Kapabilitas

Jepang dekati Australia terkait pasokan logam tanah jarang saat ketegangan dengan Tiongkok meningkat

Jepang pernah mengimpor 90% mineral kritis dari Tiongkok, tetapi sekarang hanya 70%. Mengimpor logam tanah jarang dari Australia akan memberikan pesan yang lebih tegas pada Beijing.

Bijih besi ditimbun untuk ekspor di Pelabuhan Hedland, Australia Barat, pusat utama pengiriman mineral Australia ke pasar internasional. [BHP Billiton/AFP]
Bijih besi ditimbun untuk ekspor di Pelabuhan Hedland, Australia Barat, pusat utama pengiriman mineral Australia ke pasar internasional. [BHP Billiton/AFP]

Oleh Focus |

Dengan tujuan yang sama yaitu mengurangi ketergantungan pada Tiongkok untuk bahan mentah yang diperlukan dalam teknologi masa kini, Jepang dan Australia telah menyatakan niat mereka untuk bekerja sama membangun rantai pasokan alternatif.

Ketegangan geopolitik saat ini dan pembatasan ekspor terbaru Beijing membuka peluang baru untuk kerja sama yang lebih erat, kata para analis.

Aliansi strategis

"Cadangan mineral kritis yang melimpah di Australia, beserta keahlian untuk mengekstraksi dan mengolahnya, menawarkan peluang ekonomi yang sangat berharga," kata Menteri Perdagangan dan Pariwisata Don Farrell dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan pada 4 Februari.

Selama pertemuan Menteri Mineral Kritis di Washington, DC, Australia memperkenalkan Prospektus Mineral Kritis baru, yang mencantumkan 49 tambang dan 29 proyek pengolahan menengah yang siap menarik investasi baru, bersama Jepang dan mitra lainnya dalam sebuah KTT yang dipimpin oleh AS.

Ekskavator memuat logam tanah jarang ke truk di pelabuhan Lianyungang, Jiangsu, Tiongkok, 4 November 2012. Dominasi Tiongkok dalam ekspor logam tanah jarang mendorong Jepang mencari pemasok baru, termasuk Australia. [Wang chun/Imaginechina via AFP]
Ekskavator memuat logam tanah jarang ke truk di pelabuhan Lianyungang, Jiangsu, Tiongkok, 4 November 2012. Dominasi Tiongkok dalam ekspor logam tanah jarang mendorong Jepang mencari pemasok baru, termasuk Australia. [Wang chun/Imaginechina via AFP]

Pada April lalu, Canberra mengumumkan cadangan senilai A$1,2 miliar (US$843 juta) mineral kritis yang rawan terhadap gangguan pasokan dari Tiongkok.

Kementerian Perdagangan dan Pariwisata menyatakan dalam pernyataan 12 Januari bahwa Cadangan Strategis Mineral Kritis awalnya memprioritaskan antimon, galium, dan logam tanah jarang.

Semua material ini digunakan di sektor energi bersih, manufaktur canggih, dan sistem pertahanan.

Selain itu, pemerintah membentuk Fasilitas Mineral Kritis senilai A$4 miliar (US$2,8 miliar), yang menyediakan pinjaman yang dijamin pemerintah serta dukungan ekuitas untuk berbagai proyek, serta Insentif Pajak Produksi Mineral Kritis yang menawarkan potongan pajak 10% yang dapat dikembalikan untuk pengolahan 31 mineral yang memenuhi syarat.

Melepaskan diri dari pengaruh Tiongkok

Pada 6 Januari, Beijing memberlakukan pembatasan ekspor baru terhadap produk terkait logam tanah jarang yang ditujukan kepada Jepang, termasuk yang tidak digunakan untuk keperluan militer.

Langkah ini umumnya dianggap sebagai balasan terhadap pernyataan yang dilontarkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu, yang menyiratkan serangan terhadap Taiwan bisa dianggap sebagai "ancaman eksistensial" bagi Jepang dan menjustifikasi respons militer.

Dengan latar belakang tersebut, Jepang tampaknya sangat antusias dengan rencana Australia, lapor Nikkei Asia pada 20 Januari.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan dalam sebuah unggahan di X (Twitter) bahwa cadangan strategis Canberra "bergerak dengan kecepatan penuh!"

Justin Hayhurst, mantan Duta Besar Australia untuk Jepang, mengatakan kepada Australian Financial Review pada 12 Januari bahwa Tokyo "berharap Australia dapat mengisi peran yang sebelumnya dijalankan Tiongkok dalam pasokan mineral kritis."

Dulu, 90% kebutuhan mineral kritis Jepang dipenuhi oleh Tiongkok. Namun, setelah perselisihan maritim tahun 2010 yang mengganggu pengiriman, Tokyo mulai mencari pemasok alternatif dan mengurangi ketergantungannya pada Tiongkok hingga sekitar 70% saja, lapor Nikkei Asia.

Upaya itu termasuk kolaborasi antara sektor publik, Japan Organization for Metals and Energy Security dengan Sojitz Corporation yang berbasis di Tokyo. Mereka berinvestasi di Lynas Rare Earths Australia, yang mengoperasikan tambang Mount Weld di Australia Barat dan memproses material di Malaysia. Sojitz mulai mengimpor logam tanah jarang dalam jumlah besar dari Lynas Oktober lalu.

Jaring pengaman

Tujuan dari aliansi yang dibentuk di Washington ini adalah untuk menjaga stabilitas pasar, salah satunya dengan kemungkinan penerapan batas harga minimum guna melindungi rantai pasokan yang baru berkembang dari guncangan eksternal.

Pernyataan bersama yang dirilis pada 4 Februari oleh Amerika Serikat, Komisi Eropa, dan Jepang menyebutkan para pihak "sedang mengambil langkah besar untuk meningkatkan keamanan ekonomi dan nasional mereka" dengan memperkuat ketahanan sektor mineral kritis.

Meskipun Tokyo baru-baru ini berhasil mengambil lumpur tanah jarang dari dasar laut dekat Pulau Minamitori, produksi komersial diperkirakan baru akan dimulai pada tahun 2030-an.

Mengakses cadangan strategis Australia merupakan langkah awal yang baik untuk mengurangi pengaruh Beijing terhadap pasokan, kata para analis.

"Cadangan, yang dapat diakses saat terjadi gangguan, bisa memberi waktu tambahan, mengurangi dampak dari gangguan tersebut, serta mencegah konsesi politik atau komersial yang ingin diraih Tiongkok dengan menggunakan senjata ini," kata Vlado Vivoda, seorang ahli di Sustainable Minerals Institute, University of Queensland di Brisbane, Australia, dalam wawancara dengan Nikkei Asia.

Bagi Jepang, kerja sama yang lebih erat dengan Australia menawarkan manfaat yang jelas, kata Ian Satchwell, afiliasi di Global Center for Mineral Security dan rekan senior di Australian Strategic Policy Institute.

"Manfaat komersialnya sangat nyata, karena kehilangan pasokan mineral kritis utama, yang sebagian besar berasal dari Tiongkok, akan menjadi ancaman besar bagi sektor manufaktur Jepang," ujarnya kepada Nikkei Asia.

Menurut Menteri Sumber Daya Australia, Madeleine King, keuntungan komersial bagi Australia akan tercapai seiring waktu, mengingat "tingginya kebutuhan akan rantai pasokan alternatif di berbagai negara."

"Proses ini akan menjadi jalan panjang, tidak ada keraguan tentang itu, karena ini adalah industri yang sangat menantang," kata King dalam konferensi pers pada 12 Januari. "Tidak akan ada peningkatan pendapatan dalam jangka pendek, tetapi saya yakin, saat kami mengubah dinamika pasar global ini, berdasarkan kemampuan dan standar kami, akan ada keuntungan bagi pembayar pajak Australia."

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link