprosium selama 730 tahun — logam yang digunakan pada magnet kekuatan tinggi di ponsel dan mobil listrik — serta itrium selama 780 tahun, yang dimanfaatkan dalam pembuatan laser.

Isu lingkungan

Para ahli lingkungan memperingatkan penambangan di laut dalam berpotensi merusak ekosistem laut sekaligus mengganggu kondisi dasar laut.

Otoritas Dasar Laut Internasional, lembaga yang mengawasi dasar laut di luar wilayah kedaulatan suatu negara, mendesak penggunaan aturan global guna mengatur kegiatan penambangan di laut dalam.

Namun, misi uji coba Jepang dilakukan di perairan teritorial Jepang.

“Jika Jepang dapat secara konsisten menambang logam tanah jarang di sekitar Minami Torishima, negara itu akan mengamankan rantai pasokan domestik untuk sejumlah industri penting,” kata Takahiro Kamisuna, peneliti di International Institute for Strategic Studies, kepada AFP.

“Selain itu, langkah ini akan menjadi aset strategis penting bagi pemerintah Takaichi dalam upaya memangkas ketergantungan rantai pasokan pada Tiongkok secara signifikan.”

Beijing telah lama memanfaatkan dominasinya dalam logam tanah jarang untuk mendapatkan keuntungan geopolitik, termasuk saat perang dagang dengan Amerika Serikat.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional, Tiongkok memproduksi hampir dua pertiga logam tanah jarang dunia dan menguasai 92% output olahan secara global.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link